Mantan KSAD: Jangan Cederai Reformasi TNI Selama 15 Tahun
Adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan sikap TNI yang mesti netral dalam Pemilu.
Penulis:
Srihandriatmo Malau
Editor:
Rendy Sadikin
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI (Purn) Pramono Edhie Wibowo angkat suara terkait isu adanya pelibatan oknum TNI aktif menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, baik itu Bintara Pembina Desa (Babinsa) maupun Perwira Tinggi TNI aktif.
Adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan sikap TNI yang mesti netral dalam Pemilu. Karena itu, peserta konvensi calon presiden Demokrat ini meminta tiap anggota TNI aktif tetap menjunjung tinggi sikap yang sudah diperjuangkan dan dijalankan selama 15 tahun ini.
"Sebaiknya apa yang dijalani TNI selama 15 tahun setelah reformasi ini terus bahwa TNI milik negara bukan satu golongan saja. Oleh sebab itu, netralitas TNI harus dijaga," tegas anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini saat ditemui di sekitar Bunderan Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Jumat (5/6/2014).
Mendengar adanya kabar TNI aktif dikerahkan mendukung salah satu capres, Pramono Edhie sangat kecewa. Sebab, sikap tersebut sangat mencederai semangat yang selama ini dijunjung tinggi TNI.
"Ya berpihak atau pengerahan TNI aktif tidak boleh. Pertama menciderai apa yang sudah dilakukan pada saat reformasi. Kita katanya reformasi TNI tidak boleh melakukan politik praktis. Kalau dilakukan ya silakan TNI mengambil keputusan," tandas Purnawirawan bintang empat ini.
Baca tanpa iklan