Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Jokowi Efek Dibahas di Australia

Jokowi Effect dibahas dengan rinci oleh Dr Dirk Tomsa, pengajar pada Universitas La Trobe.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Rachmat Hidayat
zoom-in Jokowi Efek Dibahas di Australia
Tribunnews/Herudin
Calon Presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Joko Widodo atau Jokowi saat menghadiri acara jumpa pers posko relawan Pro Jokowi (Projo) di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (11/4/2014)lalu. 

TRIBUNNEWS.COM, AUSTRALIA - Masalah dampak pencalonan Joko Widodo sebagai presiden dari PDIP terhadap pencapaian suara partai tersebut dalam pemilu legislatif  2014, menjadi topik kuliah terbuka di Universitas Melbourne, Senin (14/4/2014) malam.

Dalam kuliah bertajuk, The Indonesian Election; What Really Happened, apa yang disebut sebagai Jokowi Effect dibahas dengan rinci oleh Dr Dirk Tomsa, pengajar pada Universitas La Trobe.

Dalam uraiannya, Tomsa menjelaskan mengapa Jokowi Effect dianggap tidak berhasil memberikan dampak raihan suara yang diharapkan sebelumnya oleh PDIP.

Sebelum pelaksanaan Pileg,  PDIP disebut berharap akan mendapatkan suara lebih dari 27 persen secara nasional karena pencalonan Jokowi. Namun, dari hasil hitung cepat yang sudah muncul sejauh ini di Indonesia, PDIP hanya meraih suara antara 18-19 persen.

Menurut Tomsa, beberapa faktor dilihatnya sebagai penentu berkurangnya target raihan suara tersebut.

"Salah satunya adalah pengumuman pencalonan yang begitu dekat menjelang pemilihan, sistem pemilihan, perilaku pemilih dan juga faktor media massa di Indonesia," kata Tomsa.

"Penentuan pencalonan Jokowi hanya beberapa hari menjelang pemungutan suara membuat PDiP tidak bisa maksimal menggunakan kepopuleran Jokowi. Seharusnya pengumuman ini dilakukan jauh sebelumnya atau tidak diumumkan sama sekali," kata Tomsa.

Rekomendasi Untuk Anda

Tetapi faktor yang lebih besar menurut Tomsa adalah sistem pemilihan di Indonesia dan perilaku pemilih. Dalam pemilu, warga memilih nama calon selain partai dimana calon tersebut berasal.

"Para calon ini di seluruh Indonesia memiliki tim sukses sendiri. Mereka sudah lama bergerak sendiri jauh sebelum Jokowi dicalonkan. Para calon ini menjalankan strategi mereka sendiri, dan tidak selalu mendukung kebijakan partai atau calon presiden," kata Tomsa.

Pendapat ini juga didukung oleh pembicara Dr Dave McRae, peneliti senior Universitas Melbourne, yang mengikuti dari dekat proses pemilihan di Indonesia dengan meneliti perilaku pemilih di Surabaya dan Sidoarjo di Jawa Timur.

"Kebanyakan kampanye di daerah tidaklah kampanye mempromosikan partai mereka ataupun calon presiden. Kampanye banyak dilakukan lewat pertemuan dengan masyarakat, dan isu yang disampaikan sangat lokal dan kadang yang disampaikan bertentangan dengan kebijakan partai," kata Dave McRae.

McRae mencontohkan bahwa dalam salah satu kampanye di Surabaya, seorang caleg dari PDIP menentang penutupan lokalisasi Dolly walau hal itu merupakan kebijakan dari Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang berasal dari partai yang sama.

Walau hasil penghitungan suara sementara lebih rendah dari perkiraan PDIP dan berbagai pihak lainnya, pembicara dalam kuliah umum di Melbourne ini masih sepakat bahwa Jokowi masih merupakan favorit besar untuk memenangkan pemilihan presiden bulan Juli mendatang.

Salah seorang peserta, Nicolas Reece dari Jurusan Ilmu Politik dan Sosial Universitas Melbourne mengatakan bahwa di sisi lain, Jokowi Effect tetap bisa diihat karena dalam pemilu 2014 suara PDIP naik 5 persen dibanding pemilu sebelumnya.

"Ini perolehan yang cukup signifikan kalau melihat bahwa dalam pemilu ini ada 12 partai yang bertarung," kata Reece.

Pembicara lain dalam kuliah tersebut adalah Prof Thomas Reuter dari Universitas Melbourne dan Dr Vannessa Hearman dari Universitas Sydney.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas