Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Wanda Hamidah Sedih Partainya Dukung Prabowo

Wanda Hamidah ternyata kecewa atas keputusan partainya yang mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Rachmat Hidayat
zoom-in Wanda Hamidah Sedih Partainya Dukung Prabowo
Wartakotalive.com/Nur Ichsan
Wanda Hamidah 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Wanda Hamidah ternyata kecewa atas keputusan partainya yang mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden.

Wanda yang masih menjadi anggota DPRD DKI ini kemudia menyatakan dukungannya terhadap Joko Widodo.

"Kemarin, saya deklarasi di twitter, dukung Jokowi-Jusuf Kalla. Memang, tidak ada pemimpin yang sempurna. Akan tetapi, kita harus pilih yang terbaik,” kata Wanda Wamidah , Senin (19/5)/2014.

Dalam diskusi publik bertajuk “Mengingat dan Mengupas Kasus Mei 1998” yang diselenggarakan Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) bekerjasama dengan Freedom Institute, Wanda kemudian berharap penegak hukum yang diduga terlibat dalam kasus pelanggaran HAM 1998, baik itu dari kalangan TNI maupun Polri, mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan pengadilan.

"Hingga saat ini, penuntasan kasus pelanggaran HAM masih jauh dari harapan.  Negara turut bertanggungawab atas penuntasan kasus-kasus dugaan pelanggaran HAM tersebut," katanya.

Jika nanti Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla terpilih, Wanda akan  meminta Jokowi-JK berkomitmen menuntaskan kasus-kasus dugaan pelanggaran HAM yang terjadi selama ini.

"Siapa pun yang terpilih nanti, jangan jadikan kasus ini sebagai komoditas politik. Meski, saya dukung Jokowi-JK, nanti saya akan tagih, komitmen Anda atas kasus Mei 98 ini seperti apa? Tetap akan saya tagih nanti,” tuturnya.

Terkait dengan sikap politik PAN yang berkoalisi dan mendukung Prabowo sebagai capres, Wanda mengaku terluka hatinya.

Sejak awal, lanjutnya dirinya memutuskan terjun ke dunia politik karena  alasannya adalah untuk turut mendesak penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu.

Yang dinilainya turut menodai perjalanan reformasi seperti yang diperjuangkannya dulu dalam gerakan mahasiswa 1998.

"Dan saat ini, ketika ketua umum saya lakukan koalisi, ini menjadi luka yang harus saya telan dalam-dalam. Saya terluka. Saya tetap tidak bisa menerimanya. Idealisme itu, dimana pun mereka berada para aktivis 98, idealisme  tetap akan mereka bawa,” pungkasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas