Prabowo Cerita Kepala BPKP Gemetar Minta Izin Usut Korupsi yang Libatkan Orang Lingkaran Presiden
Presiden ungkap momen Yusuf Ateh mendatangi dirinya secara langsung untuk melaporkan temuan indikasi korupsi.
Penulis:
Igman Ibrahim
Editor:
Malvyandie Haryadi
Ringkasan Berita:
- Presiden Prabowo Subianto menceritakan pengalaman ketika Kepala BPKP, Yusuf Ateh, melaporkan langsung temuan indikasi korupsi.
- Yusuf sempat ragu melanjutkan pemeriksaan karena oknum yang terlibat diketahui dekat dengan Prabowo.
- Prabowo menegaskan agar pemeriksaan tetap diteruskan. Ia menekankan bahwa kedekatan politik maupun personal tidak boleh menjadi tameng bagi pelaku korupsi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menceritakan momen saat Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Yusuf Ateh mendatangi dirinya secara langsung untuk melaporkan temuan indikasi korupsi.
Menurut Prabowo, Kepala BPKP ragu-ragu untuk mengusut kasus tersebut karena oknum pejabat yang terbidik diketahui memiliki hubungan dekat dengan dirinya.
Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan dalam peresmian Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026) pagi.
"Kepala BPKP datang ke saya agak gemeter. Heran saya, kenapa stres dia? karena yang dia laporkan diketahui lah bahwa itu beberapa orang dekat sama saya. Jadi dia minta petunjuk apa boleh diteruskan enggak pemeriksaan. Karena dia tahu ini dekat sama Presiden. 'Bagaimana, Pak, petunjuk?' Teruskan pemeriksaan!" ujar Presiden Prabowo menceritakan dialog tersebut.
Prabowo menegaskan, di bawah kepemimpinannya, kedekatan politik maupun latar belakang personal tidak akan pernah menjadi tameng pelindung bagi para pelaku korupsi.
Ia memastikan proses hukum harus tetap berjalan tanpa pandang bulu, termasuk jika kasus tersebut menyeret kader dari partai politiknya sendiri atau dari kalangan militer.
"Enggak ada, saya sendiri katakan, mau partai saya sendiri, Gerindra, cek, udah berapa yang diproses dan ditahan, tidak. Justru harus memberi contoh, ya. Apakah dia jenderal atau mantan jenderal, harus memberi contoh. Dulu kamu jago perang, ya sekarang buktikan ke rakyat bahwa kamu selesaikan kariermu, karier kamu dengan tetap kehormatan," kata Prabowo.
Prabowo pun mengungkapkan rasa sedihnya ketika mendapati kenyataan bahwa orang-orang yang telah ia bina dan beri kepercayaan justru tergiur melakukan tindak pidana korupsi.
Ia mengingatkan bahwa penyalahgunaan jabatan demi mencuri uang rakyat pada akhirnya hanya akan meninggalkan penyesalan bagi keluarga pelaku.
"Orang yang saya angkat, orang yang saya bina, orang yang saya kasih kehormatan diberi jabatan yang penting, begitu dia menjabat, nyeleweng, nyuri uang rakyat, bagaimana? Apa yang harus saya buat? Saya sedih di ujung puncak karier, yang paling saya sedih adalah nanti anak dan istrinya," ucap Presiden.
Prabowo mengimbau agar seluruh pejabat negara yang telah diberikan mandat dan wewenang untuk tidak mengkhianati kepercayaan masyarakat.
Setiap individu yang memegang jabatan publik harus sadar bahwa tanggung jawab utama mereka sepenuhnya milik negara dan rakyat.
"Begitu menjabat jabatan negara berarti tanggung jawabnya kepada negara dan rakyat. Sudah enggak ada lagi. Enggak ada. Silakan kejaksaan sana, saya serahkan. Jadi, kita terbuka. Ayo, sama-sama," pungkasnya.