Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Prabowo-Gibran Dinilai Berpeluang Duet Lagi di 2029

Pengamat menilai tingkat penerimaan publik menjadi modal penting bagi Prabowo-Gibran menuju kontestasi politik 2029.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: willy Widianto
zoom-in Prabowo-Gibran Dinilai Berpeluang Duet Lagi di 2029
Tribunnews/JEPRIMA
MODAL POLITIK 2029 — (Dari kiri) Anies Baswedan, Muhaimin Iskandar, Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, Ganjar Pranowo, dan Mahfud MD berbincang usai debat pemungkas Pilpres 2024 di JCC, Senayan, Jakarta, Minggu, 4 Februari 2024. Terkini, sejumlah analis menilai duet kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka berpeluang besar kembali berpasangan pada Pemilu 2029 mendatang seiring tingginya angka kepuasan lintas generasi terhadap kinerja pemerintahan. 
Ringkasan Berita:
  • Pengamat menilai peluang duet Prabowo-Gibran masih terbuka pada 2029
  • Dukungan publik disebut jadi faktor penting menjaga peluang politik
  • Pemilih muda dan stabilitas pemerintahan dinilai ikut memengaruhi arah politik

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Sejumlah pengamat menilai pasangan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih memiliki peluang untuk kembali berpasangan pada Pemilu 2029, terutama jika kinerja pemerintahan dan penerimaan publik tetap terjaga dalam beberapa tahun ke depan.

Penilaian tersebut muncul seiring sejumlah survei yang menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan masih relatif positif.

Manajer Riset Populi Center, Dimas Ramadhan, mengatakan pembacaan terhadap tingkat apresiasi publik tidak seharusnya dipahami sebagai persaingan antara presiden dan wakil presiden.

Menurut dia, dalam sistem presidensial, posisi wakil presiden tidak dapat dipisahkan dari kinerja pemerintahan secara keseluruhan.

“Yang justru menarik untuk dibaca secara lebih jernih adalah bahwa kedua pemimpin ini memiliki daya jangkau generasi yang sangat luas. Prabowo dengan pengalaman dan senioritas politiknya secara natural mendapat apresiasi kuat dari kalangan Milenial yang lebih mapan,” kata Dimas dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).

Di sisi lain, lanjut Dimas, Gibran dinilai memiliki kedekatan dengan kelompok pemilih muda yang tumbuh dalam kultur komunikasi digital.

Kombinasi tersebut, menurut dia, membuat pasangan Prabowo-Gibran memiliki jangkauan politik yang relatif luas di berbagai kelompok usia.

Rekomendasi Untuk Anda

“Sementara, Gibran menjadi jembatan yang efektif ke generasi paling muda. Jarang ada pasangan pemimpin yang mampu menjangkau hampir seluruh lapisan usia sekaligus. Jadi keduanya saling melengkapi, dan itu merupakan modal sosial yang berharga bagi pemerintah,” ujarnya.

Baca juga: Jembatani Korut-Korsel, Megawati Diminta Perankan Lagi Diplomasi Soekarno

 
Kepuasan Publik Jadi Faktor Penentu

Pandangan serupa disampaikan Pengamat Politik dan Kebijakan, Arfianto Purbolaksono.

Ia menilai tingkat dukungan masyarakat terhadap pemerintah dapat menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan peluang politik pasangan petahana pada Pemilu 2029.

“Jika angka kepuasan masyarakat terhadap Prabowo-Gibran tinggi, maka masyarakat akan kembali mendukung pasangan ini. Karena secara perilaku pemilih, biasanya akan cenderung memberikan dukungan kepada pilihan yang terbaik dan yang paling menguntungkan bagi pemilih itu sendiri maupun untuk kepentingan umum,” ujar Arfianto.

Menurut dia, sejumlah hasil survei terhadap pemerintahan saat ini menunjukkan peluang politik Prabowo-Gibran masih terbuka untuk kembali maju pada periode berikutnya.

Meski demikian, Arfianto mengingatkan bahwa tingginya dukungan publik juga menghadirkan tantangan bagi pemerintah untuk menjaga konsistensi kebijakan dan kepercayaan masyarakat.

Ia menilai implementasi program pemerintah perlu benar-benar dirasakan publik agar persepsi positif tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.

Baca juga: Teddy dan Gibran Berpotensi Bersaing Jadi Cawapres Prabowo di Pilpres 2029

 
Peta Politik Dinilai Masih Dinamis

Dimas dan Arfianto sama-sama menilai peluang politik menuju 2029 masih sangat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan situasi nasional.

Faktor ekonomi, efektivitas kebijakan pemerintah, arah koalisi partai politik, hingga perubahan preferensi pemilih muda diperkirakan akan ikut memengaruhi konstelasi politik menjelang Pemilu 2029.

Karena itu, menurut mereka, tingkat penerimaan publik tidak cukup dibangun melalui popularitas politik semata, melainkan juga melalui stabilitas pemerintahan dan dampak kebijakan yang dirasakan langsung masyarakat.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas