Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Bukan Sekadar Penonton, Generasi Muda Ambil Peran Utama dalam Diskusi AI di Forum EduALL

The Cornerstone 2026 yang digelar EduALL sukses menjadi ruang diskusi yang menarik dan kolaboratif, sekaligus menjadi panggung para pelajar Indonesia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Content Writer
zoom-in Bukan Sekadar Penonton, Generasi Muda Ambil Peran Utama dalam Diskusi AI di Forum EduALL
Istimewa
DISKUSI AI - Keberanian pelajar seperti Nadine Andini, Matahati Sabri, Naomi Putri, dan Katyana Mawira untuk bersuara kritis di hadapan para pakar adalah wujud nyata dari visi EduALL. Selama ini, EduALL dikenal sebagai konsultan pendidikan yang mendampingi persiapan siswa untuk melanjutkan kuliah ke universitas luar negeri. 

TRIBUNNEWS.COM – Konferensi nasional The Cornerstone 2026 yang digelar oleh EduALL sukses menjadi ruang diskusi yang menarik dan kolaboratif, sekaligus menjadi panggung para pelajar Indonesia.

Di acara ini, suara para pelajar bersanding sejajar dengan pembuat kebijakan dan tokoh industri untuk membahas bagaimana Artificial Intelligence (AI) mengubah kehidupan sehari-hari, mulai dari pendidikan, ekonomi kreatif, hingga kedaulatan bangsa.

Berikut adalah rangkuman empat topik utama yang dibahas kritis di atas panggung:

  1. Posisi Indonesia dan Teknologi Global Pada sesi "AI. Power. Global Order", perwakilan pelajar Nadine Andini berdiskusi langsung dengan mantan Menteri Perdagangan RI Tom Lembong. Nadine menyuarakan agar Indonesia tidak cuma menjadi konsumen, tapi harus bisa memproduksi AI sendiri supaya data bangsa tidak dimanfaatkan negara asing. Menanggapi gagasan ini, Tom Lembong mengajak generasi muda untuk realistis karena infrastruktur fisik data center Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga. Tom juga mengingatkan konsep "speed versus soul", yaitu meskipun AI bergerak serba cepat, manusia tidak boleh kehilangan jati diri dan arahnya.
  2. Pendidikan dan Cara Berpikir Anak Di panel pendidikan, pelajar Matahati Sabri menceritakan pengalamannya yang sempat terlalu bergantung pada AI sampai mengalami culture shock saat harus belajar manual. Ia sadar bahwa hal ini berisiko menurunkan nalar kritis siswa. Merespons keresahan tersebut, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan bahwa diperlukan "imunisasi" atau pembekalan, bukan sekadar melarang AI. Ia mengibaratkan AI seperti Superman, yang butuh didikan moral keluarga agar kekuatannya bermanfaat. Tokoh pendidikan Najelaa Shihab juga menambahkan bahwa peran guru kini bergeser menjadi arsitek pembelajaran.
  3. Tantangan Kreativitas di Industri Kreatif Isu kreativitas dibedah oleh pelajar Naomi Putri bersama CEO Visinema Angga Dwimas Sasongko dan CEO Trinity Optima Production Yonathan Nugroho. Naomi menegaskan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses kreatif. Angga sepakat dan mengibaratkan AI seperti makanan cepat saji (fast food), yang justru akan membuat karya asli manusia ke depannya terasa lebih eksklusif dan berharga bak hidangan mewah (fine dining). Di sektor musik, Yonathan juga mengingatkan bahwa interaksi dan emosi manusia tetap menjadi nyawa yang tidak bisa ditiru mesin.
  4. Tanggung Jawab Lingkungan di Balik Kecanggihan AI Pelajar Katyana Mawira melengkapi diskusi dengan membedah dampak ekologis dari penggunaan AI. Ia memaparkan fakta bahwa infrastruktur AI membutuhkan sangat banyak energi, bahkan sistem pendingin data center bisa menghabiskan lebih dari 300 ribu galon air per hari. Panel yang juga dihadiri perwakilan KADIN dan Instellar ini menyimpulkan bahwa inovasi teknologi dan kepedulian lingkungan—seperti pembangunan green data center—harus selalu berjalan beriringan.

Keberanian pelajar seperti Nadine Andini, Matahati Sabri, Naomi Putri, dan Katyana Mawira untuk bersuara kritis di hadapan para pakar adalah wujud nyata dari visi EduALL. Selama ini, EduALL dikenal sebagai konsultan pendidikan yang mendampingi persiapan siswa untuk melanjutkan kuliah ke universitas luar negeri.

Baca juga: AI Mulai Belajar Menerbangkan Pesawat, Apakah Pilot Manusia Akan Tergantikan?

Namun lebih dari itu, EduALL mengambil peran esensial sebagai pembentuk karakter untuk mencetak generasi pembawa perubahan (Game Changer) yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap isu dunia nyata.

"Melalui dialog ini, kita melihat bahwa di era AI, aspek empati, perspektif, dan estetika manusia justru menjadi aset yang paling mahal. EduALL berkomitmen membekali pelajar agar mereka tidak sekadar menggunakan AI, tapi mampu mengarahkan teknologi tersebut tanpa kehilangan identitas kreatifnya," ujar CEO EduALL, Devi Kasih.

Sebagai aksi nyata untuk masa depan pendidikan, EduALL menyalurkan 100 persen hasil penjualan tiket konferensi ini melalui kolaborasi bersama Indonesia Mengajar. Langkah filantropi ini dilakukan untuk mendukung pemerataan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak di berbagai penjuru pelosok Nusantara.

Baca juga: AI sebagai Terapis dan Kekasih Virtual: Antara Kemudahan dan Bahaya yang Mengintai

Rekomendasi Untuk Anda
Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas