Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Memanusiakan Air untuk Mencegah Bencana

Air bukan sekadar sumber daya. Dengan memanusiakan air, kita bisa mencegah banjir, longsor, dan krisis air bersih.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Sri Juliati
zoom-in Memanusiakan Air untuk Mencegah Bencana
ISTIMEWA/GANESHA OPERATION
ILUSTRASI MEMANUSIAKAN AIR - Air bukan sekadar sumber daya. Dengan memanusiakan air, kita bisa mencegah banjir, longsor, dan krisis air bersih. 

Oleh: Prof. Muchtaridi
Pengajar Kimia GO, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

TRIBUNNEWS.COM - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang meminta bantuan Perguruan Tinggi melalui Menteri Dikti, Sains, dan Teknologi meneliti tentang air agar air menjadi sumber produktivitas, bukan menjadi sumber bencana merupakan pernyataan yang harus direspons serius.

Bukan hanya dieksploitasi untuk keuntungan, tapi juga untuk kemaslahatan masyarakat. 

Bahkan, berita Gubernur Jawa Barat yang berkunjung ke PT. Tirta Investama yang merupakan produsen air mineral menjadi ramai karena air mineral yang dipakai diduga bukan berasal dari air pegunungan sehingga DPR memanggil semua produsen air mineral di Indonesia.

 Pernyataan Presiden seakan-akan ingin mengatakan, "Kita harus memanusiakan air: Air itu kawan, bukan lawan."

Air merupakan sumber kehidupan, pelarut universal, dan pembentuk peradaban. 

Namun, di Indonesia, hubungan kita dengan air kini diwarnai ambivalensi: di satu sisi kita mendapatkan manfaat, di sisi lain kita dilanda musibah, mulai dari kekeringan ekstrem yang melumpuhkan pertanian, hingga banjir bandang dan longsor yang merenggut nyawa dan harta.

Rekomendasi Untuk Anda

Pernyataan presiden di atas bukan sekadar retorika lingkungan, melainkan filosofi etika yang mendasar. Selama ini, air seringkali dipandang sebagai sumber daya pasif yang bebas dieksploitasi. 

Filosofi "memanusiakan air" menuntut kita mengubah pandangan tersebut; memperlakukan air sebagai entitas yang memiliki hak, yang harus dihormati, dan dikelola dengan bijaksana. Agar kita ikut membantu memanusiakan air, kita harus terlebih dahulu mengenalnya.

Baca juga: Aktivitas Sesar Lembang: Ancaman Diam yang Terbukti Aktif

Sifat Fisika-Kimia yang Unik

Air (H2O) memiliki sifat fisika-kimia yang unik, menjadikannya 'jantung' bumi. 

Adanya ikatan hidrogen yang kuat antara atom Hidrogen dan Oksigen di antara molekul air atau molekul lain, membuat air adalah pelarut universal, yang berarti ia mampu membawa dan mentransfer nutrisi (sekaligus polutan) ke seluruh ekosistem. 

Kandungan air yang tinggi pada manusia (50-75 persen) menunjukkan bahwa tubuh manusia sendiri adalah bagian intrinsik dari siklus air.

Kekurangan sedikit air (dehidrasi 1-2 persen) sudah dapat menurunkan fungsi kognitif dan fisik. Oleh karena itu, manusia memerlukan hingga 2 liter air masuk ke tubuhnya setiap harinya.

Adanya ikatan hidrogen yang kuat juga membuat air memiliki sifat yang paling vital dalam konteks bencana yaitu daya kapilaritas. 

Ikatan hidrogen yang kuat pada air menyebabkan sifat kohesi (tarik menarik dengan molekul lain) dan adhesi (tertariknya air pada permukaan polar lainnya) semakin kuat. 

Sifat keduanya inilah yang mengakibatkan daya alir air sangat kuat jika tidak ditahan dengan permukaan polar lainnya seperti akar selulosa xilem pada tumbuhan.  

Daya kapilaritas memungkinkan air bergerak ke atas (melawan gravitasi) melalui pori-pori tanah dan tumbuhan (melalui akarnya) menjadikan hutan menjadi "spons" raksasa. 

Mekanisme alami ini kita sebut sebagai contoh osmosis. Namun, saat vegetasi dan resapan dihancurkan, sifat “spons” atau penyerap air unik ini hilang. 

Air, yang seharusnya terserap dan tertahan perlahan oleh tanaman terus bergerak dengan kecepatan tinggi, membawa sedimen, dan memicu banjir serta longsor.

Kekayaan Sumber Air Indonesia

Sebagai negara kepulauan, Indonesia diberkahi dengan tiga sumber air utama yang saling terhubung dalam siklus hidrologi, yaitu:

  1. Air Hujan merupakan sumber utama yang harus diserap oleh lahan.
  2. Air Permukaan, seperti sungai, danau, dan rawa yang mengalir dari hulu ke hilir.
  3. Air Tanah (Akuifer): Cadangan air bawah tanah yang terbentuk dari proses resapan air hujan bertahun-tahun. Salah satunya air pegunungan. Jadi, air yang disebutkan oleh PT. Tirta Investama air tanah itu merupakan air pegunungan bukan air permukaan. 

Keseimbangan tiga sumber ini sangat rapuh. Jika air hujan tidak dapat diresap (karena urbanisasi), cadangan air tanah menipis (kekeringan), dan air permukaan meluap (banjir).

lihat fotoMEMANUSIAKAN AIR - Ilustrasi Memanusiakan Air untuk Mencegah Bencana
MEMANUSIAKAN AIR - Ilustrasi Memanusiakan Air untuk Mencegah Bencana

Di Indonesia, payung hukum seperti UU No. 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air menegaskan bahwa air adalah hak asasi manusia dan harus dikelola demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 

Inti dari regulasi ini adalah hak dan kewajiban bahwa masyarakat berhak atas air, namun memiliki kewajiban untuk menjaga kelestarian sumber air, daerah resapan, dan kualitas air.

Regulasi ini secara eksplisit melarang kegiatan yang dapat merusak fungsi konservasi sumber daya air, termasuk pembuangan limbah tanpa izin dan perusakan kawasan lindung. Pelanggaran terhadap regulasi ini adalah pelanggaran terhadap "hak hidup" air itu sendiri.

Memanusiakan Air: Etika di Atas Kepentingan Eksploitasi

Memanusiakan air berarti mengutamakan pertimbangan etika daripada kepentingan eksploitasi jangka pendek. Air yang kita gunakan hari ini adalah air yang sama yang harus diwariskan.

Etika Air menuntut kita untuk: (1) Konservatif yaitu menggunakan air sesuai kebutuhan dan memastikan ketersediaan air untuk seluruh ekosistem. (2) Higienis, tidak mencemari air dengan sampah atau bahan kimia berbahaya, dan (3) berkelanjutan, yaitu menjaga daerah hulu (resapan) dan daerah aliran sungai (DAS) agar siklus hidrologi berjalan sempurna.

Tiga etika air inilah yang dimaksud oleh Presiden untuk diteliti dan diberikan solusi untuk menghindari eksploitasi berlebihan. 

Eksploitasi Air yang berlebihan menjadi sumber bencana, termasuk (1) Penebangan Hutan Masif yang menghilangkan "spons" alami. (2) Pembangunan di Daerah Resapan yang menyebabkan air hujan langsung terbuang ke laut. (3) Pembuangan Sampah ke Sungai sehingga menyumbat aliran dan memicu banjir kota, dan (4) pengeboran air tanah berlebihan yang mengakibatkan penurunan permukaan tanah (land subsidence) dan intrusi air laut.

Keempat etika air tersebut jika dilanggar berdampak pada kerusakan hulu yang menciptakan bencana di hilir. Sebagai contoh, perusakan di kawasan Puncak akan dirasakan dampaknya sebagai banjir di Jakarta.

Anatomi Bencana Hidrologi

Ketika etika air diabaikan, air  akan membalas dengan hukum alamnya sendiri, yaitu menciptakan bencana:

1. Banjir dan Longsor

Fenomena ini adalah respons langsung terhadap hilangnya daya serap tanah. Deforestasi membuat lapisan tanah penahan air hilang. 

Air hujan yang turun tidak lagi tertahan dan menyeret massa tanah (longsor), atau mengalir deras sebagai limpasan permukaan (run-off) yang membanjiri dataran rendah. 

Di perkotaan, masalah diperparah oleh drainase kota yang buruk. Penggunaan beton dan aspal secara masif menutup permukaan tanah, sementara sampah menyumbat parit dan gorong-gorong. 

Air yang seharusnya mengalir terhenti, mencari jalur baru, dan akhirnya menggenangi pemukiman.

2. Kekeringan dan Krisis Air Bersih

Di musim kemarau, kegagalan dalam memanusiakan air menciptakan krisis air. Penutupan daerah resapan (sumur, biopori) menyebabkan air hujan terbuang sia-sia. 

Akibatnya, cadangan air di akuifer habis. Penarikan air tanah secara berlebihan yang dilakukan oleh industri atau kawasan padat penduduk mempercepat kekeringan sumur dangkal. 

Lebih jauh lagi, di kawasan pesisir, penipisan akuifer memicu intrusi air laut, mencemari air tanah dan membuatnya tidak layak minum.

Mengembalikan Air sebagai Kawan

Memanusiakan air membutuhkan tindakan nyata dan kolektif. Solusi harus dilaksanakan dari tingkat individu hingga kebijakan.

Skala Individu dan Rumah Tangga

  1. Konservasi Air Praktis: Memperbaiki kebocoran pipa, menggunakan kembali air cucian (Greywater) untuk menyiram tanaman, dan mematikan keran saat tidak digunakan.
  2. Sistem Biopori dan Sumur Resapan: Setiap rumah tangga diwajibkan membuat lubang biopori atau sumur resapan. Biopori adalah investasi kecil dengan dampak besar, mengembalikan air ke tanah dan mengurangi beban drainase kota.
  3. Pemanenan Air Hujan (Rain Harvesting): Memasang sistem penampungan air hujan sederhana di rumah untuk digunakan pada keperluan non-minum.

Skala Komunal dan Kebijakan

Menanggapi perintah Presiden Prabowo, maka perlu kiranya kajian strategis dari PT sebagai solusi kebijakan 'memanusiakan air' kembali, yaitu:

1. Rehabilitasi Lahan Kritis: Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama dalam program reforestasi di daerah hulu dan kawasan DAS yang rusak. 

Penanaman pohon lokal yang memiliki daya serap air tinggi harus menjadi prioritas.

2. Tata Ruang Berbasis Air: Kebijakan tata ruang harus ketat, melarang pembangunan di zona resapan air dan sempadan sungai. 

Prinsip ini memastikan bahwa fungsi ekologis lahan dipertahankan di atas kepentingan ekonomi jangka pendek.

3. Pengelolaan Sampah Terpadu: Mencegah sampah mencapai badan air adalah langkah pencegahan banjir paling efektif. 

Gerakan gotong royong dan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas harus diperkuat.

4. Kajian Strategis Perguruan Tinggi (Kebutuhan Infrastruktur Inovatif): Sejalan dengan pandangan strategis, perguruan tinggi dan lembaga penelitian ditantang untuk menggiatkan kajian mendalam mengenai solusi infrastruktur air jangka panjang. 

Kajian ini difokuskan pada dua isu vital: (a) Studi Kelayakan Diversi Sungai yaitu menganalisis potensi dan risiko pengalihan aliran sungai dari wilayah kelebihan air ke wilayah defisit air, dengan pertimbangan dampak ekologis, sosial, dan ekonomi yang komprehensif.

(b) Pembangunan Waduk dan Danau Buatan dengan meneliti lokasi-lokasi strategis untuk membangun reservoir dan embung baru yang berfungsi ganda sebagai penahan air saat musim hujan (pencegah banjir) dan sebagai cadangan saat musim kemarau (pencegah kekeringan). 

Keterlibatan akademisi memastikan setiap proyek infrastruktur didasarkan pada data saintifik dan prinsip keberlanjutan.

Filosofi "memanusiakan air" mengajarkan kita bahwa alam tidak pernah meminta ganti rugi, tetapi ia merespons dengan hukumnya sendiri. 

Banjir, longsor, dan kekeringan adalah bukti bahwa kita telah memperlakukan air sebagai musuh yang harus ditaklukkan, bukan kawan yang harus dihormati.

Dengan kembali pada etika air yaitu menjaga sifat uniknya, menghormati regulasinya, dan melakukan tindakan konservasi konkret, maka kita tidak hanya mencegah bencana, tetapi juga menjamin ketersediaan air yang berkelanjutan untuk diri kita dan generasi yang akan datang.

Memanusiakan air adalah investasi terpenting kita dalam ketahanan nasional dan ekologis. Sekaranglah saatnya bagi setiap individu, komunitas, dan pengambil kebijakan untuk bertindak dan menjadikan air kawan sejati dalam pembangunan bangsa. (*)

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas