Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Kunci Jawaban Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD Halaman 36 Kurikulum Merdeka Bab 2: Pengemis Tua

Simak kunci jawaban Pendidikan Agama Katolik kelas 5 SD Kurikulum Merdeka halaman 36 pada bagian Ayo Kita Dalami.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Katarina Retri Yudita
zoom-in Kunci Jawaban Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD Halaman 36 Kurikulum Merdeka Bab 2: Pengemis Tua
Tangkapan layar Buku Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD Kurikulum Merdeka Halaman 36
Kunci jawaban Pendidikan Agama Katolik kelas 5 SD Kurikulum Merdeka halaman 36 Bab 2: Ayo Kita Dalami 

TRIBUNNEWS.COM - Berikut kunci jawaban Pendidikan Agama Katolik kelas 5 SD Kurikulum Merdeka halaman 36.

Dalam buku Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD Kurikulum Merdeka halaman 36, terdapat 6 soal pada bagian Ayo Kita Dalami.

Pada Bab 2 Tokoh-Tokoh Khusus Perjanjian Lama Sub Bab Daud Sang Pemimpin ini, siswa mengenal salah satu tokoh Perjanjian Lama yaitu Daud yang dipilih Tuhan untuk menjadi pemimpin Israel, sehingga mampu meneladan sikap kepemimpinan Daud dalam hidup sehari-hari.

Sebelum mengerjakan 6 soal di bagian Ayo Kita Dalami, sebaiknya siswa memahami Bab 2 terlebih dahulu.

Baca juga: Kunci Jawaban Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 Halaman 20 Kurikulum Merdeka Bab 1: Peran Ayah Ibu

Kunci Jawaban Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD Kurikulum Merdeka Halaman 36

Ayo Membaca Cerita

Edo, Pemuda Berhati Emas

Rekomendasi Untuk Anda

Di tengah panas terik, tampak sosok tua dengan wajah lusuh melangkah tertatih-tatih.

Sebentar-sebentar laki-laki tersebut melihat ke arah matahari.

Panas yang semakin terik membuat kerongkongannya semakin kering.

Dari kejauhan dia melihat sebuah rumah mewah.

Di benaknya terbersit harapan tuan rumah tersebut bersedia memberinya makanan.

Telah beberapa rumah dia kunjungi, namun tak satupun yang mau memberinya sesuap nasi.

Lelaki tua itu pun berjalan perlahan memasuki pekarangan rumah yang terlihat sangat megah.

"Kasihani saya, Pak. Sejak kemarin saya belum makan," katanya memelas.

"Siapa, Kau, beraninya minta makan padaku? Pergi dari sini!" Tuan rumah mengusirnya sambil menutup pintu agak keras.

Pemilik rumah megah itu adalah seorang punggawa istana Kerajaan Arengka.

Berbalut rasa sedih, pengemis tua itu ke luar rumah.

Dia melanjutkan langkahnya, sambil berharap ada orang yang mau menyisihkan sedikit rejekinya.

Pengemis tua itu pun melihat sebuah warung nasi.

Dia berharap pemilik warung berbaik hati untuk memberikan sedikit makanan.

"Kasihani saya, Bu, bolehkah saya meminta sedikit makanan?"

Ibu pemilik warung itu menatap pengemis tua itu, tapi tak lama kemudian bau menyengat keluar dari tubuhnya... maka, spontan pemilik warung dan pelanggan yang sedang menikmati sajian makanan, menatapnya penuh amarah, menutup hidung, dan mengusir pengemis tua tersebut.

"Dasar pengemis busuk! Aku jadi tak punya selera; Pergi... pergi dari hadapanku!" kata seorang pelanggan seolah mengusir seekor anjing buduk.

Dengan hati sedih, sementara perut semakin menjerit didera lapar, pengemis itu pergi.

"Aduhh …. Tak kusangka penduduk negeri ini. Mereka tidak punya hati dan tidak peduli sedikitpun. Telah banyak rumah dan warung aku singgahi, tapi tak satu pun yang mau menyisihkan sedikit rejeki dan berbagi makanan. Padahal mereka tergolong orang-orang kaya," kata pengemis tua itu di dalam hati.

Perjalanan semakin berat, lelah, haus, dan lapar, ditambah panas menyengat, mendorong pengemis tua itu duduk berteduh di bawah pohon rindang.

Tak jauh dari pohon rindang itu, tampak sebuah gubuk yang miring hampir roboh, yang tak pantas di huni manusia.

Sebagian dinding gubug itu tampak terbuka dengan kayu-kayu yang lapuk tak tertata.

Badan yang lelah, tenggorokan kering, dan perut yang lapar membuat pengemis itu pun tertidur...

"Pak...! Pak. ! Bangun!!"

Meskipun tampak kelelahan dan masih mengantuk, pengemis itu pun bangun... ia tampak terkejut dan menatap seorang pemuda sederhana di hadapannya.

"Bapak, maaf saya mengganggu. Saya khawatir, karena hari hampir malam, sementara Bapak terbaring di sini. Sebetulnya Bapak dari mana atau mau kemana?" tanya pemuda tersebut.

"Anak muda... saya tak punya tujuan, saya seorang gelandangan atau tuna-wisma. Setiap hari, saya hanya berkelana tak tentu arah." jawab pengemis itu setengah mengantuk.

"Kalau begitu, jika Bapak mau malam ini Bapak boleh beristirahat di gubuk saya. Besok Bapak bisa melanjutkan perjalanan kembali."

Dengan rendah hati pemuda itu mengajak pengemis.

Malam itu pengemis tua menginap di gubuk pemuda itu. Ia bernama Edo.

Meskipun pengemis tua itu bau, berbalut baju yang lusuh, dan compang-camping, namun Edo dan ibunya tidak menjauh.

Bahkan mereka memberikan ubi rebus untuk sekadar mengisi perutnya...

Keesokan harinya, pengemis tua berpamitan seraya berterima kasih kepada Edo dan ibunya, lalu melanjutkan perjalanannya....

Di istana raja, para pegawai kerajaan sedang heboh.

Sudah tiga minggu, Raja Sutapermana tidak dapat dijumpai oleh siapa pun.

Permaisuri Nastiti hanya mengatakan bahwa sang raja sedang menenangkan pikiran untuk menentukan seorang penasehat kerajaan menggantikan penasehat sebelumnya yang meninggal dunia satu bulan sebelumnya.

Pada suatu hari, Permaisuri Nastiti mengatakan bahwa Raja Sutapermana telah kembali ke istana.

Tersiar berita bahwa pada hari itu juga baginda raja akan mengangkat seorang penasehat kerajaan.

Para pembesar dan sesepuh kerajaan pun telah hadir.

Yang mengherankan adalah hadirnya Edo di balai pertemuan kerajaan.

Edo sendiri tampak kebingungan, karena selama ini dia tidak pernah masuk ke istana raja.

Tapi para pengawal telah menjemput dan mengantar Edo untuk duduk di depan.

"Hari ini adalah hari penentuan siapa yang akan kuangkat sebagai penasehat kerajaan, menggantikan penasehat sebelumnya. Setelah aku renungkan selama tiga minggu ini, maka sebagai Raja, aku mengangkat anak muda bernama Edo, sebagai penasehat kerajaan kita!”

Semua yang hadir tampak bingung, karena mereka tidak pernah mendengar nama Edo.

Begitu juga yang terjadi pada Edo, dirinya sangat terkejut mengapa dirinya yang dipilih Raja Sutapermana.

Edo didaulat ke depan, berdiri di samping raja, untuk diperkenalkan kepada semua hadirin.

Para tamu undangan merasa heran bercampur kaget dengan keputusan raja mengangkat pemuda lusuh tersebut.

"Perlu hadirin ketahui, pemuda Edo ini kuangkat sebagai penasehat kerajaan karena ia tulus hati dan ikhlas.

Ia menolong orang lain tanpa memilah dan memilih. Sekalipun yang datang kepadanya seorang pengemis tua yang lusuh dan berbau busuk.

Oleh karena itu, aku memilih dia menjadi penasehat kerajaan!"

Beberapa orang yang hadir dan bahkan berharap dirinya terpilih menjadi orang kepercayaan raja merasa kecewa sekaligus malu.

Mereka tidak menyangka jika pengemis yang datang ke rumah mereka selama tiga minggu kemarin adalah Raja Sutapermana.

Meskipun Edo terlahir sebagai pemuda miskin, namun Edo adalah orang yang berhati emas.

Karena ketulusan hati, kesucian budi, dan kesederhanaannya, Edo pantas menjadi seorang pemimpin.

Ayo Kita Dalami

1. Mengapa banyak orang yang tidak peduli dengan pengemis tua tersebut?

Jawaban: Karena pengemis tua itu mengenakan baju lusuh dan compang-camping serta bau menyengat keluar dari tubuhnya.

2. Siapakah yang peduli terhadap pengemis tua tersebut?

Jawaban: Seorang pemuda bernama Edo.

3. Apa bentuk kepedulian terhadap pengemis tua tersebut?

Jawaban: Edo menyuruh pengemis tua untuk menginap di gubuknya dan Edo memberi ubi rebus.

4. Siapa ternyata pengemis tua tersebut?

Jawaban: Pengemis tua itu ternyata adalah Raja Sutapermana.

5. Dapatkah kamu bersikap peduli terhadap pengemis seperti pada kisah tersebut?

Jawaban: Ya, aku dapat bersikap peduli seperti pada kisah tersebut dengan memberikan sebagian rezeki yang aku punya.

6. Apa yang membuat kita tidak bisa bersikap peduli terhadap pengemis seperti pada kisah tersebut?

Jawaban: Terkadang, kita merasa jijik saat ada pengemis mendekati kita untuk makanan karena penampilan mereka yang lusuh dan bau.

Namun, kita tidak boleh bersikap begitu karena kita seharusnya membantu sesama dengan tulus hati dan ikhlas tanpa pilih-pilih.

Baca juga: Kunci Jawaban Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 Halaman 14 Kurikulum Merdeka Bab 1: Adam dan Hawa

Disclaimer:

- Jawaban di atas hanya digunakan oleh orang tua untuk memandu proses belajar anak.

- Sebelum melihat kunci jawaban, siswa harus terlebih dahulu menjawabnya sendiri, setelah itu gunakan artikel ini untuk mengoreksi hasil pekerjaan siswa.

(Tribunnews.com/Katarina Retri)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas