Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Calon Presiden 2014

PD Gabung ke Prabowo, Hasto: Publik Ingat Iklan "Katakan Tidak Pada Korupsi"

"Hal itulah yang mungkin menjadi alasan, mengapa akhirnya Demokrat mendukung Prabowo," ujar Hasto.

PD Gabung ke Prabowo, Hasto: Publik Ingat Iklan
NET
Iklan anti korupsi Partai Demokrat yang sempat ditayangkan saat Pemilu 2014

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Juru Bicara Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) menyindir bergabungnya Partai Demokrat ke Prabowo Hatta dengan iklan "Katakan Tidak" yang ditayangkan Metro TV.

Menurut Hasto, publik masih ingat bagaimana pada pilpres 2009, Partai Demokrat mengiklankan secara masif iklan "katakan tidak pada korupsi". Ada Angelina Sondakh, Andi Malarangeng, Ibas, dan Anas Urbaningrum.

"Namun, hampir semuanya "bintang iklan" antikorupsi itu justru menjadi pelaku korupsi," kata Hasto, Selasa (1/7/2014).

Hasto mengungkapkan, bermaksud untuk mendidik masyarakat, replikasi iklan pun dibuat dan ditayangkan Metro TV secara terus menerus untuk acara Sentilan Sentilun.

Sindiran iklan tersebut, kata dia, rupanya membikin panas kubu Demokrat.

Lebih-lebih setelah Suryo Paloh dengan penuh semangat mendukung Jokowi, maka penayangan "tiruan katakan tidak pada korupsi" pun menambah aroma dendam atas kritikan tajam tersebut.

"Hal itulah yang mungkin menjadi  alasan, mengapa akhirnya Demokrat mendukung Prabowo," ujarnya.

Karena paling tidak menurut Hasto, di "Kapal Besar" Prabowo-Hatta, berlabuh partai yang oknum kadernya, atau bahkan pimpinannya melekat berbagai persoalan seperti terkait Lumpur Lapindo, Korupsi Impor Daging, Korupsi pencetakan Al Qur'an, korupsi Haji, penumpulan hukum untuk kecelakaan putra pejabat, dan juga persoalan terkait dengan "pencurian patung-patung di Museum".

"Kasus Century dan Hambalang pun kini melengkapi berlabuhnya kapal besar penuh masalah tersebut," sindirnya.

Dengan kondisi dan dinamika yang seperti itu, kata Hasto, Pilpres menjadi semakin menarik.

Di situlah terjadi persaingan dua kubu yakni kubu pertama memiliki modal besar, barisan die hard ala FPI, dan sama-sama senasib sepenanggungan terhadap berbagai persoalan penegakan hukum dan korupsi.

Sementara kubu kedua, lanjut Hasto, yakni Jokowi-JK adalah kekuatan pergerakan rakyat.

"Rakyat bergerak, menyongsong perubahan karena Jokowi adalah kita.

Modal sedikit tidak masalah, yang penting semangat dan keyakinana terhadap pemimpin yang merakyat dan berpengalaman seperti Jokowi.
Selamat datang kekuatan perubahan Jokowi-JK versus kekuatan status quo Prabowo-Hatta," pungkasnya.

Ikuti kami di
Editor: Hasanudin Aco
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas