Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

10 Puisi Hari Pendidikan Nasional Karya Sastrawan Indonesia

Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026 dapat diperingati dengan membaca puisi bertema pendidikan. Berikut kumpulan puisi untuk Hari Pendidikan Nasional.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in 10 Puisi Hari Pendidikan Nasional Karya Sastrawan Indonesia
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
EDUKASI ANTIKORUPSI - Murid-murid Sekolah Dasar (SD) mengikuti kegiatan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional di Gedung ACLC KPK, Jakarta Selatan, Jumat (2/5/2025). Pada kegiatan tersebut KPK menyelenggarakan edukasi antikorupsi kepada ratusan murid PAUD, SD dan SMP. -- Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026 dapat diperingati dengan membaca puisi bertema pendidikan. Berikut kumpulan puisi untuk Hari Pendidikan Nasional. 
Ringkasan Berita:
  • Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap 2 Mei, yaitu pada tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara, pelopor pendidikan Indonesia dan pendiri Taman Siswa.
  • Ia berjuang memajukan pendidikan melalui tulisan dan pemikiran hingga mendapat gelar Pahlawan Nasional.
  • Peringatan ini dapat diisi dengan membaca puisi bertema pendidikan seperti karya W.S. Rendra dan Taufiq Ismail.
  • Puisi-puisi tersebut menyoroti pentingnya pendidikan yang membentuk karakter, menghargai guru, dan dekat dengan kehidupan nyata.

TRIBUNNEWS.COM - Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) akan diperingati pada Sabtu, 2 Mei 2026.

Tanggal 2 Mei merupakan tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan di Indonesia.

Lahir pada tahun 1889, beliau diberi nama Raden Mas Soewardi Suryaningrat yang merupakan keluarga bangsawan Paku Alam di Yogyakarta.

Karena status sosialnya, Ki Hajar Dewantara mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, seperti ELS (Europeesche Lagere School), sebelum melanjutkan ke STOVIA, sekolah pendidikan calon dokter bagi pribumi.

Namun, karena kondisi kesehatan yang tidak mendukung, ia tidak dapat menyelesaikan pendidikannya di sana.

Beliau kemudian terjun ke dunia jurnalistik dan menulis untuk sejumlah surat kabar dan majalah seperti Sediotoomo, De Express, dan Oetoesan Hindia.

Setelah itu, perjuangan beliau untuk pendidikan Indonesia berlanjut hingga mendirikan Taman Siswa.

Rekomendasi Untuk Anda

Atas jasa-jasanya, Ki Hajar Dewantara menerima berbagai penghargaan, termasuk gelar doktor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1959, serta dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun yang sama.

Ia wafat pada 26 April 1959 dan dimakamkan di pemakaman keluarga Taman Siswa Wijaya Brata di Yogyakarta, seperti dikutip dari buku buku Ki Hajar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya oleh Museum Kebangkitan Nasional Kemdikbud.

Untuk mengenang perjuangan Ki Hajar Dewantara, Hari Pendidikan Nasional dapat diperingati dengan membaca puisi bertema pendidikan seperti berikut ini yang dikutip dari berbagai sumber.

Baca juga: Ucapan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026, Lengkap dengan Sejarah Perayaannya

Sajak Anak Muda

Karya: W.S. Rendra

Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh pendidikan
tanpa watak.

Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh pendidikan
yang tidak mengajarkan kejujuran,
yang tidak mengajarkan keberanian,
yang tidak mengajarkan kesetiaan.

Ilmu sekolah tidak memberi kita
pegangan untuk hidup.

Kita hanya diajari cara mencari makan,
tanpa diajari bagaimana menjadi manusia.

“Guru Oemar Bakri”

Karya: Taufiq Ismail

Oemar Bakri, Oemar Bakri
Pegawai negeri
Oemar Bakri, Oemar Bakri
Empat puluh tahun mengabdi

Jadi guru jujur berbakti
Memang makan hati
Oemar Bakri, Oemar Bakri
Banyak ciptakan menteri

Oemar Bakri, Oemar Bakri
Profesimu sangat berarti

Sajak Seonggok Jagung

Karya: W.S. Rendra

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan

Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
Ia melihat petani;
Ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar...

Dan ia juga melihat
suatu pagi hari

di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena. 
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium bau kue jagung.

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung.

Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja

Tetapi ini:
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta

Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik
etalase ia melihat saingannya naik sepeda motor.

Ia melihat nomor-nomor lotre.
ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan.
Yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarnya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi
asing di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang 
belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran
atau apa saja

bila pada akhirnya
ketika ia pulang ke daerahnya lalu berkata
Di sini aku merasa asing dan sepiiiii!

Menggapai Impian

Karya: Ni Nengah Restari

Senyum terukir tipis
Menghias bibir yang manis
Langkah demi langkah berpijak
Mengejar angan yang bijak

Sejuta harapan kurengkuh 
Laksa rintangan kutempuh
Laksa menuju kemenangan
Menggapai impian

Riang gembira jalan hidup 
Hati ikhlas bahagia datang
Perjuangan dan doa penuh ikhlas
Bawa berkah yang berlimpah

Sekolah di Pulau Kelapa

Karya: Imam Budiman

sebuah sekolah-sedikit daratan
halamannya laut dan langit terbentang sejauh mata menghadang di batas lazuardi.
tiada roda empat, pula jalan aspal motor matik melupakan masa lalu menanggalkan spion kepalanya.
pada jam istirahat, ditambatkan kapal mesin dan perahu milik nelayan. seragam hari senin disapu terik, anak-anak berebut membeli jajan kepada seorang perempuan muda bermata indah penjual mie instan dadakan
di kejauhan seorang guru berwajah datar memantau di depan pagar-barangkali menyimpan amarah, mungkin pula sedikit kesepian.

Suara Murid Masa Kini

Karya Pipit Sriwulan

Inginku bebas inginku lepas
Terserah air mengalir ke mana
Melewati pasir, lembah dan telaga

Berlari sekuat-kuatnya yang tanpa batas

Kebebasan mengolah cipta, rasa, dan karya itu hak kami
Tuk memupuk sejuta potensi yang terpatri di sanubari
Maka waktu, ilmu dan maju akan tumbuh dalam diri
Kemerdekaan dalam bermain dan belajar haruslah ditaati

Dukunglah kami, bimbinglah kami
Menggapai keemasan sebagai wujud dari mimpi
Doakan kami, agar tiada jalan yang tak pantas tuk dilalui
Kami hanyalah seekor semut yang pantas tuk disayangi

Sungguh pendidikan adalah pusaka
Harus selalu dijaga kemurnian dan keutuhannya
Mengayomi, memfasilitasi mencetak generasi
sesuai keyakinan falsafah negeri Menopang kuat kemajuan negara,
berakarkan budaya Indonesia

Diponegoro

Karya Chairil Anwar

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda(s)
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
1943

Bintang

Karya Chairil Anwar

Aku mencintai kelasmu
Kamu membantuku 'tuk melihat 
Bahwa untuk hidup bahagia
Belajar adalah kuncinya
Kamu memahami muridmu
Kamu perhatian dan pandai
Kamu guru terbaik yang pernah ada
Aku tahu itu dari awal kita bertemu

Aku memperhatikan kata-katamu
Kata-kata dari seorang guru sejati 
Kamu lebih dari teladan terbaik
Sebagai guru, kamu adalah bintang

Didikan Keras

Karya Chairil Anwar

Ketika aku memasuki kelasmu, aku berpikir
Tantangan apa yang akan kau berikan padaku
Kamu memberiku motivasi untuk melewatinya
Dan menolak kelemahan yang meragukan diri

Kamu sungguh telah membuka pikiranku
Dengan kebijakan, keras dan ketegasan
Kamu membantuku untuk melihat atas
Menemukan tujuan yang harus kucapai

Kamu mengeluarkanku dari kegalauan
Terima kasihku atas jerih payahmu
Apa yang kau ajarkan akan menumbuhkanku
Perhatianmu sangat menyentuh hati dan pikiranku

Aku akan selalu mengingat jeweranmu
Aku berharap semua guru sepertimu

Para Pelajar

Karya Elfrida Octaviani

Kami tumbuh untuk Indonesia
Kami hidup untuk Indonesia
Kami berdiri untuk Indonesia
Kami mati untuk Indonesia
Tidak semata mata kami hanya meminta
Dengan jeritan dan ronta
Tapi kami juga mengalirkan
Ilmu sebagai terapan yang meringankan
Malam tergelap tepat sebelum fajar
Rintangan dan halangan selalu mengajar
Esa hilang dua terbilang
Tak akan ada harapan yang hilang

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas