Tribun

Calon Presiden 2014

Pengamat: Ada Skenario Besar Menjegal Jokowi

Direktur Indonesia Public Institute Karyono Wibowo mengatakan, skenario besar telah diciptakan untuk menjegal Joko Widodo (Jokowi) menjadi presiden.

Penulis: Hasanudin Aco
zoom-in Pengamat: Ada Skenario Besar Menjegal Jokowi
Warta Kota/henry lopulalan
Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut dua, Joko Widodo (kiri) dan Jusuf Kalla (kanan) saat memberikan keterangan pers di Bandung, Jawa Barat, Kamis (3/7/2014). Dalam kesempatan tersebut, Jokowi-JK memaparkan sembilan program nyata di antaranya adalah meningkatkan kesejahteraan PNS, TNI, dan Polri, mengalokasikan dana untuk desa dan menurunkan tingkat pengangguran. (Warta Kata/Henry Lopulalan) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Indonesia Public Institute Karyono Wibowo mengatakan, skenario besar telah diciptakan untuk menjegal Joko Widodo (Jokowi) menjadi presiden.

Hal itu, kata Karyono, terlihat jelas setelah Partai Demokrat resmi mendukung kandidat presiden Prabowo Subianto.

"Ada skenario besar yang disiapkan untuk melawan dan menjegal Jokowi menjadi presiden. Hal itu terlihat, salah satunya dari bergabungnya Partai Demokrat mendukung Prabowo," kata Karyono dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (4/7/2014).

Karyono mengatakan, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai presiden memang telah menyatakan diri akan bersikap netral.

"Tapi, ada sesuatu yang paradoks. Di sisi lain, SBY adalah ketua umum Partai Demokrat. Dukungan yang diberikan Partai Demokrat bukan tanpa alasan," ujarnya.

Beberapa kali, kata Karyono, SBY sebagai presiden di hadapan publik meminta aparat netral. Namun, lanjut dia, dukungan Partai Demokrat yang juga dipimpin SBY bakal menggoyahkan netralitas aparat dan pejabat pemerintahan di pusat dan daerah, termasuk juga militer dan Polri.

Secara khusus, Karyono memandang, dukungan yang diberikan Partai Demokrat juga akan menyebabkan militer tidak bersikap netral.

Apalagi, lanjutnya, Prabowo adalah satu-satunya kandidat yang berasal dari kalangan militer.

"Ada sentimen korps. Keluarga militer bisa condong ke salah satu kandidat karena hanya Prabowo satu-satunya calon dari militer.

Ini sangat berbahaya jika aparat sudah tidak netral. Oleh karena itu, masyarakat harus meminta komitmen netralitas Panglima TNI dan Kapolri," ujar Karyono.

Skenario lainnya yang terlihat, kata Karyono, muncul dari pembentukan opini publik yang disampaikan melalui lembaga survei sejak beberapa pekan terakhir.

Beberapa lembaga survei, lanjutnya, menghasilkan survei yang tidak wajar karena menyatakan ada kenaikan elektabilitas yang fantastis dari Prabowo bahkan mengungguli Jokowi.

"Ini lompatan elektabilitas yang sangat jauh dalam waktu sangat singkat. Sangat tidak mungkin. Sulit dipercaya.

Bagaimana mungkin Prabowo dalam waktu singkat elektabilitasnya bisa meningkat drastis, apalagi sampai mengungguli Jokowi. Tidak mungkin bisa dipercaya," ujar Karyono.

Karyono meyakini lembaga survei yang hasilnya menyatakan elektabilitas Prabowo meningkat drastis maupun telah melampaui Jokowi pasti berafiliasi dengan kekuatan politik tertentu. Melalui hasil survei yang abal-abal, lanjutnya, psikologi masyarakat berusaha dipengaruhi.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas