Jelang Muktamar, PBNU Diminta Rangkul Semua Kader Potensial
Nahdlatul Ulama didorong menjaga persatuan jelang Muktamar ke-35, dengan pesan agar kepengurusan PBNU merangkul seluruh potensi kader.
Ringkasan Berita:
- Nahdlatul Ulama didorong menjaga persatuan jelang Muktamar ke-35, dengan pesan agar kepengurusan PBNU merangkul seluruh potensi kader dan menghindari konflik internal.
- Ahmad Azaim Ibrahimy menekankan pentingnya kembali pada Khittah NU 1926 sebagai kompas perjuangan organisasi di tengah perubahan zaman.
- Abdussalam Shohib menyebut para masyayikh berharap NU tetap moderat, mandiri, dan menjadi mitra kritis pemerintah demi kemaslahatan umat dan menjaga NKRI.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), pesan persatuan dan rekonsiliasi terus menguat dari kalangan masyayikh dan pesantren.
Salah satunya disampaikan pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo, Ahmad Azaim Ibrahimy atau yang akrab disapa Ra Azaim.
Ra Azaim meminta agar kepengurusan PBNU ke depan mampu merangkul seluruh potensi kader NU dan menghindari ketegangan dalam proses muktamar.
Pesan itu disampaikan saat menerima kunjungan silaturahmi Abdussalam Shohib atau Gus Salam di kediamannya di Situbondo, Jawa Timur.
“Ra Azaim meminta agar NU ke depan merangkul semua potensi yang dimiliki kader-kader NU,” kata Mas Cholil Nawawi yang turut mendampingi Gus Salam dalam kunjungan tersebut, dikutip Kamis (14/5/2026).
Menurut Cholil, pesan tersebut mencerminkan harapan agar PBNU mendatang lebih berorientasi pada persatuan dan penguatan khidmah demi kemaslahatan umat.
Dia juga menekankan pentingnya menghindari konflik kepentingan dan ketegangan dalam penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU.
Lebih lanjut, Ra Azaim mengingatkan agar kepemimpinan NU tetap berpijak pada Khittah NU 1926 sebagai marwah perjuangan organisasi.
“Khittah NU 1926 bukan manuskrip di museum yang hanya dilihat atau dibaca, tapi dihidupi agar bisa membangkitkan. Ia kompas, dimana NU boleh lari mengejar zaman, tapi jangan sampai kehilangan arah pulang,” ujar Mas Cholil menyampaikan pesan Ra Azaim.
Sementara itu, Gus Salam membenarkan dirinya melakukan safari silaturahmi ke sejumlah masyayikh dan pesantren di Jawa Timur dan Madura dalam dua hari terakhir.
“Kemarin saya ngaji kitab Kifayatul Atqiya’ dalam majelis rutin alumni di Bangkalan. Sekalian sowan silaturahim ke masyayikh sepuh di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Lalu ke Situbondo, nanti ke Paiton dan Sidoarjo,” kata Gus Salam.
Dalam kunjungannya ke Situbondo, Gus Salam juga mengaku berdiskusi dengan Afifuddin Muhajir mengenai arah strategis NU ke depan.
Menurut Gus Salam, KH Afifuddin Muhajir menekankan tiga peran besar NU di masa depan, yakni menjadi benteng Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, penjaga moral bangsa, serta pelindung NKRI.
“Islam moderat yang menerima Pancasila dalam bingkai NKRI bisa menjadi sistem pertahanan ideologis bagi negara,” ujar Gus Salam.
Ia menambahkan, KH Afifuddin juga mengingatkan pentingnya sikap moderat ala Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
“Kokoh memegang prinsip seperti Gus Dur, namun lentur dalam bersikap. Terbuka dalam pemikiran, namun tidak melompati pagar pembatas akidah,” lanjutnya.
Selain itu, NU juga dinilai harus aktif memberi fatwa dan panduan atas problem sosial, kebangsaan, hingga ekonomi umat.
Gus Salam menyebut KH Afifuddin mencontohkan pemikiran Sahal Mahfudz melalui konsep fikih sosial yang selama ini menjadi rujukan warga NU.
“Banyak kiai NU yang dengan literasi fiqhiyyahnya bisa memberi pedoman kepada umat tentang kemaslahatan di bidang ekonomi, pertanian, pendidikan, lingkungan, kebudayaan, bahkan politik,” ujarnya.
Menurut Gus Salam, pesan paling penting yang ia tangkap dari para masyayikh adalah NU harus tetap mandiri dan tidak mudah didikte pihak mana pun.
“Mandiri bukan berarti menjauh dari pemerintah, tapi menjadi mitra kritis yang mendukung bila maslahat dan meluruskan bila ada mudarat,” pungkasnya.
Muktamar ke-35 NU
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dijadwalkan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026, setelah sebelumnya PBNU menetapkan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) digelar pada April 2026.
"Terkait agenda organisasi, rapat menetapkan Munas dan Konbes NU 2026 akan digelar pada bulan Syawal 1447 H atau April 2026, sementara Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026," kata Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.
Agenda ini menjadi forum tertinggi dalam organisasi NU untuk menentukan arah kebijakan, kepemimpinan, serta konsolidasi jam’iyyah di tengah dinamika sosial, politik, dan keagamaan nasional.
Muktamar NU merupakan momentum penting karena di forum inilah dilakukan evaluasi terhadap program kerja PBNU, pembahasan isu-isu strategis umat, serta pemilihan kepemimpinan baru, khususnya posisi Rais Aam dan Ketua Umum Tanfidziyah.
Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, keputusan yang dihasilkan dalam Muktamar biasanya memiliki dampak luas, tidak hanya bagi warga nahdliyin, tetapi juga bagi arah kebijakan keagamaan dan sosial di tingkat nasional.
Selain aspek kepemimpinan, Muktamar ke-35 NU juga akan menjadi ajang pembahasan isu-isu aktual yang dihadapi umat Islam dan bangsa Indonesia.
Tema-tema seperti moderasi beragama, peran NU dalam menjaga persatuan nasional, serta respons terhadap tantangan global seperti disrupsi teknologi dan geopolitik diperkirakan akan menjadi bagian dari agenda pembahasan.
Baca juga: Jelang Muktamar ke-35 NU, Gus Salam Disebut Punya Visi dan Roadmap yang Jelas
Dengan basis kultural yang kuat melalui jaringan pesantren dan organisasi masyarakat, NU diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam menjawab tantangan zaman.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.