Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pakar Psikologi: Dukungan Elite Politik Belum Tentu Mengakar ke Kadernya

Menurut dia, hal ini karena tidak adanya basis ideologi yang kuat dalam partai-partai.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Arif Wicaksono
Editor: Rendy Sadikin
zoom-in Pakar Psikologi: Dukungan Elite Politik Belum Tentu Mengakar ke Kadernya
TRIBUN/DANY PERMANA
Calon Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto didampingi Calon Wakil Presiden masing-masing, Hatta Rajasa, serta Jusuf Kalla usai melakukan debat di Hotel Gran Melia, Jakarta, Minggu (15/6/2014). Debat Capres yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum tersebut merupakan rangkaian menuju proses Pilpres yang akan digelar 9 Juli mendatang. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pakar Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Hamdi Muluk, mengatakan bahwa tidak ada jaminan dukungan elite politik mengakar ke kadernya lalu kemudian ke masyarakat.

Menurut dia, hal ini karena tidak adanya basis ideologi yang kuat dalam partai-partai. Alhasil, hal tersebut tidak menjamin 100 persen terhadap dukungan tersebut.

"Tidak ada jaminan bahwa kader Partai Demokrat akan mendukung Prabowo-Hatta, tidak ada jaminan bahwa kader Golkar akan mendukung Prabowo, jika PDIP mendukung Jokowi atau Gerindra mendukung Prabowo itu wajar karena itu jagoannya," kata Hamdi Muluk dalam diskusi publik "Partai Demokrat Terbelah" di Jakarta, Minggu (6/7/2014).

Hamdi mengatakan bahwa dukungan dari partai yang terbelah itu lebih melihat sosok figur ketimbang ideologi partai politik karena ideologi yang ditawarkan tidak berbeda dalam koalisi.

Tidak ada perbedaan antara partai berideologi Islam, liberal ataupun sosialis untuk mendukung calon yang ada.

Fragmentasi itu yang tidak ada dalam calon yang bersaing. Hal itu menurutnya disebabkan oleh sistem multipartai yang dimiliki sistem politik indonesia.

Dengan begitu, tidak ada perbedaan ideologi secara mencolok diantara PDIP dengan partai lainnya seperti Partai Demokrat.

Rekomendasi Untuk Anda

"Kita tidak memiliki basis ideologi yang jelas, jadinya lebih melihat karakter yang maju, Contohnya, Jokowi lebih dilihat karena karakternya, cacatnya seperti apa dan gimana sejarahnya, itu yang dilihat pemilih," katanya.

Namun Hamdi mengingatkan bahwa kompetisi ini merupakan kompetisi biasa yang tidak akan menimbulkan konflik di tingkat masyarakat, sehingga situasi jelang pemilu akan berjalan normal seperti biasa.

"Sejauh ini memang ada pergesekan di masyarakat, tetapi ini seperti pertandingan sepak bola bukan perang badar, jadi setelah pilpres akan berjalan seperti biasa," katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas