Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Penyebab Gagal Ginjal pada Anak dan Remaja: Cegah dari Gaya Hidup!

Gagal ginjal kini mengancam anak dan remaja. Pola makan, obat, hingga polusi jadi faktor tersembunyi yang sering tak disadari.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Sri Juliati
zoom-in Penyebab Gagal Ginjal pada Anak dan Remaja: Cegah dari Gaya Hidup!
ISTIMEWA/GANESHA OPERATION
ILUSTRASI - Penyebab gagal ginjal pada anak dan remaja. Gagal ginjal kini mengancam anak dan remaja. Pola makan, obat, hingga polusi jadi faktor tersembunyi yang sering tak disadari. 

Oleh: Prof. Muchtaridi
Pengajar Kimia GO, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

TRIBUNNEWS.COM - Gagal ginjal kronis (GGK), atau yang dikenal sebagai penyakit ginjal kronis (PGK), kini tidak lagi menjadi ancaman yang terbatas pada kelompok lanjut usia. Secara global, PGK diperkirakan akan menjadi penyakit dengan prevalensi tertinggi kelima pada tahun 2040. 

Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa lebih dari 700.000 penduduk hidup dengan PGK, dan jumlah kasusnya terus meningkat setiap tahun. Pada 2024, tercatat sekitar 134.000 pasien menjalani prosedur hemodialisis (cuci darah) akibat kerusakan ginjal kronis.

Yang lebih mengkhawatirkan, peningkatan kasus juga terjadi pada anak dan remaja; Generasi Z dan Generasi Alfa, yang merupakan calon Generasi Emas 2045. 

Meskipun kasus Gagal Ginjal Akut (GGA) pada anak yang sempat menjadi sorotan publik yang telah menyebabkan lebih dari 200 kematian di Indonesia, ancaman penyakit ginjal yang bersifat kronis tidak boleh diabaikan. 

Bahkan, proporsi pasien hemodialisis kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, termasuk usia 25–34 tahun. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: apa sebenarnya yang membuat ginjal anak-anak zaman sekarang lebih rentan?

Pada anak-anak, kelainan ginjal bawaan (kongenital) masih menjadi penyebab utama GGK. Namun, faktor lingkungan dan gaya hidup kini mendapat perhatian khusus dalam upaya pencegahan. 

Rekomendasi Untuk Anda

Generasi Z (lahir sekitar 1997–2012) dan Generasi Alfa (lahir setelah 2012) tumbuh dalam lingkungan dengan konsumsi tinggi makanan ultra-proses dan paparan polusi, yang meningkatkan risiko terpapar zat kimia bersifat nefrotoksik (beracun bagi ginjal). Paparan kronis terhadap zat-zat ini dapat merusak ginjal secara perlahan sejak usia muda.

Ginjal berperan sebagai organ utama yang menyaring darah dan menjaga keseimbangan internal tubuh. Ketika ginjal terpapar zat kimia berbahaya secara berulang, organ ini dipaksa bekerja lebih keras. 

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu peradangan, pembentukan jaringan parut (fibrosis), dan akhirnya menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara permanen. Mari kita kaji penyebab yang senyap dari GGK ini!

Baca juga: Bijak Meminum Kopi agar Jadi Penangkal Penyakit

1. Zat Kimia dari Makanan Olahan (The Nefro-Diet)

Generasi Z dan Generasi Alfa dikenal memiliki pola konsumsi tinggi terhadap makanan ultra-proses, makanan cepat saji, serta minuman manis. Kandungan zat aditif di dalam produk tersebut berpotensi menjadi beban berat bagi fungsi ginjal. 

Dalam kehidupan sehari-hari, kedua generasi ini tumbuh bersama jajanan berwarna mencolok, minuman kekinian dengan berbagai tambahan bahan, makanan pedas ekstrem, serta produk suplemen yang mulai digunakan sejak usia sangat muda. 

Seluruh paparan ini membawa berbagai senyawa kimia yang, apabila dikonsumsi secara berulang, dapat menimbulkan akumulasi toksik dan memberikan tekanan tambahan pada ginjal.

Pewarna sintetis dalam jajanan, misalnya, mungkin tidak menimbulkan efek langsung ketika hanya dikonsumsi satu atau dua kali. 

Akan tetapi, ketika makanan dan minuman kekinian tersebut dikonsumsi hampir setiap hari, zat pewarna dapat terakumulasi dan memengaruhi kesehatan ginjal dalam jangka panjang. 

Demikian pula, pemanis buatan yang terdapat dalam minuman manis serta minuman boba yang populer di kalangan remaja turut meningkatkan risiko obesitas dan pembentukan batu ginjal; dua kondisi yang diketahui memperberat kerja ginjal.

Beberapa jenis zat aditif makanan yang sering dikonsumsi oleh anak dan remaja tercatat memiliki potensi nefrotoksik (beracun bagi ginjal) atau memberikan beban metabolik signifikan pada ginjal. 

Di antaranya adalah:

  • Pemanis buatan seperti aspartam dan sukralosa. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi rutin pemanis buatan dalam minuman ringan maupun makanan kemasan dengan peningkatan risiko penurunan fungsi ginjal. Meskipun mekanisme biologisnya cukup kompleks, pemanis tersebut memerlukan proses metabolisme yang melibatkan ginjal secara intensif.
  • Fosfat anorganik, yang banyak ditemukan dalam minuman bersoda, keju olahan, serta daging olahan seperti sosis dan nugget. Konsumsi fosfat berlebih, terutama dalam bentuk anorganik yang mudah diserap tubuh, dapat mengganggu keseimbangan kalsium dan fosfat. Ketidakseimbangan ini dapat memicu kalsifikasi pembuluh darah ginjal dan berkontribusi pada terjadinya penyakit mineral dan tulang kronis (chronic kidney disease–mineral and bone disorder / CKD-MBD).
  • Asupan garam (natrium klorida) berlebihan juga menjadi masalah yang sering tidak disadari. Natrium yang tinggi dapat menyebabkan hipertensi, yang merupakan salah satu penyebab utama kerusakan jangka panjang pada pembuluh darah halus (glomerulus) di ginjal. Anak dan remaja kini cenderung mengonsumsi natrium melampaui batas aman melalui makanan seperti keripik asin, makanan ringan kemasan, hingga mi instan.

Dalam berbagai temuan klinis, dokter mulai mengidentifikasi pola kebiasaan harian yang mengarah pada risiko kerusakan ginjal sejak usia muda. Terdapat anak-anak sekolah dasar yang hampir setiap hari membeli minuman berwarna pekat dari pedagang di sekitar sekolah. 

Sementara itu, banyak remaja yang dapat mengonsumsi minuman boba dua hingga tiga kali sehari karena mengikuti tren media sosial.

Pola konsumsi seperti ini, apabila dibiarkan berlangsung terus-menerus tanpa edukasi yang memadai, dapat menjadi faktor risiko serius terhadap kesehatan ginjal generasi muda.

2. Zat Kimia dari Obat dan Skincare

Kasus gagal ginjal akut yang terjadi pada tahun 2022 menjadi bukti nyata bahwa zat kimia berbahaya seperti etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) dapat masuk ke dalam produk obat sirup yang dikonsumsi anak-anak. 

Kontaminasi ini menimbulkan dampak fatal karena metabolit kedua zat tersebut dapat merusak tubulus ginjal secara cepat, sehingga memicu gejala berat seperti kejang hingga menyebabkan kematian. 

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa dunia kesehatan anak tidak sepenuhnya terbebas dari ancaman zat kimia berbahaya yang dapat muncul melalui produk sehari-hari.

Pada saat yang sama, kebiasaan penggunaan obat bebas tanpa pengawasan juga semakin meningkat, terutama di kalangan remaja.

Para remaja yang aktif berolahraga kerap mengandalkan ibuprofen atau obat anti-nyeri lainnya sebagai solusi cepat ketika mengalami nyeri otot. 

Padahal, penggunaan obat-obatan tersebut, terutama ketika tubuh sedang mengalami dehidrasi atau dikonsumsi dalam frekuensi tinggi, dapat memicu cedera ginjal akut.

Risiko ini semakin besar apabila konsumsi obat berlangsung tanpa edukasi yang memadai mengenai dosis dan kondisi tubuh.

Selain itu, tren penggunaan suplemen energi, suplemen pelangsing, serta produk peningkat stamina semakin marak di kalangan anak dan remaja. 

Banyak di antara produk tersebut tidak memenuhi standar keamanan, mengandung logam berat, atau memiliki bahan kimia yang tidak tercantum pada label. 

Senyawa-senyawa tersembunyi ini dapat memberikan beban toksik tambahan pada organ tubuh, termasuk ginjal, sehingga meningkatkan potensi terjadinya gangguan fungsi ginjal.

Temuan klinis menunjukkan bahwa atlet sekolah yang mengonsumsi obat anti-nyeri secara berulang mulai mengalami tanda-tanda penurunan fungsi ginjal. 

Lebih memprihatinkan lagi, anak usia 10–12 tahun kini banyak yang telah menggunakan produk perawatan kulit yang mengandung bahan berbahaya seperti merkuri dan hidrokuinon. 

Paparan bahan kimia tersebut tidak hanya berdampak pada kulit, tetapi juga dapat terserap ke dalam tubuh dan menimbulkan gangguan fungsi organ dalam jangka panjang.

3. Paparan Polusi Lingkungan

Risiko bagi ginjal anak tidak hanya datang dari apa yang mereka makan dan minum, tetapi juga dari benda-benda yang mereka gunakan setiap hari.

Botol minum plastik sekali pakai, kemasan makanan panas, hingga gelas plastik untuk minuman boba dapat melepaskan BPA dan mikroplastik ke dalam makanan atau minuman. 

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah penelitian menemukan jejak mikroplastik di dalam urine anak.

Temuan ini menunjukkan bahwa partikel tersebut benar-benar masuk ke dalam tubuh dan berpotensi menimbulkan peradangan pada berbagai organ, termasuk ginjal.

Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi jika paparan terjadi terus-menerus, akumulasinya dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak.

Gaya hidup modern juga membuat anak-anak terpapar logam berat seperti timbal (Pb) dan kadmium (Cd) dari lingkungan sekitar. Timbal masih dapat ditemukan dalam cat bangunan lama, tanah, serta beberapa jenis mainan murah atau impor. 

Sementara itu, kadmium banyak ditemukan dalam asap rokok—baik pada perokok aktif maupun pasif—serta pada air yang terkontaminasi dan beberapa jenis sereal atau sayuran yang tumbuh di tanah tercemar. 

Kedua logam berat ini bersifat kumulatif, sehingga dapat menumpuk di dalam tubuh dan menimbulkan toksisitas langsung pada tubulus ginjal.

Paparan tersebut dapat mengganggu kemampuan ginjal menyerap kembali zat-zat penting, yang akhirnya memicu munculnya proteinuria atau kebocoran protein dalam urine.

Selain logam berat, residu pestisida seperti golongan organoklorin yang terdapat pada buah dan sayuran yang tidak dicuci dengan bersih juga dapat menjadi ancaman bagi kesehatan ginjal.

Walaupun jumlahnya kecil, paparan pestisida secara berulang dapat bersifat nefrotoksik dan memicu stres oksidatif serta peradangan ginjal dalam jangka panjang. 

Kondisi ini semakin memperkuat gambaran bahwa risiko gangguan ginjal pada anak dan remaja tidak hanya datang dari satu sumber, melainkan hasil gabungan dari berbagai paparan harian yang sering kali tidak disadari.

Jika seluruh pola konsumsi dan kebiasaan tersebut terjadi sekaligus, anak-anak dan remaja seolah berada dalam lingkaran paparan zat kimia yang saling memperberat satu sama lain. 

Kombinasi zat berbahaya dari makanan, minuman, obat-obatan, produk sehari-hari, dan lingkungan, ditambah pola hidup yang kurang sehat, menciptakan ancaman nyata bagi kesehatan ginjal generasi muda. 

Lebih mengkhawatirkan lagi, kerusakan ginjal sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Ketika tanda-tanda gangguan mulai muncul, kondisi umumnya sudah cukup parah dan memerlukan penanganan serius.

lihat fotoILUSTRASI - Penyebab gagal ginjal pada anak dan remaja.
ILUSTRASI - Penyebab gagal ginjal pada anak dan remaja.

Meskipun demikian, ada kabar baik: sebagian besar faktor risiko tersebut sebenarnya dapat dicegah. Orang tua dapat memulai dengan memastikan bahwa obat yang diberikan kepada anak memiliki izin edar resmi dan aman digunakan. 

Anak perlu dibiasakan untuk minum air putih dalam jumlah cukup, serta membatasi konsumsi minuman manis sebagai pilihan sesekali saja.

Mengurangi jajanan berwarna mencolok dan membiasakan membawa botol minum yang dapat digunakan kembali merupakan langkah sederhana namun sangat bermakna. 

Para remaja pun perlu mendapatkan edukasi tentang bahaya penggunaan obat bebas dan suplemen yang tidak terstandar, serta didorong untuk menjalani pola tidur, pola makan, dan aktivitas fisik yang seimbang.

Melindungi ginjal anak bukan hanya persoalan medis, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan mereka. Generasi Alfa dan Gen Z tumbuh dalam era generasi emas 2045 yang penuh peluang, tetapi juga sarat dengan tantangan kesehatan baru. 

Dengan meningkatkan kesadaran, memperkuat edukasi, dan menerapkan langkah pencegahan yang tepat, kita dapat memastikan bahwa mereka tumbuh menjadi generasi yang lebih sehat, lebih kuat, dan terhindar dari ancaman gagal ginjal di usia muda.

Artikel ini menjadi pengingat penting bahwa gaya hidup modern yang tampak biasa saja dapat membawa konsekuensi kesehatan jangka panjang.

Kesadaran masyarakat, edukasi kesehatan yang berkelanjutan, dan pengawasan konsumsi makanan serta minuman pada anak dan remaja merupakan langkah penting untuk melindungi ginjal mereka sejak dini. (*)

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas