Jawaban Modul 3.7 Cinta Allah dan Rasul-Nya, Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta, PINTAR Kemenag
Salah satu materi dalam pelatihan ini adalah Modul 3.7: Cinta Allah dan Rasul-Nya, yang merupakan bagian dari Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta.
Penulis:
Farrah Putri Affifah
Editor:
Tiara Shelavie
TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Agama Republik Indonesia melalui platform digital PINTAR Kemenag kembali menghadirkan inovasi pelatihan nasional bertajuk Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dirancang untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam dunia pendidikan.
Program ini dibuka secara luas bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun masyarakat umum dengan kuota besar mencapai 250 ribu peserta, dikutip dari kemenag.go.id.
Program ini menggunakan skema pembelajaran Massive Open Online Course (MOOC) yang memungkinkan peserta belajar mandiri secara fleksibel tanpa terikat waktu dan tempat.
Pendaftaran pelatihan ini telah dibuka sejak pertengahan April dan berlangsung hingga 21 April 2026, dengan jumlah pendaftar yang terus meningkat dan didominasi oleh kalangan guru serta dosen dari berbagai daerah di Indonesia.
Pelatihan KBC ini merupakan hasil kolaborasi antara Pusat Pengembangan Kompetensi Manajemen (Pusbangkom) SDM Kemenag, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, serta dukungan kemitraan internasional melalui Program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia).
Sinergi lintas lembaga ini bertujuan menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga menyentuh aspek emosional dan karakter peserta didik, sejalan dengan visi perlindungan anak dan penguatan pendidikan berbasis nilai kasih sayang.
Pelaksanaan pelatihan dijadwalkan berlangsung secara asynchronous pada 22–28 April 2026, dengan pembukaan resmi oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar, pada 22 April 2026.
Program ini digagas sebagai bagian dari gerakan nasional untuk menghadirkan suasana belajar yang lebih inklusif, ramah anak, dan penuh empati di lingkungan pendidikan.
Salah satu materi utama dalam pelatihan ini adalah Modul 3.7: Cinta Allah dan Rasul-Nya, yang merupakan bagian dari konsep Pancacinta dalam Kurikulum Berbasis Cinta.
Modul ini menekankan pentingnya menanamkan nilai spiritual sebagai fondasi utama dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter religius yang kuat.
Melalui pelatihan ini, Kemenag berharap para pendidik mampu mengimplementasikan nilai-nilai cinta dalam setiap aspek pembelajaran, mulai dari interaksi di kelas hingga pengelolaan lingkungan pendidikan.
Baca juga: Kemenag Siapkan 250 Ribu Kuota Diklat Online Kurikulum Berbasis Cinta, Pendaftaran Ditutup Hari Ini
Dengan demikian, Kurikulum Berbasis Cinta tidak hanya menjadi konsep, tetapi benar-benar hadir sebagai praktik nyata yang membentuk generasi berkarakter, toleran, dan penuh kasih.
Modul 3.7 Cinta Allah dan Rasul-Nya, Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta, PINTAR Kemenag
1. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang merasa bahwa keberhasilan berasal dari kerja kerasnya sendiri. Analisis paling sesuai dalam perspektif QS. Al-Waqian: 83-73 adalah...
Jawaban: Terdapat kecenderungon mengabaikan peran Allah dalam menentukan hasil
2. Kata Jihad disebutkan sebanyak 41 kali dalam Al-Quran. Berdasarkan penjelasan mengenai pergeseran paradigma jihad pemahaman mana yang harus ditekankan kepada masyarakat?
Jawaban: Jihad adalah upaya sungguh sungguh dalam segala kebaikan, termasuk mengendalikan hawa nafsu
3. QS. Al-Waqi'ah: 55 menyebutkan bahwa Allah mampu menjadikan tanaman hancur. Ketika dalam refleksi tea ceremony muncul kesadaran akan rapuhnya proses yang menghasilkan teh, maka sintesis terhadap hal ini adalah...
Jawaban: Ketergantungon hasil pada kehendak Allah menunjukkan kasih sayang-Nya yang perlu disyukuri
4. Setiap manusia berharap mendapatkan surga dan tidak menginginkan masuk neraka. Pernyataan yang benar di bawah ini adalah...
Jawaban: Bertransaksi dengan Allah melahirkan sikap melaksanakan perintah Allah penuh dengan mengharap masuk surga-Nya Allah Swt.
5. Seorang guru ingin mengajarkan tentang kewajiban salat kepada murid-muridnya dengan pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Manakah langkah yang paling tapat untuk menggeser paradigma dari sisi Jalaliah ke sisi Jamaliah Allah?
Jawaban: Menjelaskan bahwa salat adalah bentuk syukur dan sarana berkomunikasi dengan Allah yang Maha Pengasih
6. Dalam kegiatan kunjungan belajar ke kawasan wisata alam, murid melihat pengunjung membuang sampah sembarangan. Guru ingin menanamkan kesadaran bahwa manusia sebagai khalifah harus menjaga keseimbangan alam. Langkah pembelajaran yang paling mencerminkon nilai tersebut adalan....
Jawaban: Mengajak murid melakukan aksi bersih lingkungan secara bersama
7. Jika seorang mengatakan, "Aktivitas sehari-hori terasa biasa saja karena saya melakukannya tanpa berpikir panjang." Analisis paling relevan dalam kaitannya dengan cinta Allah adalah...
Jawaban: Tidak mengaitkan aktivitas dengan makna yang lebih tinggi
8. Peran fasilitator dalam sesi refleksi setelah minum teh paling tepat dipahami sebagai..
Jawaban: Pemantik kesadaran peserta melalui pertanyaan reflektif
9. Dalam kegiatan tadabbur alam, murid diajak mengamati hutan kota. Sebagian murid melihat kegiatan tersebut hanya sebagai sarana rekreasi dan pengematan Ilmiah semata. Guru ingin menanamkan nilai bahwa alam merupakan tajalli (manifestasi Ilahi). Tindakan guru yang paling tepat adalah...
Jawaban: Mengarahkan murid merefleksikan keberagaman makhluk hidup manifestasi Nama-Nama Allah dalam ciptaan-Nya
10. "Rahmat Allah lebih mendahului murka-Nya Makna yang paling tepat dalam membangun paradigma KBC adalah...
Jawaban: Rahmat Allah menjadi landasan utama dalam memahami sifat-Nya
Disclaimer:
- Jawaban di atas hanya digunakan untuk memandu bapak/ibu guru dalam mengerjakan Pelatihan PINTAR Kemenag 2025.
- Urutan soal bisa acak dan berbeda dengan yang diterima saat pelatihan.
(Tribunnews.com/Farra)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.