Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kemendikdasmen: Deep Learning Bukan Kurikulum Baru, Tak Ada 'Ganti Menteri Ganti Kurikulum'

Staf Ahli Kemendikdasmen Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga, Biyanto menegaskan konsep deep learning bukanlah kurikulum baru.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Kemendikdasmen: Deep Learning Bukan Kurikulum Baru, Tak Ada 'Ganti Menteri Ganti Kurikulum'
HO/IST
DISKUSI PENDIDIKAN - Teras Kebinekaan sukses menyelenggarakan forum diskusi intelektual tingkat nasional bertajuk Hypatia School #07 yang bertempat di Kantor Teras Kebinekaan, Parung, Bogor, Jawa Barat. 

 

Ringkasan Berita:
  • Staf Ahli Kemendikdasmen, Biyanto, menegaskan bahwa konsep deep learning bukan kurikulum baru, melainkan pendekatan untuk memperkuat kedalaman berpikir siswa dalam proses pembelajaran. 
  • Ia menekankan komitmen Kementerian untuk menghindari pola lama “ganti menteri ganti kurikulum”.
  • Deep learning tidak menggantikan Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka, sehingga sekolah tetap dapat melanjutkan kurikulum yang ada. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Staf Ahli Kemendikdasmen Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga, Biyanto menegaskan konsep deep learning bukanlah kurikulum baru.

Deep learning, kata Biyanto, hanya berfokus pada penguatan kedalaman berpikir siswa dalam proses pembelajaran.

"Kami tegaskan bahwa deep learning ini bukan kurikulum baru. Kementerian berkomitmen penuh untuk menghindari adagium lama 'ganti menteri ganti kurikulum'," kata Biyanto.

Hal tersebut dikatakan Biyanto dalam forum diskusi nasional Hypatia School #07 yang digelar Teras Kebinekaan di Parung, Bogor, Jawa Barat.

Dirinya mengatakan konsep ini tidak menggantikan Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka. 

"Bagi sekolah yang saat ini menerapkan Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka, silakan terus berjalan karena deep learning adalah sebuah pendekatan untuk kedalaman berpikir, bukan penggantian dokumen kurikulum," kata Biyanto.

Rekomendasi Untuk Anda

Sementara itu, Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan, Moh. Shofan, menilai konsep deep learning, meaningful learning, dan joyful learning masih berada pada level gagasan besar.

Menurut dia, tantangan pendidikan di daerah terpencil masih berkutat pada minimnya sarana dan prasarana. Meski demikian, proses belajar tetap berjalan karena dedikasi guru di lapangan.

"Di daerah terpencil seperti Bone dan pulau-pulau di Maluku, problematika utamanya adalah sarana prasarana yang sangat tidak memadai. Namun, proses edukasi di sana beruntung masih bisa berjalan karena adanya presence—kehadiran fisik serta pengorbanan dedikatif dari para guru," ujarnya.

Sementara itu, akademisi Universitas Sanata Dharma, Johanes Haryatmoko, menjelaskan deep learning dapat diterapkan melalui sejumlah metode pembelajaran seperti design thinking, logika abduksi, dan computational thinking.

Sementara itu, Inayah Wahid menyoroti kesenjangan antara sistem pendidikan dengan kebutuhan nyata di masyarakat. Ia menilai sekolah selama ini terlalu fokus pada hafalan, tetapi kurang melatih kemampuan berpikir kritis dan berdialog sehat.

"Hari ini banyak hal yang kita hafalkan di masa lalu ternyata sama sekali tidak fungsional di masa depan," kata Inayah.

Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Rikard Bagun, juga mengkritik sistem pendidikan yang dinilai terlalu menekankan hafalan dan doktrinasi formal.

Menurut Rikard, pendidikan di era banjir informasi digital harus mampu membentuk kemampuan verifikasi, validasi, dan analisis informasi agar generasi muda tidak mudah terjebak hoaks.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas