Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Pertemuan Akbar Tandjung dengan JK Diwarnai Guyonan dan Saling Sindir

Dalam sambutannya, JK mengatakan sebagian besar kesuksesan karirnya di dunia politik adalah karena profesionalIitas, bukan karena partai politik.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Pertemuan Akbar Tandjung dengan JK Diwarnai Guyonan dan Saling Sindir
Tribunnews/Herudin
Pasangan calon presiden-calon wakil presiden nomor urut 2, Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) bersama Ketua Umum PKPI, Sutiyoso, dan Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto mengacungkan salam dua jari usai memberikan keterangan pers di kediaman Megawati, di Jakarta Selatan, Rabu (9/7/2014). Pasangan Jokowi-JK beserta petinggi partai politik pendukung menanggapi hasil hitung cepat atau quick count yang menyatakan mereka mengungguli pasangan Prabowo-Hatta. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rahmat Patutie

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Calon Wakil Presiden nomor urut dua Jusuf Kalla (JK) banyak menyampaikan guyonan dan saling sindir ketika bersama Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Akbar Tanjung memberikan sambutan dihadapan anggota KAHMI usai shalat Tarawih berjama'ah di Posko Jenggala, Kabayoran Baru, Sabtu (19/7/2014).

Dalam sambutannya, JK mengatakan sebagian besar kesuksesan karirnya di dunia politik adalah karena profesionalIitas, bukan karena partai politik.

JK mencontohkan ketika dirinya pernah diangkat menjadi menteri Perdagangan itu karena profesionalitas personal bukan karena partai politik. Begitu juga saat diangkat sebagai menko Kesra.

Namun pengusaha sukses asal Sulawesi Selatan itu menuturkan, ketika ingin maju menjadi capres justru malah kalah.

"Saya ini bukan politisi yang baik tetapi lebih kepada profesional. Ketika saya diangkat sebagai menteri perdagangan karena Jusuf Kalla, tanpa partai," ujarnya.

"Ketika mau capres bertarung dari partai, ternyata kalah," lanjutnya.

Rekomendasi Untuk Anda

JK yang mendampingi pasangan Calon Presiden Joko Widodo dalam pemilu 2014, mengungkapkan, bahwa kini ia maju untuk kembali bertarung sebagai cawapres dalam posisinya sebagai personal. Ia meyakini bahwa hal itu akan membawa hal baik.

"Ini saya naik sebagai personal, semoga menang. Kalau bekerja baik itu pasti bisa," harapnya.

JK juga menambahkan, kalau mental Partai Golkar itu mental pembangunan sehingga jika Golkar menjadi oposisi tidak bisa bekerja full secara pembangunan.

JK mengatakan apabila dipercayakan rakyat mengurusi negeri ini, dalam pemerintahanya akan selalu kompak-kompak saja.

"Kita kompak-kompak, saling memaafkan. Apalagi ini mau lebaran. Pokoknya lebaran ini kami akan bikin halal bil halal sebanyak-banyaknya. Saling memaafkan," kata Ketua Majelis Etika KAHMI itu.

Setelah JK, giliran Akbar Tandjung bicara. Di hadapan JK, Akbar menanggapi penyampaian JK tentang karir politik secara profesional.

"Kalau hanya profesional, kenapa Pak JK penah waktu itu ingin menjadi ketua umum Golkar," kata Akbar.

Akbar mengatakan, dirinya sebenarnya tidak punya niat untuk memberikan sambutan di situ namun karena silaturahmi KAHMI maka ia menyempatkan untuk datang.

"Karena hati kecil saya sebagai keluarga besar KAHMI, rasanya kalau tidak datang saya merasakan ada sesuatu," kata penasehat majelis KAHMI ini.

Dalam penyampainnya, Akbar sedikit menyindir pernyataan JK soal menjadi capres dua kali adalah sangat melelahkan. Para Jama'ah yang mendengarkan pun langsung tertawa.

"Pak JK tanya ke saya, apakah pak Akbar tidak capek-capek. Ya capek, tapi lebih capek lagi, Pak JK pernah jadi capres, dan sekarang mau jadi capres lagi, emang enggak capek. Bukannya itu lebih capek," kata Akbar.

Di ujung sambutan, Akbar juga menyampaikan mohon maaf, karena Idul Fitri sudah tinggal beberapa hari lagi. Suasana pun menjadi meriah dengan tertawanya para anggota KAHMI.

"Mohon maaf, karena besok Idul Fitri, jadi nanti kita maaf-maafkan," ucapnya.

Menariknya, saat itu juga JK kembali berdiri mengklarifikasikan pernyataan dari Akbar. "Ini sama dengan debat, harus diklarifikasi," imbuhnya.

Ia mengungkapkan, kalau yang meminta dirinya dulu untuk menjadi menteri adalah karena almarhum Gus Dur, bukan partai atau karena Akbar Tanjung.

"Yang minta mengusulkan saya Gus Dur, bukan Pak Akbar. Jadi Pak Gus Dur yang minta bukan dari partai. Saya memang profesional pada waktu itu," ujar JK.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas