Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Dino Patti Djalal: Luas Indonesia Hanya Dua Juta Km Persegi Saat Merdeka

Dino Patti Djalal mengapreasiasi secara khusus akan perjuangan ayahnya, Hasjim Djalal yang juga dikenal sebagai seorang pakar hukum laut ternama.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Dino Patti Djalal: Luas Indonesia Hanya Dua Juta Km Persegi Saat Merdeka
Tribun Sumsel/M AWALUDDIN FAJRI
Peserta konvensi capres Partai Demokrat, Dino Patti Djalal saat menjawab pertanyaan dari moderator pada acara Debat Bernegara di Gedung PSCC, Palembang, Sabtu (25/1/2014). Selain Anies, hadir pada pada acara tersebut tiga peserta konvensi yang lain, yaitu Endriartono Sutarto, Marzuki Alie, dan Anies Baswedan. Keempat peserta konvensi masing-masing menyampaikan visi dan misi mereka sebagai calon presiden. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dino Patti Djalal mengapreasiasi secara khusus akan perjuangan ayahnya, Hasjim Djalal yang juga dikenal sebagai seorang pakar hukum laut ternama.

Peserta Konvensi Calon Presiden (Capres) Partai Demokrat ini, mengatakan bahwa ayahnya, Hasjim Djalal selama 30 tahun memperjuangkan luas wilayah Indonesia dalam berbagai perundingan di PBB.

“Bicara mengenai masalah perbatasan, bagi saya ini (seperti) masalah pribadi,” papar Dino dalam keterangan tertulisnya kepada Tribunnews.com, Minggu (23/2/2014).

Menurut Dino, pada saat merdeka tahun 1945, wilayah Indonesia hanya dua juta kilometer persegi, tetapi saat ini luas wilayah Indonesia meningkat tiga kali lipat menjadi hampir enam juta kilometer persegi.

Sebelumnya dalam beberapa kesempatan Dino mengakui, ayahnya menjadi salah satu ilham dalam hidupnya dan perjuangan ayahnya telah memotivasinya untuk maju menjadi Calon Presiden kovensi Partai Demokrat.

Dino berterus terang bahwa ayahnya adalah salah satu mentor dalam hidupnya, selain para diplomat senior seperti Ali Alatas, Hassan Wirajuda, dan lain-lainnya.

Menurut mantan Duta Besar termuda Indonesia untuk Amerika Serikat itu, untuk mengatasi masalah perbatasan yang diperlukan bukan pendekatan yuridis formal, namun lebih kepada pendekatan sosial ekonomi.

Rekomendasi Untuk Anda

“Secara yuridis kita tidak ada masalah lagi mengenai perbatasan, namun jangan terlalu menggunakan paradigma keamanan saja, tapi harus diimbangi dengan paradigma ekonominya juga,” papar Dino yang mengusulkan agar kesejahteraan masyarakat Indonesia di perbatasan bisa terus ditingkatkan.

Sementara terkait isu penyelundupan narkoba dan kejahatan lainnya di perbatasan, Dino mengatakan, “Dulu kita punya yang disebut Panitia Koordinasi Wilayah Nasional  (Pankorwilnas), kalau saya menjadi Presiden saya akan hidupkan lagi Pankorwilnas untuk mengatasi berbagai isu keamanan dan menambah sistem logistik pengawasan keamanan di wilayah perbatasan,” tambah Dino.

Dino juga mengatakan bahwa dirinya mengusung konsep nasionalisme unggul dengan politik biaya rendah untuk memberikan contoh konkret bahwa kampanye politik di Indonesia bisa dilakukan dengan biaya yang murah dan transparan.

Dino adalah satu-satunya peserta konvensi Capres Partai Demokrat yang secara sukarela melaporkan rekening kampanyenya untuk diawasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan juga melaporkan penggunaan dana kampanyenya kepada publik melalui twitter.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas