Pasar EV Melesat, Model Makin Banyak dan Harga Kian Terjangkau
salah satu pendorong utama pertumbuhan kendaraan listrik adalah makin banyaknya model dan positioning harga yang kian menarik.
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Pertumbuhan pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia menunjukkan tren yang sangat pesat, didorong oleh kebijakan pemerintah
- Data Gaikindo mencatat peningkatan signifikan dari hanya 4 model EV pada 2020 menjadi sekitar 70 model pada 2026
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pasar kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Selain didorong oleh kebijakan pemerintah, peningkatan ini juga ditopang oleh semakin banyaknya pilihan model dan strategi harga yang lebih kompetitif dari para produsen.
Perkembangan tersebut turut mengubah struktur pasar otomotif nasional, termasuk pergeseran preferensi konsumen ke kendaraan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Baca juga: Industri Otomotif Punya Kapasitas 2,5 Juta Unit, Ekspor Jadi Andalan saat Permintaan Domestik Lesu
CEO Degree Synergy International Andrea Suhendra menilai, salah satu pendorong utama pertumbuhan ini adalah makin banyaknya model dan positioning harga yang kian menarik.
"Pasar EV meningkat dengan pilihan modelnya terus bertambah. Tahun 2020 cuma 4 model, 2022 cuma 21 model berdasarkan data Gaikindo. Sekarang sudah ada 70-an model. Pilihannya banyak banget dan ini driven by model tadi, price positioning mereka dan total cost of ownership yang ditawarkan. Jadi kalau secara overall ataupun year to date kuartal satu itu 15,9 persen market contribution dari EV," tutur Andrea dalam agenda Forum Wartawan Industri "Bincang-bincang Lonjakan Harga Minyak Dunia, Momentum Genjot Adopsi Electric Vehicle (EV)", Kementerian Perindustrian, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (22/4/2026).
Pertumbuhan ini juga ditandai dengan masuknya berbagai merek baru yang agresif menghadirkan model-model terbaru.
Kondisi tersebut membuat peta persaingan segmen elektrifikasi semakin ketat dan memberi lebih banyak opsi bagi konsumen.
"Ini sangat terlihat sekali bagaimana penetrasi brand-brand baru, merek-merek baru dengan model baru yang diluncurkan di pasar di Indonesia. Pasar EV pun mulai berubah, yang tadinya banyak model di atas harga Rp 500 juta, sekarang komposisi yang terbesar adalah model di bawah Rp 500 juta seperti Jaecoo J5 dan BYD Atto 3," terangnya.
Di segmen lain, kendaraan hybrid juga menunjukkan tren peningkatan yang cukup kuat. Hal ini tak lepas dari strategi produsen Jepang yang fokus pada pendekatan bertahap dalam elektrifikasi.
"Sementara hybrid kita melihat bahwa ini penjualannya meningkat karena ada model-model baru dari hybrid dan itu dari brand Jepang," ucap Andrea.
Andrea menjelaskan, strategi merek Jepang lebih menekankan pada edukasi pasar sekaligus menyediakan solusi transisi melalui teknologi hybrid.
Pendekatan ini dinilai sangat efektif karena menawarkan efisiensi tanpa mengubah kebiasaan pengguna secara drastis.
"Strategi dari brand Jepang adalah mengedukasi dan mempersiapkan. Mereka harus punya solusinya yaitu dengan hybrid, which is dengan efisiensi energinya, fuel consumption-nya juga. Hybrid ini naik cukup besar juga market-nya dan karena salah satunya adalah Veloz Hybrid. Kita lihat jumlah varian hybrid yang tersedia dari data adalah 35 model," imbuhnya.
Sementara itu, segmen Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) mulai menunjukkan geliat meskipun masih membutuhkan edukasi pasar yang lebih luas.
Akan tetapi, peningkatan penjualan yang terjadi dinilai cukup signifikan dalam waktu singkat. Lonjakan penjualan PHEV terjadi seiring bertambahnya pilihan model dan semakin terjangkaunya harga. Perubahan ini membuat segmen tersebut mulai dilirik konsumen.
"Kita perhatikan contoh di Januari-Maret tahun lalu jualan cuma 42 unit, periode yang sama tahun ini sudah 1.521 unit. Market share-nya sudah hampir 1 persen, karena pilihannya banyak, tadinya cuma ada model-model yang mahal," ungkap Andrea.
Andrea menilai, ke depan PHEV dapat menjadi solusi transisi penting sebelum adopsi kendaraan listrik sepenuhnya. Terlebih, pasar Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan elektrifikasi kendaraan.
"Dulu Plug-in Hybrid itu harganya Rp 1,9 miliar-an, sekarang sudah muncul model-model baru. Jadi kesimpulan kami, pasar Indonesia sangat potensi. Tapi kita butuh transisi di mana Plug-in Hybrid," ujarnya.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.