Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Penggemar K-Pop di Indonesia Alami Kasus Kekerasan Berbasis Gender Online Gara-gara Mayoritasnya Perempuan

Fenomena fangirling K-Pop di Indonesia masih belum bisa diterima dengan baik. Hal itu memantik kekerasan berbasis gender online kepada para fangirl.

Penggemar K-Pop di Indonesia Alami Kasus Kekerasan Berbasis Gender Online Gara-gara Mayoritasnya Perempuan
Ilustrasi Parapuan Foto 2021-07-19 14:01:09 

Parapuan.co - Kegiatan fangirling yang dilakukan oleh kelompok perempuan penggemar masih terasa asing di Indonesia.

Sistem patriarki yang masih mendominasi struktur budaya Indonesia membuat perempuan selalu dibatasi dalam melakukan hobi atau menyukai sesuatu.

Fandom grup musik K-Pop yang cukup besar di Indonesia membuat jumlah fangirl menjadi tinggi dan menyebar di seluruh wilayah.

Perkembangan fangirl yang pesat menimbulkan pandangan negatif dari masyarakat Indonesia yang merasa perempuan tidak boleh menggemari sesuatu dan secara aktif mengekspresikan rasa sukanya.

Baca Juga: Menjadi Fenomena Budaya Pop di Indonesia, Ini yang Dimaksud dengan Fangirling

Lewat media sosial, ujaran kebencian dari masyarakat umum dilontarkan kepada para fangirl.

Ujaran kebencian tersebut seringkali menyerang gender dan memojokkan posisi perempuan, maka kasus-kasus tersebut bisa dikategorikan sebagai Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO).

Pada acara kolaborasi BTS ARMY Indonesia dengan SAFEnet yang bertajuk #SpeakYourself: Ruang Aman untuk Penyintas, dari ARMY, Jasmine Floretta dari Kajian Gender Universitas Indonesia, menceritakan pengalaman dan analisisnya terkait dengan kasus KBGO.

Jasmine sebagai seorang fangirl pernah mengalami dan melihat kasus KBGO yang terjadi kepada para perempuan penggemar di media sosial Twitter.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas