Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pemberian Insentif Tidak Otomatis Menciptakan Budaya Penelitian Bagi Dosen

Sistem insentif untuk penelitian dalam Permenristekdikti No. 20 tahun 2017, yang dilakukan pemerintah menurutnya sama dengan melakukan micromanage

Pemberian Insentif Tidak Otomatis Menciptakan Budaya Penelitian Bagi Dosen
Istimewa
Wakil Rektor Universitas Prasetiya Mulya Yudi Samyudia (kiri) dan Dekan SBE Agus W.Soehadi, dan Dekan STEM Janson Naiborhu, pada Seminar Pembaruan Pendidikan Tinggi di Universitas Prasetiya Mulya, Kampus Cilandak, 30/3/2017. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Rektor Bagian Akademik Universitas Prasetiya Mulya, Yudi Samyudia berpendapat insentif yang kadang menjadi tujuan sebuah penelitian tidak akan membantu menciptakan kultur penelitian.

Dirinya  tidak setuju dengan model insentif seperti itu dan  bisa berbahaya karena tidak menciptakan kultur (penelitian).

"Mungkin di awal (bisa) baik, tapi di saat nanti dananya seret, akibat yang terjadi adalah demo," kata Yudi di sela-sela Seminar Nasional Pembaruan Pendidikan Tinggi Indonesia di Universitas Prasetiya Mulya, Kampus Cilandak, Jakarta belum lama ini 

Sistem insentif untuk penelitian yang tertuang dalam Permenristekdikti No. 20 tahun 2017, yang dilakukan pemerintah menurutnya sama dengan melakukan micromanage.

"Artinya tindakan manajerial berlebihan dari atasan, dalam hal ini pemerintah untuk mengontrol secara detail apa yang dilakukan bawahannya," katanya.

Yudi sebenarnya berharap, perguruan tinggi swasta bisa lebih otonom daripada perguruan tinggi negeri, yang gaji dosennya dibayar oleh negara sehingga rektor tak dapat mengontrol ketat staf akademisnya.

"Beda   dengan di swasta yang dibayar yayasan sehingga dosen masih bisa dikontrol institusi melalui rektor. Dengan kebijakan ini, yang memberikan money kepada akademisi-peneliti secala langsung, otonomi universitas swasta dihancurkan," kata Yudi.

Baru-baru ini melalui permenristekdikti nomor 20 tahun 2017 menerapkan sistem pengukuran ini terkait dengan kewajiban menulis artikel ilmiah bagi lektor kepala dan guru besar.

Kebijakan ini menurut Yudi masih menyisakan pro-kontra di kalangan akademisi.

Banyak peneliti akademis menurutnya, karena motif mengejar insentif, cukup mengunggah secara online artikel ilmiahnya di laman-laman jurnal daring yang terindeks berbagai lembaga pengindeks, dengan berbagai strategi dan cara yang tidak semua bisa dipertanggungjawabkan, lalu ketika itu ditemukan pihak kemenristekdikti insentif langsung diberikan kepada yang bersangkutan.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Eko Sutriyanto
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas