Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Peran Antioksidan Alami Mencegah Kanker Sejak Dini

Antioksidan alami bantu lawan radikal bebas dan turunkan risiko kanker. Mulai dari pola makan sehat dan gaya hidup seimbang sejak dini.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Sri Juliati
zoom-in Peran Antioksidan Alami Mencegah Kanker Sejak Dini
ISTIMEWA/GANESHA OPERATION
ILUSTRASI - Ilustrasi peran antioksidan alami mencegah kanker sejak dini. Antioksidan alami bantu lawan radikal bebas dan turunkan risiko kanker. Mulai dari pola makan sehat dan gaya hidup seimbang sejak dini. 

oleh: Prof. Muchtaridi
Pengajar Kimia GO, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

TRIBUNNEWS.COM - Prevalensi kanker yang terus meningkat di Indonesia menyebabkan kanker bukan lagi penyakit "langka". 

Menurut data Global Cancer Observatory (Globocan) tahun 2022, Indonesia mencatat lebih dari 408.661 kasus baru kanker dengan hampir 242.099 kematian hanya dalam satu tahun. 

Kementerian Kesehatan RI melaporkan, angka kejadian kanker mencapai sekitar 136 kasus per 100.000 penduduk, dan kanker kini menjadi penyebab kematian ketiga terbesar di Indonesia. 

Mengacu pada data BPJS Kesehatan untuk tahun 2023, total beban biaya untuk pengobatan 3,9 juta penderita kanker mencapai 5,9 triliun yang merupakan urutan kedua beban biaya tertinggi setelah pengobatan jantung. 

Perkiraan jumlah penderita kanker akan meningkat di tahun 20240-2050 hingga 60-70 persen jika tidak ada tindakan yang signifikan dalam pencegahan penyakit ini mulai dari gaya hidup, pola makan, hingga kebiasaan cek Kesehatan.

Apa Itu Kanker? (Sedikit Molekuler, Tapi Tetap Santai)

Secara sederhana, kanker terjadi jika ketika sel-sel tubuh tumbuh tidak terkendali dan merusak jaringan di sekitarnya. Dalam kondisi normal, tubuh kita punya "aturan main". 

Rekomendasi Untuk Anda

Yang pertama, sel tumbuh, kemudian membelah, lalu mati pada waktunya atau disebut apoptosis. 

Kedua, dalam tubuh sudah terdapat "polisi genetik" seperti gen supresor tumor seperti p53 atau BRCA1/BRCA2 yang bertugas memperbaiki DNA yang rusak, atau memicu kematian sel terprogram (apoptosis) jika kerusakan terlalu parah. 

Jika gen ini bermutasi dan fungsinya hilang, sel yang rusak akan terus hidup dan membelah. 

Ketiga, dalam tubuh terdapat gen yang bertugas mendorong pertumbuhan dan pembelahan sel normal atau kita sebut "pedal gas".

Ketika gen ini bermutasi dan menjadi terlalu aktif, ia disebut onkogen, yang dapat menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkontrol.

Baca juga: Langkah Baru Lawan Kanker Pankreas

Saat sel membelah tak terkendali, ada lima mekanisme kemungkinan penyebab ini terjadi: 

(1) DNA mengalami kerusakan (mutasi) yang bisa disebabkan oleh radikal bebas, rokok, sinar UV, bahan kimia, dan infeksi virus. 

(2) Onkogen aktif berlebihan sehingga pertumbuhan sel tak terkendali atau sel menggas terus. 

(3) Gen supresor tumor rusak sehingga terjadi "rem blong" dalam memperbaiki DNA yang rusak. 

(4) Sel yang seharusnya mati malah bertahan dan membelah terus, membentuk tumor. 

Akhirnya (5) sel kanker bisa menyebar (sering disebut metastasis ke organ lain) melalui darah/limfe sehingga bentuk jaringan sel menjadi benjolan aneh. Dari lima hal tersebut, peran utama penyebanya adalah  adanya stres oksidatif.

Stres oksidatif disebabkan karena tubuh kita terus-menerus memproduksi radikal bebas (misalnya reactive oxygen species/ROS) sehingga kemampuan enzim-enzim antioksidan dalam menjaga status antioksidannya sudah tidak berperan lagi artinya peran enzim Nuclear Factor Erythroid 2-Related Factor 2 (Nrf2) sudah melemah bahkan rusak. 

ROS tingkat tinggi menyebabkan stres oksidatif, yang dapat merusak DNA dan protein, menginisiasi karsinogenesis (pembentukan kanker), dan memicu proliferasi sel kanker

Dalam kondisi normal, tubuh memiliki sistem pertahanan antioksidan endogen (seperti SOD, CAT, GPx) untuk menjaga ROS tetap pada batas aman (homeostasis).

Enzim ini kemampuannya terbatas jika diserang terus menerus oleh radikal bebas. Radikal bebas yang hinggap ke tubuh kita terus meningkat per harinya ketika (1) sering makan makanan tinggi lemak jenuh dan gorengan, (2) merokok, (3) sering terpapar polusi/bahan kimia toksik, dan minim pencegahnya seperti konsumsi antioksidan misalnya jarang makan buah dan sayur.

Radikal bebas berlebih ini akan menyerang DNA, protein, dan lemak membran sel, dan berkontribusi pada mutasi serta proses pembentukan kanker. Di sinilah antioksidan berperan sebagai "penetralisir" radikal bebas.

Mengapa Angka Kanker di Indonesia Terus Meningkat?

Naiknya kasus kanker di Indonesia tidak terjadi begitu saja. Beberapa faktor utama:

1. Populasi menua dan jumlah penduduk besar: Semakin banyak orang berusia lanjut, semakin tinggi risiko kanker karena kerusakan DNA menumpuk seiring waktu.

2. Perubahan gaya hidup (urbanisasi dan pola makan modern). Konsumsi makanan junk food atau makanan siap saji yang di dalamnya terjadi ultra-proses, tinggi gula, garam, dan lemak jenuh merupakan pemicu kanker atau mucnculnya zat karsinogenik dalam tubuh. 

Anak muda (milenial, gen Z, dan alfa) umumnya sulit makan buah, sayur, dan makanan berserat lainnya, sehingga penetral radikal bebas dalam tubuh menjadi minim. 

Bahkan, aktivitas fisik yang menurun, banyak duduk (main gadget atau games) memberikan peran pada kasus obesitas meningkat. 

Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan World Cancer Research Fund yang menunjukkan pola makan tidak sehat dan obesitas berkaitan dengan peningkatan berbagai jenis kanker

3. Merokok dan polusi udara. Hal yang lucu, jika ada seorang yang memiliki pengaruh mengatakan "tidak ada orang yang mati karena rokok". 

Padahal, rokok mengandung banyak karsinogen yang merusak DNA paru dan organ lain. 

Pernyataan-pernyataan yang memicu ini membuat Indonesia masih memiliki prevalensi perokok yang tinggi dan persentase tertinggi dikalangan usia produktif umur 15-40 tahun.

4. Infeksi kronis. Kanker juga bisa disebabkan adanya infeksi kronis seperti virus HPV (human papillomavirus) yang menyebabkan kanker serviks atau hepatitis B dan C yang menyebabkan kanker hati. 

Kurangnya cakupan vaksin dan skrining membuat infeksi ini bisa berujung kanker.

Deteksi dini rendah, datang saat stadium lanjut. Inilah penyebab utama mengapa beban biaya BPJS pada pengobatan kanker tertinggi kedua. 

Banyak orang baru datang ketika gejala sudah berat: benjolan besar, perdarahan, nyeri hebat. Padahal peluang sembuh paling tinggi justru di stadium awal.

Jadi ingat! kanker bukan hanya soal "nasib buruk" atau faktor keturunan. Sangat banyak yang sebenarnya berkaitan dengan gaya hidup dan lingkungan, yang artinya masih bisa diintervensi.

Bisakah Kanker Dicegah?

Sebagian besar kanker bisa dicegah dengan mengubah faktor risiko. Laporan global menyebutkan, sekitar 30–50 persen kanker dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup dan lingkungan. 

Berdasarkan keterangan mekanisme penyebab kanker di atas bahwa penyebab utama kanker adalah stres oksidatif, maka pencegahan harus dimulai dengan menangkal radikal bebas. 

Penangkalan radikal bebas yang paling utama adalah memperbaiki gaya hidup. 

Misalnya, berhenti merokok dan menghindari asap rokok, tidak meminum-minum sumber radikal bebas tinggi misalnya alkohol atau minuman tinggi gula sederhana, menjaga berat badan ideal dengan cara aktif bergerak minimal 150 menit/minggu aktivitas fisik intensitas sedang atau yang paling baik adalah olahraga minimal 30 menit per hari atau jalan kaki 3 KM per hari. 

Pencegah radikal bebas yang berasal dari virus bisa dilakukan dengan vaksinasi HPV  dan Hepatitis B. 

lihat fotoILUSTRASI - Ilustrasi peran antioksidan alami mencegah kanker sejak dini.
ILUSTRASI - Ilustrasi peran antioksidan alami mencegah kanker sejak dini.

Jangan biarkan kanker terdeteksi sudah stadium lanjut, sehingga perlu lakukan skrining dan deteksi dini sesuai kelompok usia dan risiko.

Misalnya, untuk wanita Pap smear/IVA dan pemeriksaan payudara (SADARI, klinis, mammografi) atau skrining kanker kolorektal pada usia tertentu.

Dari uraian pencegah kanker, yang paling penting sebetulnya kita memerlukan tentara yang bekerja di benteng pertahanan sel yaitu antioksidan yang akan menangkal radikal bebas.

Konsumsi antioksidan alami adalah tindakan bijak yang bisa kita lakukan disela-sela kesibukan kita.

Antioksidan Alami: "Bodyguard" Sel Tubuh dari Radikal Bebas

Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menetralkan radikal bebas sebelum merusak sel tubuh. Radikal bebas bisa diibaratkan "api kecil" yang, jika dibiarkan, bisa membakar rumah (tubuh). 

Antioksidan adalah "alat pemadam" yang menenangkan api sebelum merambat ke mana-mana.

Sumber antioksidan alami antara lain: (a) Vitamin C sumbernya banyak dalam buah-buahan jeruk, jambu biji, stroberi, pepaya, dan paprika. Namun, perlu diingat konsumsi buah yang tidak tinggi gula sederhana. 

(b) Vitamin E banyak bersumber kacang-kacangan, biji-bijian, dan minyak nabati sehat. Dan perlu diingat juga bukan kacang-kacangan yang digoreng dengan minyak, kacang-kacangan yang memiliki fitosterol tak jenuh tinggi seperti kacang kedelai dan almond. 

Karotenoid (β-karoten, likopen) yang terdapat pada buah atau sayur berwarna terang seperti wortel, labu, tomat, dan semangka. 

Selenium dan mineral lain yang banyak dikandung dalam sayur (brokoli, bayam,dan jamur shitake), ikan (tuna, salmon, sarden), telur, dan daging sapi dan ayam segar (olahan kukus atau rebus). 

Di antara zat-zat di atas yang paling banyak melimpah dan efektif bekerja sebagai penangkal radikal bebas sebenarnya zat polifenol dan flavonoid. Zat ini mudah didapat tetapi perlu tahu cara mengonsumsinya saja. 

Misalnya, semua jenis teh, semua buah dan sayur berwarna cerah (merah, ungu, oranye, hijau tua) mengandung polifenol atau flavomoid tinggi. 

Namun, konsumsi bahan-baha tersebut perlu dilakukan natural missal teh diseduh tanpa gula, buah dan sayur dimakan tanpa tambahan zat lain. 

Antioksidan alami memengaruhi berbagai protein transkripsi dan jalur sinyal untuk mengatur tingkat ROS:

1. Nrf2 (Nuclear factor erythroid 2): Faktor transkripsi yang diaktifkan oleh stres oksidatif. 

Antioksidan konsentrasi tinggi dapat mengaktifkan Nrf2, yang kemudian mengatur ekspresi enzim antioksidan endogen (seperti SOD, CAT, GPx) untuk mengurangi ROS. 

Enzim ini (Nrf2) berperan dalam faktor transkripsi utama yang bertindak sebagai pelindung utama sel terhadap stres oksidatif, peradangan, dan racun dengan mengaktifkan gen untuk enzim antioksidan dan protein detoksifikasi, menjaga keseimbangan seluler (homeostasis redoks), tetapi aktivasi terus-menerusnya juga dikaitkan dengan perkembangan kanker dan resistensi obat. 

Cara kerjanya adalah dengan berpindah dari sitoplasma ke nukleus untuk mengikat daerah DNA spesifik (ARE) ketika diaktifkan, memicu produksi protein pelindung.

2. NF-kappa β (Nuclear factor kappa Beta): Faktor transkripsi yang memodulasi respons imun bawaan, proliferasi sel, dan apoptosis. 

Senyawa seperti Arbutin dapat mengurangi ROS dengan menurunkan aktivasi NF-kappa β, yang mengurangi ekspresi gen pro-inflamasi (IL-1beta dan TNF-alpha) dan meningkatkan apoptosis.

3. STAT3 (Signal Transducer and Activator of Transcription 3): Terlibat dalam pertumbuhan dan perkembangan banyak jenis kanker. Curcumin dapat meningkatkan ROS dan menghambat aktivasi STAT3, menyebabkan apoptosis sel kanker.

4. p53: Protein penekan tumor yang penting, sering disebut "penjaga genom". p53 dapat bertindak sebagai pro-oksidan (menginduksi ROS dan apoptosis) atau antioksidan (meregulasi gen antioksidan seperti SOD dan GPx), tergantung pada tingkat ROS basal.

Cara memperoleh antioksidan dari makanan sehari-hari sebenarnya sangat sederhana. Prinsip utamanya adalah mengutamakan makanan utuh (whole foods) ketimbang suplemen.

Banyak penelitian menunjukkan, suplemen antioksidan dosis tinggi dapat mengganggu keseimbangan tubuh, terutama pada perokok atau pasien dengan kondisi tertentu, sehingga sumber terbaik tetap berasal dari makanan alami.

Salah satu cara paling mudah adalah menerapkan pola "makan pelangi", yaitu menghadirkan beragam warna sayur dan buah dalam menu harian. 

Warna hijau seperti bayam, kangkung, brokoli, sawi, dan daun kelor kaya klorofil serta vitamin. Warna oranye atau kuning dari wortel, labu, jagung, pepaya, dan mangga mengandung beta-karoten. 

Warna merah seperti tomat, semangka, jambu merah, dan cabai kaya likopen, sedangkan bahan berwarna ungu-terong ungu, ubi ungu, atau anggur-mengandung antosianin yang bersifat antioksidan kuat.

Pedoman WHO juga menganjurkan konsumsi minimal 400 gram buah dan sayur per hari untuk menurunkan risiko penyakit tidak menular, termasuk kanker

Dalam praktiknya, setengah piring makan sebaiknya diisi sayur, dan konsumsi buah dianjurkan 2–3 porsi per hari, misalnya jambu di pagi hari, pisang saat siang, dan pepaya di sore hari.

Masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki banyak pilihan makanan tradisional yang sarat antioksidan. Hidangan seperti gado-gado, pecel, karedok, dan urap merupakan perpaduan sayuran dan kacang yang kaya vitamin serta polifenol. 

Menu sayur asem atau sayur lodeh yang menggunakan banyak sayuran, serta lalapan yang dipadukan sambal tomat rendah garam, turut menjadi sumber antioksidan yang mudah diakses.

Kebiasaan makan juga dapat diubah secara bertahap dengan mengganti camilan tinggi gula atau gorengan menjadi buah segar atau kacang panggang. Minuman manis dapat diganti dengan air putih, infused water, atau teh hijau tanpa gula yang mengandung polifenol alami.

Pada akhirnya, upaya meningkatkan antioksidan tidak akan efektif jika tubuh masih dibebani banyak "musuh" antioksidan, seperti konsumsi gula berlebihan, makanan berlemak trans, gorengan dari minyak yang digunakan berulang, serta paparan asap rokok. 

Mengurangi faktor-faktor perusak ini sama pentingnya dengan meningkatkan asupan antioksidan, sehingga tubuh dapat memperoleh manfaat optimal dalam mencegah kerusakan sel dan menurunkan risiko kanker.

Kanker memang penyakit yang berat, tetapi bukan sesuatu yang sama sekali di luar kendali kita. 

Dengan langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten terutama mulai dari meja makan sehingga kita bisa memperkuat "pertahanan tubuh" dan mengurangi risiko kanker sejak dini. 

Antioksidan alami bukan sekadar tren, tetapi salah satu kunci penting untuk masa depan yang lebih sehat. (*)

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas