Diaspora Muda Indonesia Tanggapi Pernyataan Seskab Teddy
Diplomasi internasional tidak dapat diukur hanya dari frekuensi perjalanan atau intensitas pertemuan.
Penulis:
willy Widianto
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Diaspora Muda Indonesia menegaskan, diplomasi internasional tidak dapat diukur hanya dari frekuensi perjalanan atau intensitas pertemuan.
- Pemerintah telah menjelaskan adanya sejumlah hasil nyata, mulai dari penguatan hubungan strategis dengan berbagai negara.
- Kritik dan masukan dari berbagai pihak merupakan bagian penting dalam demokrasi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Diaspora Muda Nusantara, Muh. Akmal Harviansyah, menyatakan sepakat dengan penjelasan yang disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya terkait berbagai hasil konkret dari kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Muh. Akmal Harviansyah, diplomasi internasional tidak dapat diukur hanya dari frekuensi perjalanan atau intensitas pertemuan, melainkan dari manfaat strategis yang berhasil diperoleh untuk kepentingan bangsa dan negara.
“Kami melihat penjelasan Seskab Teddy Indra Wijaya cukup komprehensif. Dalam konteks global yang sangat dinamis saat ini, diplomasi aktif Presiden Prabowo justru menjadi instrumen penting untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah perubahan geopolitik dan ekonomi dunia,” ujar Muh. Akmal Harviansyah dalam keterangannya, Selasa (2/6/2026).
Ia menilai berbagai capaian yang disampaikan pemerintah menunjukkan bahwa kunjungan luar negeri Presiden tidak bersifat seremonial semata.
Pemerintah telah menjelaskan adanya sejumlah hasil nyata, mulai dari penguatan hubungan strategis dengan berbagai negara, peningkatan kerja sama ekonomi, investasi, pertahanan, hingga pembukaan akses pasar dan peluang kerja sama baru bagi Indonesia.
Muh. Akmal juga menegaskan bahwa kritik dan masukan dari berbagai pihak merupakan bagian penting dalam demokrasi. Namun demikian, kritik harus tetap berlandaskan data dan fakta yang utuh.
“Kami menghormati pandangan Bapak Dino Patti Djalal sebagai diplomat senior. Namun kami tidak sependapat apabila kunjungan luar negeri Presiden dipersepsikan seolah hanya membebani negara atau tidak menghasilkan manfaat strategis. Fakta-fakta yang telah dipaparkan pemerintah menunjukkan sebaliknya,” tegasnya.
Diaspora Muda Nusantara juga mendukung penjelasan pemerintah bahwa berbagai agenda luar negeri Presiden dilakukan berdasarkan kebutuhan strategis nasional serta perkembangan global yang berlangsung sangat cepat.
Baca juga: Seskab Teddy Tak Sesuai Job Respons Kritik Dino Patti Djalal, Komunikolog: Seharusnya Bakom
Dalam situasi persaingan ekonomi dan geopolitik internasional yang semakin ketat, kehadiran langsung kepala negara dalam forum-forum strategis dunia menjadi faktor penting dalam memperkuat kepercayaan dan posisi tawar Indonesia.
Muh. Akmal menilai keberhasilan diplomasi Indonesia saat ini harus dilihat secara objektif melalui hasil yang diperoleh, termasuk semakin luasnya kerja sama internasional yang dibangun pemerintah serta meningkatnya minat investasi terhadap Indonesia.
“Bicara diplomasi harus bicara hasil. Dan ketika hasilnya adalah terbukanya peluang investasi, penguatan kerja sama strategis, serta meningkatnya posisi Indonesia di panggung global, maka itu patut diapresiasi sebagai kerja nyata untuk kepentingan nasional,” katanya.
Diaspora Muda Nusantara menilai diplomasi aktif yang dilakukan Presiden Prabowo turut memperkuat citra Indonesia di mata dunia dan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi generasi muda Indonesia di luar negeri.
Baca juga: Emrus Kritik Gaya Komunikasi Teddy saat Menanggapi Dino Patti Djalal
“Yang dibutuhkan saat ini adalah persatuan energi bangsa untuk mendukung agenda-agenda strategis nasional. Kritik tentu penting, tetapi jangan sampai mengaburkan fakta dan capaian yang telah berhasil diraih untuk Indonesia,” tutup Akmal.
Sebelumnya Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengungkap alasan Presiden Prabowo Subianto kerap melakukan kunjungan ke luar negeri selama 1,5 tahun terakhir. Teddy menerangkan, ketika Prabowo menjadi Presiden Indonesia, dunia tengah dilanda krisis.
Menurut Teddy, Kepala Negara harus membangun hubungan dengan pemimpin negara lainnya. Teddy menyebutkan, Indonesia tidak bisa hanya meminta bantuan kepada negara lain ketika sudah terjadi krisis. Presiden, kata dia, harus menjalin hubungan yang baik. Dengan begitu, ketika ada kondisi mendesak, Indonesia bisa meminta bantuan.
Teddy juga mengungkapkan bahwa seluruh kelebihan biaya perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang melampaui anggaran negara ditanggung secara pribadi oleh Presiden.
Kritikan Dino Patti Djalal
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal yang menilai frekuensi lawatan Presiden ke berbagai negara perlu dievaluasi agar tetap sejalan dengan kebutuhan dan prioritas nasional di dalam negeri.
Prabowo diketahui sudah melakukan kunjungan ke luar negeri lebih dari 50 kali hingga Mei 2026. Menurut Dino, Prabowo merupakan Presiden yang paling sering ke luar negeri.
"Semenjak menjabat menjadi Presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri dan tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran," kata Dino Patti Djalal dikutip dari akun instagramnya @dinopattidjalal.
Dino Patti Djalal menyampaikan 5 saran kepada Presiden Prabowo Subianto yang sering ke luar negeri. Menurut Dino, Prabowo merupakan Presiden yang paling sering ke luar negeri.
"Semenjak menjabat menjadi Presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri dan tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran," kata Dino Patti Djalal dikutip dari akun instagramnya @dinopattidjalal, Sabtu (30/5/2026).
Dino memprediksi dalam 18 bulan ke depan, Presiden Prabowo terus melakukan kunjungan internasional dalam frekuensi yang sama tingginya.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.