Tribun

Fenomena Bubble Burst hingga PHK massal Perusahaan Rintisan, Pakar Singgung Kompetensi SDM

Munculnya startup di tanah air memicu gelombang transaksi penjualan yang luar biasa dari konsumen dan diikuti dengan penawaran harga barang di pasar

Penulis: Willem Jonata
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Fenomena Bubble Burst hingga PHK massal Perusahaan Rintisan, Pakar Singgung Kompetensi SDM
IST
Ilustrasi startup 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Willem Jonata 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  - Belakangan ini sejumlah perusahan rintisan atau startup melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawannya sebagai imbas ketidakstabilan finansial.

Kondisi itu diduga karena fenomena ledakan gelembung atau bubble burst yang saat ini disebut tengah melanda perusahaan startup di Indonesia.

Bubble burst dapat dimaknai sebagai fenomena terjadi eskalasi atau pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi, terutama pada nilai aset, namun diiringi dengan nilai penurunan yang cepat.

Menurut Pakar Ekonomi Bidang Sumber Daya Manusia Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung, (FE Unissula) Semarang, Prof Olivia Fachrunnisa SE MSi Ph.D, kondisi ini disebabkan oleh adanya gelombang transaksi penjualan yang berdampak pada turunnya harga di pasar.

Ia menilai munculnya startup di tanah air memicu gelombang transaksi penjualan yang luar biasa dari konsumen dan diikuti dengan penawaran harga barang di pasar.

"Euforia ini berefek menimbulkan turunnya harga. Keuntungan yang sebelumnya meningkat pesat menjadi turun drastis, ditambah lagi muncul inflasi efek dari kenaikan permintaan dari konsumen,” jelas Olivia dalam keterangannya.

Baca juga: Marak PHK Karyawan Startup, Legislator Minta Ada Perlindungan Pekerja

Startegi bakar uang yang dilakukan oleh perusahaan rintisan juga dapat menjadi penyebab dari terjadinya fenomena bubble burst.

Uang yang dikeluarkan untuk membangun merek perusahaannya tidak sejalan dengan perkembangan bisnis yang ada.

Di sisi lain investor sebagai penyuplai dana tidak sabar untuk menunggu keuntungan yang datang, sehingga perusahaan menggunakan sebagian uangnya untuk membayar para investor.

Fenomena bubble burst juga tidak luput dari ketidakmampuan kompetensi sumber daya yang memumpuni dalam perusahaan rintisan. Hal ini juga dapat memicu semakin turunnya nilai bisnis yang baru.

"Modal yang digelontorkan sedemikian banyak dengan usaha yang belum mendapatkan keuntungan, dan mulai ditinggalkan investor karena belum memberikan keuntungan, akan mempercepat turunnya nilai perusahaan startup dan efeknya muncul gelombang baru yaitu downsizing yaitu pengurangan karyawan dengan cepat, yang diawal para startup ini muncul dan merekrut SDM yang banyak,” jelasnya.

Fenomena bubble burst tidak boleh semakin melebar.

Menurut Prof. Olivia Fachrunnisa, solusi yang perlu dilakukan oleh perusahaan rintisan adalah, meningkatkan kompetensi kapabilitas inovasi, kreatifitas dan perilaku individu dalam organisasi.

Kemudian melakukan re-balancing ketika terjadi pergolakan bisnis, dan fokus untuk benefit dalam jangka panjang.

Ia menambahkan potensi startup dalam membangun ekonomi bangsa sangat besar.

Tapi perlu adanya peningkatan value dengan meningkatkan financial literacy bagi para investor dan human value literacy bagi para pelaku bisnis.

"Dibutuhkan SDM yang memiliki value lebih dan kompetensi, tidak saja dalam bidang teknologi maupun organisasi, tetapi lebih tepatnya kemampuan SDM startup untuk memadukan antara finansial, teknologi, dan organisasi secara bersamaan,” pungkasnya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas