Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Khutbah Jumat, 15 Mei 2026: Idul Adha dan Reset Hati dari Cinta Dunia

Berikut teks Khutbah Jumat 15 Mei 2026 yang mengangkat tema tentang “Idul Adha dan Reset Hati dari Cinta Dunia”.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Lanny Latifah
Editor: Salma Fenty
zoom-in Khutbah Jumat, 15 Mei 2026: Idul Adha dan Reset Hati dari Cinta Dunia
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
TEKS KHUTBAH - Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Amien Rais (kiri) menyampaikan khotbah di depan ribuan jemaah Muhammadiyah seusai melaksanakan Salat Iduladha 1444 H di area parkir Transmart Buahbatu Square (BBS), Desa Cipagalo, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (28/6/2023). Berikut teks Khutbah Jumat 15 Mei 2026 yang mengangkat tema tentang “Idul Adha dan Reset Hati dari Cinta Dunia”. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN 

TRIBUNNEWS.COM - Khutbah Jumat 15 Mei 2026 mengangkat tema “Idul Adha dan Reset Hati dari Cinta Dunia”.

Khutbah Jumat merupakan ceramah agama yang disampaikan khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat, berisi pesan keagamaan serta pengingat bagi umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Tema khutbah kali ini mengajak umat Islam menjadikan Idul Adha sebagai momentum memperkuat keimanan dan mengurangi kecintaan berlebihan terhadap urusan duniawi.

Melalui kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, jemaah diajak memahami makna keikhlasan, pengorbanan, dan ketaatan kepada Allah SWT.

Selain itu, ibadah kurban juga menjadi pengingat pentingnya berbagi, peduli terhadap sesama, serta menata kembali hati agar lebih sederhana dan bertakwa dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Melansir laman simbi.kemenag.go.id, berikut teks khutbah Jumat, 15 Mei 2026:

Baca juga: Teks Khutbah Jumat Besok, 15 Mei 2026: Keutamaan Berkurban bagi Orang yang Beriman

Idul Adha dan Reset Hati dari Cinta Dunia

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَضْحَى مَوْسِمًا لِتَجْدِيْدِ الْإِيْمَانِ، وَجَعَلَ الْقُرْبَانَ دَرْسًا فِي الصِّدْقِ وَالْإِخْلَاصِ، وَتَحْرِيْرِ الْقَلْبِ مِنْ أَسْرِ الدُّنْيَا. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِيْ لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى زَادُ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَطَرِيْقُ النَّجَاةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Ma’asyiral muslimin, jemaah Iduladha yang dimuliakan Allah,

Rekomendasi Untuk Anda

Hari ini kita bertakbir. Tetapi takbir tidak boleh berhenti di lisan. Takbir harus turun ke hati. Ketika kita berkata Allah Mahabesar, kita sedang ditanya: benarkah Allah yang paling besar dalam hidup kita? Atau yang lebih besar justru dunia: uang, jabatan, gengsi, pujian, popularitas, kenyamanan, dan keinginan untuk selalu terlihat berhasil?

Iduladha datang bukan hanya membawa hewan kurban ke tempat penyembelihan. Iduladha membawa hati kita ke ruang pemeriksaan. Ada yang harus ditanya. Ada yang harus dibongkar. Ada yang harus di-reset. Seperti ponsel atau laptop yang terlalu penuh: memorinya sesak, kerjanya lambat, perintah sederhana pun terasa berat. Kadang hati manusia juga begitu. Terlalu penuh oleh ambisi, gengsi, iri, takut kalah, takut miskin, takut tidak dipuji, takut tidak dianggap berhasil.

Akhirnya hati menjadi berat untuk taat, berat untuk ikhlas, berat untuk melepas, berat untuk tenang. Maka Iduladha datang sebagai reset hati: membersihkan ruang batin dari cinta dunia yang berlebihan, agar Allah kembali menjadi yang paling besar dalam hidup kita.

Maka pada pagi Iduladha ini, mari kita ajukan tiga pertanyaan kepada diri sendiri. Pertanyaan pertama: “apa yang paling menyibukkan hidup kita?”

Jemaah sekalian,

Banyak manusia hari ini tampak sibuk, tetapi belum tentu terarah. Bangun pagi mengejar target. Siang mengejar uang. Malam mengejar pengakuan. Hari demi hari dihabiskan untuk menaikkan angka: angka saldo, angka aset, angka pengikut, angka pencapaian, angka jabatan, angka pujian. Kita mengejar dunia seperti orang kehausan meminum air laut. Makin diminum, makin haus.

Media sosial membuat hidup orang lain terlihat selalu lebih indah. Rumah orang lain lebih bagus. Kendaraan orang lain lebih baru. Karier orang lain lebih cepat. Liburan orang lain lebih jauh. Lalu hati kita gelisah. Bukan karena kita tidak punya nikmat, tetapi karena kita terus membandingkan nikmat kita dengan nikmat orang lain. Padahal Allah Swt telah memperingatkan:

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُ.

“Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu” (Q.S. At-Takatsur [102]: 1).

Allah mengingatkan bahwa manusia sering dilalaikan oleh takātsur: saling memperbanyak, saling menumpuk, dan saling membanggakan. Bukan sekadar ingin cukup, tetapi ingin lebih; bukan hanya ingin hidup layak, tetapi ingin tampak lebih tinggi dari orang lain.

Menariknya, peringatan Al-Qur’an ini sejalan dengan temuan kajian psikologi modern. Dalam meta-analisis tahun 2014, Helga Dittmar, Rod Bond, Megan Hurst, dan Tim Kasser menunjukkan bahwa gaya hidup yang terlalu materialistis—berpusat pada kepemilikan—berkaitan dengan rendahnya kepuasan hidup dan melemahnya kesejahteraan batin. Seolah menegaskan pesan wahyu, semakin banyak dunia yang dikejar tidak selalu membuat hati semakin tenang; yang bertambah justru sering kali rasa kurang, kegelisahan, dan kehausan yang tak pernah selesai.

Maka Iduladha bertanya kepada kita: jangan-jangan hidup kita terlalu penuh oleh dunia, sampai Allah hanya tersisa di pinggir keputusan-keputusan kita. Jangan-jangan kita masih salat, masih berdoa, masih bertakbir, tetapi ketika memilih pekerjaan, uang, jabatan, relasi, dan ambisi, yang paling kita dengarkan bukan Allah, melainkan nafsu dan gengsi. Nauzubillahi min dzalik!

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ,

Pertanyaan kedua: “Apa yang paling berat kita lepaskan?”

Jemaah Iduladha yang berbahagia,

Di titik inilah kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berdiri di hadapan kita. Ibrahim berkata:

يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ.

“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?”(Q.S. Ash-Shaffat [37]: 102).

Di sinilah ujian Ibrahim menjadi sangat besar. Ia diuji dengan sesuatu yang sangat ia cintai, Ismail. Tetapi ketika cinta paling dalam itu berhadapan dengan perintah Allah, Ibrahim tidak bersembunyi di balik alasan. Ia tunduk dan pasrah. Ia membuktikan bahwa Allah tetap yang tertinggi.

Pada akhirnya, Allah tidak ingin mengambil Ismail dari Ibrahim. Allah ingin mengajari manusia bahwa apa pun yang paling dicintai harus tetap tunduk kepada Allah. Karena yang kita cintai bisa menjadi jalan menuju Allah, tetapi bisa juga menjadi berhala halus di dalam hati. Karena itu Allah Swt berfirman:

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ.

“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 92).

Ayat ini pernah mengguncang hati Abu Thalhah Al-Anshari. Ia memiliki kebun yang sangat ia cintai, bernama Bairuha. Kebun itu indah, subur, dan dekat dengan Masjid Nabawi. Ketika ayat ini turun, Abu Thalhah datang kepada Rasulullah saw dan berkata bahwa harta yang paling ia cintai adalah Bairuha. Lalu ia menyerahkannya karena Allah. Abu Thalhah tidak memberi yang tidak lagi ia inginkan. Ia memberi yang paling ia cintai, karena ia ingin Allah lebih dicintai.

Maka dari kisah Ibrahim dan Abu Thalhah ini, mari kita tanyakan pada diri kita: apa Ismail kita? Apa Bairuha kita? Apakah harta? Jabatan? atau kenyamanan yang paling sulit kita lepaskan di jalan Allah? Di sinilah pesan kurban menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Allah tidak selalu meminta kita kehilangan apa yang kita cintai, tetapi Allah ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun yang lebih kita cintai daripada-Nya.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ,

Pertanyaan ketiga: “Apa yang sebenarnya akan kita bawa pulang?”

Jemaah yang dimuliakan Allah,

Al-Qur’an mengabadikan sosok Karun. Ia diberi harta melimpah. Kunci-kunci gudangnya saja berat dipikul oleh sekelompok orang kuat. Tetapi harta tidak membuatnya tunduk. Harta membuatnya merasa besar. Ketika kaumnya menasihati agar ia tidak sombong dan tetap mencari akhirat tanpa melupakan bagian dunia, Karun menjawab:

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ.

“Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta) itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” (Q.S. Al-Qashash [28]: 78.)

Lalu Allah Swt berfirman:

فَخَسَفْنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلْأَرْضَ.

“Lalu, Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi.” (Q.S. Al-Qasas [28]: 81).

Kisah Qarun mengajarkan bahwa manusia tidak akan membawa rumahnya, gudangnya, simpanannya, jabatannya, dan pujian orang kepadanya. Semua bisa tinggal. Semua bisa hilang. Bahkan yang dulu dibanggakan bisa berubah menjadi sebab kehancuran. Yang akan kita bawa pulang bukan apa yang kita kumpulkan, tetapi apa yang membersihkan hati kita. Bukan apa yang membuat manusia kagum, tetapi apa yang membuat Allah rida.

Di sinilah kurban menutup pelajaran itu dengan sangat jelas. Allah Swt berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ.

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 37).

Maka apa yang sebenarnya kita bawa pulang dari Iduladha? Bukan cerita tentang harga sapi. Bukan kebanggaan karena hewan kurban kita besar. Bukan pujian manusia. Yang harus kita bawa pulang adalah hati yang lebih bertakwa. Hati yang lebih ringan melepas. Hati yang tidak lagi terlalu takut kehilangan dunia. Hati yang mulai paham bahwa semua yang kita miliki hanya titipan. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melewati jalan.” (H.R. Bukhari).

Orang yang sadar dirinya hanya melewati jalan tidak akan membangun hati sepenuhnya di tempat singgah. Ia bekerja, tetapi tidak diperbudak pekerjaan. Ia punya harta, tetapi tidak diseret harta. Ia mencintai keluarga, tetapi tidak melupakan Allah. Ia menikmati dunia, tetapi tidak menjual akhirat untuk dunia.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ,

Jemaah Iduladha yang dimuliakan Allah,

Maka hari ini, mari reset hati kita. Atur ulang cinta kita. Cintai keluarga, tetapi jangan lupakan Allah. Cari rezeki, tetapi jangan halalkan yang haram. Bangun karier, tetapi jangan injak orang lain. Miliki harta, tetapi jangan kehilangan empati. Kejar cita-cita, tetapi jangan korbankan iman. Nikmati dunia, tetapi jangan biarkan dunia duduk sebagai penguasa hati.

Semoga Allah menerima kurban kita. Semoga Allah membebaskan hati kita dari cinta dunia yang berlebihan. Semoga Iduladha ini membuat kita lebih ringan melepas, lebih kuat menahan diri, lebih bersih dalam mencari rezeki, dan lebih dekat kepada Allah. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا، وَقُرْبَانَنَا، وَدُعَاءَنَا، وَصَالِحَ أَعْمَالِنَا. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ قُرْبَانَنَا قُرْبَانًا مَقْبُوْلًا، وَذَنْبَنَا ذَنْبًا مَغْفُوْرًا، وَسَعْيَنَا سَعْيًا مَشْكُوْرًا، وَعَمَلَنَا عَمَلًا صَالِحًا مَبْرُوْرًا. اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنْ حُبِّ الدُّنْيَا الَّذِيْ يُنْسِيْنَا الْآخِرَةَ، وَمِنَ الطَّمَعِ الَّذِيْ يُفْسِدُ النُّفُوْسَ، وَمِنَ الْكِبْرِ الَّذِيْ يَحْجُبُنَا عَنْ رِضَاكَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلِ الدُّنْيَا فِيْ أَيْدِيْنَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِيْ قُلُوْبِنَا. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِيْنَ الْمُتَّقِيْنَ، الَّذِيْنَ يَطْلُبُوْنَ رِضَاكَ، وَيَحْذَرُوْنَ سَخَطَكَ، وَيُؤْثِرُوْنَ الْآخِرَةَ عَلَى الدُّنْيَا. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا، لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

(Tribunnews.com/Latifah)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas