Kementerian Kelautan dan Perikanan Luncurkan Motor Berpendingin
Sebuah sepeda motor beroda tiga dilengkapi kotak pendingin (cool box) berukuran besar menjadi pusat perhatian dalam pameran
Penulis:
Wahyu Aji
Editor:
Johnson Simanjuntak
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebuah sepeda motor beroda tiga dilengkapi kotak pendingin (cool box) berukuran besar menjadi pusat perhatian dalam pameran bertajuk Gelar Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan, di Hotel Park, Jl. DI Panjaitan Kav. 5, Cawang, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (5/6/2013).
Motor yang satu ini didominasi warna biru putih. Dan kotak besar yang menempel di jok belakangnya berfungsi untuk mendinginkan, membekukan, dan mengawetkan produk ikan atau ikan olahan, layaknya lemari pendingin (kulkas).
Balai Besar Pengembangan dan Pengendalian Hasil Perikanan (BBP2HP) Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (Ditjen P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebutnya sebagai Motor Roda Tiga Berpendingin.
"Bisa juga disebut Sarana Pendingin Bergerak atau singkatnya SPG," kata Harinto Wibowo, Kepala BBP2HP Ditjen P2HP KKP, Rabu.
Kepada pengunjung termasuk Direktur Jenderal P2HP KKP Saut P Hutagalung, Harinto memperkenalkan SPG ini sebagai karya inovatif tim dari instansinya, yang berfungsi sebagai sarana pemasaran bergerak untuk memasarkan produk ikan segar, ikan beku atau ikan olahan. SPG itu dilengkapi cool box yang dapat mempertahankan ruang penyimpanan pada suhu sekitar minus 16 derajat Celcius.
"Sehingga bisa menyimpan produk-produk beku yang daya awetnya tahunan, bisa satu tahun lebih atau bahkan dua tahun," katanya.
Keunggulan lainnya, kata dia, cool box SPG tersebut menggunakan dua sumber daya, listrik, dan motor itu sendiri. Bahkan, bisa juga menggunakan genset. Hebatnya lagi, cool box berdimensi 163 x 126 x 126 cm3 itu mampu menampung muatan hingga 500 kg.
"SPG ini adalah pengembangan dari alat serupa yang sudah berjalan sebelumnya. Di mana yang sebelumnya, itu hanya menggunakan motor tidak bisa menggunakan listrik, dan suhunya hanya 5°C," ujar Harinto.