Peringatan Tsunami Berakhir, BMKG Beberkan Hasil Pemantauan Gelombang Laut
Pencabutan status ini dilakukan pascagempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina.
Penulis:
Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor:
Muhammad Zulfikar
Ringkasan Berita:
- Badan Meteorologi, Clintatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mengakhiri atau mencabut status peringatan dini tsunami untuk wilayah Indonesia, pada Senin (8/6/2026) pagi pukul 10.15 WIB.
- Pencabutan status ini dilakukan pascagempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina pada pukul 06.37 WIB.
- Gempa kuat bermagnitudo 7,7 tersebut berpusat di laut pada jarak 244 kilometer arah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara dengan kedalaman 47 kilometer.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Meteorologi, Clintatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mengakhiri atau mencabut status peringatan dini tsunami untuk wilayah Indonesia, pada Senin (8/6/2026) pagi pukul 10.15 WIB.
Pencabutan status ini dilakukan pascagempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina pada pukul 06.37 WIB.
Baca juga: Filipina Pastikan Gempa 7,8 SR Terjadi Karena Pergerakan Palung Cotabato
“Pengakhiran peringatan dini tsunami yang telah kami tetapkan tadi pada pukul 10.15 WIB. Peringatan ini perlu disampaikan agar Timsar, BPBD, Basarnas, serta TNI-Polri dapat melakukan penyelamatan di lokasi-lokasi yang terdampak,” kata Kepala BMKG Prof. Teuku Faisal Fathani saat konferensi pers, di Kantor BMKG, Jakarta, Senin.
Teuku Faisal menjelaskan, keputusan pengakhiran peringatan dini ini diambil setelah BMKG melakukan pemantauan ketat secara terus-menerus terhadap pergerakan dan kedatangan gelombang di permukaan laut.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, BMKG sempat mendeteksi adanya kedatangan gelombang tsunami minor (mikro) di tiga titik pemantauan di wilayah utara Indonesia dengan ketinggian berkisar antara 9 hingga 19 centimeter.
Berikut daftar wilayah pesisir Indonesia yang sempat mendeteksi adanya kedatangan tsunami minor diantaranya, Loloda (Halmahera Barat); Melonguane (Kepulauan Talaud) dan Ulu Siau (Kepulauan Sitaro).
Dia juga menjelaskan bahwa gempa kuat bermagnitudo 7,7 tersebut berpusat di laut pada jarak 244 kilometer arah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara dengan kedalaman 47 kilometer.
Kendati memiliki kekuatan yang cukup besar, BMKG meluruskan bahwa gempa ini dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng Laut Filipina dan bukan bersumber dari zona megathrust seperti yang sempat dikhawatirkan.
Meski status peringatan dini tsunami kini sudah resmi dicabut dan kondisi muka air laut telah kembali normal, BMKG tetap meminta masyarakat untuk tidak menurunkan kewaspadaan.
Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir pantai Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Gorontalo, diimbau untuk tetap tenang serta tidak terpengaruh oleh isu-isu hoaks yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
"Masyarakat diimbau agar tetap tenang dan mengikuti arahan dari pihak BPBD setempat," jelas Teuku Faisal.
Baca juga: Penampakan Kerusakan Rumah Warga akibat Gempa Magnitudo 7,7 di Sulut
Sebelumnya, gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah laut di utara Sulawesi pada pukul 06.37 WIB.
Pusat gempaberada sekitar 244 kilometer barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara dengan kedalaman 47 kilometer.
Berdasarkan analisis BMKG, gempa tersebut berpotensi memicu tsunami sehingga peringatan dini segera diterbitkan untuk sejumlah wilayah di Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara hingga Kalimantan Timur.
Selama masa pemantauan, gelombang tsunami terdeteksi di beberapa titik pengamatan.
Ketinggian gelombang tertinggi tercatat di Talengan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara mencapai 0,75 meter.
Selain Talengan, tsunami juga terdeteksi di Tahuna, Melonguane, Bitung, Paleleh, Ternate, Loloda, Ulusiau, dan Tanjung Siduapa dengan ketinggian yang bervariasi.