Tribun Otomotif
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

PLN Janjikan Tarif Ngecas Kendaraan Listrik Lebih Murah dari Beli Bensin

Kementerian ESDM baru akan berdiskusi lebih dalam dengan pihak Perusahaan Listrik Negara, untuk menentukan tarif yang pas.

PLN Janjikan Tarif Ngecas Kendaraan Listrik Lebih Murah dari Beli Bensin
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Direktur Bisnis Regional Jawa bagian Barat Haryanto WS bersama mahasiswa ITS menaiki mobil Tim Jambore Kendaraan Listrik Nasional saat finish di kantor PLN UID Jakarta Raya, Jalan Ridwan Rais, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (3/9/2019). Jambore nasional yang digelar oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut berbentuk rallay dan menempuh jarak 900 kilometer (km) dari Surabaya menuju Jakarta. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Euforia kendaraan listrik di Indonesia telah dimulai. Satu per satu para instansi dari beragam sektor yang terkait sudah berlomba menyodorkan ragam failitas serta inovasi terkait infrastruktur pendukungnya.

Meski demikian, masalah soal tarif listrik masih belum putus.

Seperti diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM) baru akan berdiskusi lebih dalam dengan pihak Perusahaan Listrik Negara, untuk menentukan tarif yang pas untuk konsumsi kendaraan listrik.

"Saat ini yang kita gunakan itu 1.650 per kWh, tapi nanti akan kita diskusikan lagi berapa tarif yang pantas, apakah akan ada insentif lain agar menekan harga atau bagaimana itu belum diputuskan," ucap Direktur Teknik dan Lingkungan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan ESDM Wanhar, dalam gelaran Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019 di Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Ketika bertemu dengan General Manager PLN Disjaya M Ikhsan Asaad, secara terpisah dirinya menmbenarkan bila masalah penetapan tarif sampai saat ini masih terus dikaji, terutama untuk yang nantinya diterapkan pada stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).

Ikhsan juga menjelaskan bila beberapa operator transportasi umum yang akan menggunakan bus listrik telah meminta kejelasan soal insentif tarif yang bakal diberikan oleh PLN untuk pengisian daya operasional.

"Betul kita masih diskusikan. Saat ini kita pakai Permen 27/2016 itu kan Rp 1.650 per kWh, nanti akan kita lihat, mungkin memberi insentif, tapi kita lagi bicarakan dengan regulator, skemanya bagaimana supaya pihak swasta juga ikut tertarik untuk investasi," ujar Ikhsan.

Ketika ditanya soal kisaran tarifnya nanti akan menjadi berapa, Ikhsan hanya menegaskan bila semua itu nanti akan tergantung dari biaya investasi charging sendiri yang akan dijadikan sebagai faktor N dalam penentuan tarif.

Baca: Istana Akan Tangani Aktor Rusuh Papua Benny Wenda Secara Politik, Tidak Militer

Tapi dia menegaskan yang pasti tarif listrik per 1 kWh untuk untuk mobil atau motor listrik nantinya akan lebih murah dari harga bahan bakar minyak (BBM).

Baca: Kronologi Laka Maut Tol Cipularang: Dipicu Dump Truck yang Terguling

"Misalnya sekarang Rp 1.650 per kWh, nanti akan dikalikan dengan faktor N tadi, bisa saja menjadi Rp 2.200 per kWH. Tapi yang jelas dan pasti harus lebih murah dari harga bensin saat ini, mau itu Pertamax atau Pertalite akan kita cari selisih lebih murahnya," kata Ikhsan.

Baca: Bima Aryo Membela Diri, Belum Tentu Anjing Sparta yang Serang ART-nya Sampai Tewas

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kompas.com
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas