Aktivitas Sesar Lembang: Ancaman Diam yang Terbukti Aktif
Sesar Lembang dipastikan aktif dan terus akumulasi energi. Ancaman gempa besar nyata, kesiapsiagaan jadi kunci keselamatan.
Editor:
Sri Juliati
Oleh: Prof. Muchtaridi (Pengajar Kimia GO)
TRIBUNNEWS.COM - Cekungan Bandung adalah rumah bagi jutaan penduduk sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat.
Namun, di balik geliat aktivitas sosial dan ekonomi tersebut, tersimpan sebuah struktur geologi purba yang terus menjadi perhatian para ilmuwan, yaitu Sesar Lembang.
Sesar ini merupakan fitur geologi aktif yang membentang sekitar 29 kilometer, membentang dari Padalarang di barat hingga wilayah Manglayang di timur.
Selama bertahun-tahun, sebuah pertanyaan mendasar tetap tak terjawab: apakah Sesar Lembang masih aktif, atau telah menjadi peninggalan geologi yang dorman?
Namun, Sesar Lembang bukan lagi sekadar hipotesis. Keberadaannya dikonfirmasi melalui berbagai disiplin ilmu geologi dan geofisika.
Data ilmiah terbaru, yang diperoleh dari analisis fisik dan studi paleoseismologi, memberikan jawaban yang akurat bahwa Sesar Lembang adalah struktur aktif yang terus mengakumulasi energi, menggarisbawahi potensi gempa bumi yang signifikan di masa mendatang.
Memahami bukti ini merupakan langkah awal menuju langkah-langkah kesiapsiagaan kolektif. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menimbulkan kepanikan.
Sebaliknya, artikel ini bertujuan memberikan pemahaman ilmiah kepada masyarakat agar kesiapsiagaan dapat ditingkatkan secara kolektif.
Mari kita kaji apa itu Sesar Lembang? Bagaimana bisa terjadi secara ilmiah?
Baca juga: Mengenal Apa Itu Sesar Lembang, Masih Aktif Hingga Sekarang dan Dipantau sejak Tahun 1963
Sesar Lembang
Sesar atau patahan merupakan zona retakan yang terbentuk di dalam kerak bumi yang mengalami pergeseran relatif antara dua massa batuan di kedua sisinya.
Sesar terbentuk akibat adanya gaya tektonik (gaya yang berasal dari pergerakan lempeng bumi) yang bekerja pada batuan. Gaya ini menimbulkan tegangan pada batuan.
Ketika tegangan melampaui batas kekuatan batuan, batuan akan pecah dan bergerak, melepaskan energi yang terkumpul. Sesar Lembang adalah contoh sesar aktif yang perlu edukasi untuk kita.
Sesar Lembang termasuk tipe sesar geser-mendatar (strike-slip) dengan komponen naik (oblique). Artinya, dua blok batuan di kedua sisi sesar bergerak saling menggeser, dengan sedikit gerakan vertikal.
Daerah Lembang didominasi oleh material vulkanik tua dan muda (Breksi Lava, Tuff, dan Breksi Vulkanik) yang berasal dari aktivitas gunung api purba (seperti Gunung Tangkuban Parahu dan Burangrang).
Komposisi kimia batuan (misalnya, kandungan silika SiO2, oksida logam (Al2O3 dan Fe2O3) memengaruhi kekuatan dan elastisitas batuan.
Batuan dengan komposisi kimia tertentu lebih mudah pecah (rapuh) atau lebih mudah mengalir di bawah tegangan, yang pada akhirnya memengaruhi cara energi dilepaskan saat terjadi patahan.
Dalam fisika bumi, gaya utama yang menggerakkan sesar berasal dari tegangan tektonik akibat pergerakan lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia. Tegangan ini terakumulasi secara terus-menerus di sepanjang bidang sesar.
Bukti-bukti geofisika dari para peneliti menujukkan bahwa Sesar Lembang aktif dan puncaknya akan terjadi Gempa besar 6,5 hingga 7,0 Magnetudo seperti dalam Jurnal Tectonophysics yang dipublikasikan oleh Daryono dkk (2019).
Berikut beberapa bukti ilmiah bahwa sesar lembang terjadi secara aktif.
Bukti Fisik: Kajian Geofisika dan Geotermal
Adanya gawir sesar yang berupa tebing curam yang terbentuk akibat adanya pergeseran vertikal pada sesar (patahan) yang baru atau aktif di kawasan Gunung Batu dan Maribaya menunjukkan adanya pergerakkan vertika berulang kali.
Hal ini dikuatkan dengan Data Geodesi dan GPS, diperkirakan perkiraan laju geser, yaitu antara 2 hingga 5,5 mm/tahun yang mengindikasikan akumulasi tegangan per tahun.
Para peneliti BRIN menggali parit (trenching) melintasi bidang sesar. Di dasar parit ditemukan lapisan-lapisan sedimen yang terpotong (displaced) atau terdapat endapan likuefaksi purba.
Pemotongan lapisan-lapisan ini menjadi bukti bahwa sesar telah bergerak hebat di masa lalu. ari data paleoseismologi, para peneliti ini dapat memperkirakan periode ulang (recurrence interval) gempa besar di masa lalu.
Peneliti geofisika BMKG, Rasmid, menemukan adanya gempa-gempa kecil berkekuatan di bawah Magnitudo 3,0 SR yang sering terjadi di sekitar sesar ini merupakan bukti bahwa sesar tersebut masih aktif dan terus melepaskan energi secara perlahan.
Kajian Geokimia
Selain geofisika, indikator aktivitas sesar juga terlihat dari proses kimia di bawah permukaan bumi.
Saat tekanan dalam kerak meningkat, mineral-mineral batuan mengalami perubahan struktur kimia:
- Reaksi rekahan memecah mineral dan menghasilkan panas lokal.
- Perubahan mikrostruktur menyebabkan pelepasan ion-ion seperti Ca⊃2;⁺, Mg⊃2;⁺, Fe⊃2;⁺.
- Dissolusi (pelarutan) meningkat ketika fluida hidrotermal naik melalui rekahan baru.
Pengamatan geokimia pada beberapa titik mata air panas di sekitar kawasan Lembang menunjukkan variasi komposisi ion yang konsisten dengan aktivitas tektonik.
Penelitian geokimia menunjukkan adanya fluktuasi konsentrasi gas tertentu, seperti Radon (Rn), di dekat sesar aktif.
Radon adalah unsur radioaktif yang dihasilkan dari peluruhan uranium dan torium dalam batuan.
Peningkatan tegangan sebelum gempa dapat membuka celah-celah mikro (mikro-crack) pada batuan, memungkinkan gas Radon yang terperangkap keluar dan terdeteksi di permukaan air tanah atau tanah.
Fenomena ini kadang-kadang dipantau sebagai salah satu indikator potensial aktivitas sesar.
Menurut Penelitian geokimia Dr. Ir. Iyan Haryanto, M.T, kadar gas Radon di sekitar Sesar Lembang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya seperti Maribaya.
Lembang memiliki banyak mata air dan kawasan karst yang sensitif terhadap gangguan bawah tanah.
Variasi berubahan mendadak juga terjadi pada: pH, konduktivitas listrik, kadar ion bikarbonat, suhu air dan dapat menunjukkan perubahan sirkulasi air akibat aktivitas sesar.
Catatan geokimia jangka panjang memperlihatkan fluktuasi yang konsisten dengan relaksasi dan penegangan kerak.
Kajian Geohayati (biologi)
Aktivitas sesar juga memiliki jejak biologis meskipun tampak tidak langsung.
Vegetasi di atas sesar sering menunjukkan pola tertentu:
- Pohon tumbuh tidak simetris akibat pergeseran permukaan tanah.
- Zona depresi tanah (sagging) memungkinkan genangan yang memengaruhi komposisi tumbuhan.
- Perubahan kelembapan tanah akibat retakan mempengaruhi distribusi akar.
Studi di sekitar jalur Sesar Lembang menunjukkan perbedaan komposisi dan kesehatan vegetasi di jalur patahan dibanding area sekitarnya.
Selain itu, banyak hewan peka terhadap walaupun bukan alat prediksi ilmiah gempa. Namun, belum ada penelitian yang mengaitkan perilaku hewan dengan tanda-tanda ini adanya perubahan lingkungan akibat aktivitas sesar.
Bukti-bukti ilmiah, mulai dari gawir sesar, data pergeseran GPS yang real-time, sinyal mikro-seismisitas, hingga temuan parit paleoseismologi, kajian geokimia telah secara definitif mengonfirmasi bahwa Sesar Lembang adalah struktur aktif yang berpotensi menimbulkan gempa kuat.
Artikel ini bukan menyebar kepanikan, tapi kita saat ini harus fokus bergeser dari "apakah akan terjadi" menjadi "bagaimana kita bersiap".
Mengingat periode ulang gempa besar bisa mencapai ratusan tahun, penting untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara evakuasi, membangun struktur yang aman, dan mengenali risiko di sekitar tempat tinggal. (*)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.