Dua Kampus Buka Suara soal 2 WNI Diduga Palsukan Riset, ITB Akui Prihantini Berstatus Alumni FMIPA
ITB mengakui Prihantini berstatus sebagai alumni di kampusnya. Dia lulus pada tahun 2022. Sementara UNY juga telah melakukan investigasi.
Penulis:
Yohanes Liestyo Poerwoto
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Ringkasan Berita:
- ITB dan UNY telah buka suara terkait adanya dua WNI yang diduga melakukan pemalsuan riset saat mengikuti konferensi ilmiah di Copenhagen, Denmark.
- ITB mengakui salah satu WNI yakni Prihantini berstatus sebagai alumni magister FMIPA angkatan 2020.
- Sementara, UNY masih melakukan investigasi karena ada isu bahwa mereka merupakan alumni dari kampusnya.
- UNY menyatakan ada nama kedua WNI itu di basis data akademik dan berstatus sebagai alumni FMIPA.
TRIBUNNEWS.COM - Kasus dugaan pemalsuan riset oleh dua orang Warga Negara Indonesia (WNI) bernama Rifaldy Fajar dan Prihantini berbuntut panjang.
Kini, dua universitas pun telah buka suara terkait kasus ini lantaran ada dugaan bahwa kedua orang tersebut berstatus sebagai alumni.
Adapun kampus yang dimaksud yakni Institus Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Sekilas informasi, kasus ini mencuat ketika akun Instagram milik Wa Ode Dwi Daningrat membuat postingan terkait dugaan pemalsuan riset oleh Rifaldy dan Prihantini.
Sosok yang akrab disapa Dwi ini menyebut bahwa Rifaldy dan Prihantini diduga memalsukan hasil risetnya ketika mengikuti konferensi ilmiah di Copenhagen, Denmark.
Baca juga: Soal Dugaan Riset Palsu WNI di Denmark, Ketua Komisi X DPR Minta Pemerintah Segera Investigasi
Acara itu bernama International Society of Pneumonia and Pneumococcal Disease (ISPPD) 2026 yang berlangsung pada 17-21 Mei 2026.
Ada beberapa hal yang dianggap Dwi janggal dalam riset milik Rifaldy Fajar dan Prihantini.
Salah satunya terkait 19 abstrak yang diperlihatkan dalam forum tersebut. Menurutnya, tidak masuk akal abstrak sebanyak itu bisa dibuat dalam waktu singkat.
Ia menduga abstrak tersebut dibuat dengan menggunakan artificial intelligence (AI) dan berujung tidak akurat karena mengandung fabrikasi data.
Sementara, Dwi merupakan salah satu peserta konferensi tersebut dan berprofesi sebagai peneliti di bidang clinical medicine di University of Oxford.
ITB Akui Prihantini Berstatus Alumni
ITB mengakui bahwa Prihantini berstatus sebagai alumni Program Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB angkatan 2020.
Prihantini pun dinyatakan lulus pada tahun 2022 lalu.
Dekan FMIPA ITB, Aep Patah, menegaskan bahwa apa yanng dilakukan Prihantini dalam konferensi tersebut tidak berkaitan dengan pihaknya.
"Materi yang dipresentasikan yang bersangkutan dalam konferensi pers internasional tersebut tidak berkaitan dengan tesis maupun aktivitas akademik di ITB," ujar Aep dikutip dari laman resmi ITB, Kamis (28/5/2026).
Dengan hal tersebut, Aep menegaskan dugaan pemalsuan riset yang dilakukan Prihantini merupakan tanggung jawab pribadi yang bersangkutan.
Dia mengungkapkan pihaknya menghormati proses hukum jika nantinya Prihantini berujung dilaporkan ke kepolisian.
“ITB menyatakan sikap bahwa tindakan Saudari Prihatini tersebut merupakan tindakan hukum sebagai seorang individu. Dengan demikian jika terdapat proses hukum atas tindakan tersebut, maka ITB sangat menghormati upaya hukum dimaksud,” tuturnya.
“ITB menegaskan komitmen untuk terus memperkuat budaya akademik, khususnya di ranah penelitian yang berintegritas dan bertanggung jawab,” sambung Aep.
Baca juga: Kemdiktisaintek Pastikan WNI Pemalsu Riset di Denmark Bukan Dosen atau Peneliti Aktif di Kampus RI
UNY Buka Suara, Rifaldy dan Prihantini Diduga Alumni FMIPA
Sementara UNY telah melakukan penelusuran terkait status akademik Rifaldy dan Prihantini. Dalam penyelidikan yang dilakukan, ada nama mereka dalam basis data akademik di UNY.
Namun, pihak kampus belum bisa memastikan apakah mereka benar-benar berstatus sebagai alumni.
“Kalau di database kami, ada dua nama yang sama dengan dua orang yang sedang viral tersebut. Ini masih kami dalami karena data yang digunakan saat publikasi berganti-ganti dan tidak ada nama departemen atau prodi tersebut di UNY,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro, ketika dihubungi Tribunnews.com, Rabu (27/5/2026).
Kendati demikian, Nur mengatakan pihaknya telah menghubungi kedua alumni yang namanya dikaitkan dalam kasus dugaan riset palsu terebut.
Dia menyebut ada nama Rifaldy dan Prihantini yang berstatus sebagai alumni FMIPA UNY.
“Saat ini kami meminta teman-teman dosen dari FMIPA untuk reach out dua nama alumni yang ada di database kami. Karena memang sosmed beliau berdua sepertinya tidak bisa dikontak juga,” ujarnya.
Dalam upaya yang dilakukan, Nur menuturkan pihaknya telah berhasil menghubungi salah satu nama yang diduga terlibat yakni Prihantini.
Dia mengungkapkan Prihantini akan melakukan klarifikasi melalui akun media sosial pribadinya buntut polemik yang terjadi.
Baca juga: DPR Minta Investigasi Dugaan Riset Fiktif WNI di Denmark, Ini yang Dikhawatirkan
Namun, kata Nur, sosok Rifaldy belum berhasil dihubungi.
“Kami berhasil menghubungi Prihantini, responsnya nggih akan ada klarifikasi di sosmed. Sepertinya nomor HP-nya dibanjiri pesan juga,” jelasnya.
Nur menjelaskan nama Rifaldy tercatat sebagai angkatan 2014 FMIPA dan dinyatakan lulus tiga tahun setelahnya.
Sementara, nama Prihantini tercatat merupakan lulusan tahun 2018. Ia masuk sebagai mahasiswa FMIPA UNY pada tahun 2015.
Terkait sanksi jika terbukti melakukan pemalsuan riset, Nur mengungkapkan hal tersebut masih perlu untuk didiskusikan dengan pihak-pihak di internal UNY.
“Intinya, jika benar keduanya alumni, perlu kami diskusikan dengan pimpinan, komite etik dan pihak terkait untuk mengambil langkah selanjutnya,” pungkasnya.
(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.