Gerakan 'Benerin 1000 Sekolah' Diluncurkan dalam Hari Raya Pendidikan 2026
Penyelenggaraan Hari Raya Pendidikan 2026 di Jakarta menghadirkan 350 peserta dari berbagai kalangan membahas transformasi pendidikan Indonesia.
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Penyelenggaraan Hari Raya Pendidikan 2026 di Jakarta menghadirkan lebih dari 350 peserta dari berbagai kalangan untuk membahas transformasi pendidikan Indonesia.
- Forum lintas komunitas ini menyoroti persoalan akses, kualitas, dan relevansi pendidikan sekaligus pentingnya kolaborasi antar sektor.
- Kegiatan ditutup dengan peluncuran Gerakan Benerin 1000 Sekolah sebagai aksi nyata memperkuat fasilitas dan budaya belajar di sekolah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Semangat membangun ulang fondasi pendidikan Indonesia mengemuka dalam gelaran Hari Raya Pendidikan 2026 yang berlangsung di Ganara Art FX Sudirman, Jakarta awal Mei kemarin.
Mengusung tema “Gerakan Pendidikan Kembali ke Akar”, acara ini dihadiri lebih dari 350 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, pendidik, akademisi, komunitas, hingga kreator muda.
Kegiatan ini menjadi forum kolaboratif lintas sektor yang digagas GEKRAFS, Sekolah Tanah Air, Bepro, Cemas.co, dan Distrik Berisik untuk mendorong transformasi pendidikan nasional.
Penyelenggara menilai perubahan pendidikan tidak bisa dibebankan hanya kepada institusi formal, tetapi membutuhkan keterlibatan komunitas kreatif, organisasi masyarakat, gerakan sosial, dan generasi muda.
Dalam forum tersebut, Bepro mengambil peran sebagai penghubung aspirasi anak muda dari berbagai daerah. Gerakan profesional muda ini diketahui telah hadir di 20 provinsi, mulai dari Aceh hingga Papua Barat.
Berbagai narasumber lintas sektor hadir dalam acara ini, di antaranya CEO Orbit Edutech M. Andy Zaky, CEO Smartick Indonesia Galih Sulistyaningra, kreator sekaligus guru sejarah Nada Aprianita, Founder Rumus Muda Reza Erfit, hingga perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kementerian Kebudayaan.
Membaca Ulang Persoalan Pendidikan Nasional
Segmen pertama bertajuk “Peta Pendidikan Indonesia” menjadi ruang refleksi untuk memetakan tantangan utama pendidikan nasional.
Diskusi menyoroti ketimpangan akses pendidikan, kualitas pembelajaran, kesenjangan fasilitas sekolah, hingga relevansi sistem pendidikan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial.
Baca juga: Guru Non-ASN dan Utang Konstitusional Pendidikan di Negeri Ini
Partisipasi aktif peserta menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap kondisi pendidikan Indonesia saat ini sekaligus harapan besar terhadap perubahan yang lebih konkret.
*Pentingnya Kerja Sama Antar Pemangku Kepentingan
Pada sesi kedua bertema “Kerja Sama untuk Generasi Selanjutnya”, forum menekankan pentingnya sinergi nyata antara pemerintah, komunitas, institusi pendidikan, dan masyarakat.
Sejumlah gagasan kolaboratif mengemuka, mulai dari penguatan ekosistem belajar berbasis komunitas hingga perluasan akses pendidikan yang lebih inklusif dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Forum tersebut menegaskan bahwa masa depan pendidikan harus dibangun melalui semangat gotong royong lintas sektor.
Peluncuran Gerakan Benerin 1000 Sekolah
Puncak acara ditandai dengan peluncuran “Gerakan Benerin 1000 Sekolah” yang diinisiasi Sekolah Tanah Air. Program ini bertujuan mendorong perubahan langsung di lingkungan sekolah melalui penguatan fasilitas belajar, literasi, kapasitas pendidik, dan budaya belajar yang sehat.
Founder Sekolah Tanah Air, Rian Fahardhi, mengatakan perubahan pendidikan harus dimulai dari tindakan nyata di lapangan.
“Kita terlalu sering berhenti di ruang diskusi. Pendidikan butuh keberanian untuk turun langsung ke sekolah-sekolah dan membangun perubahan dari akar,” ujar Rian.
Baca juga: Revitalisasi 809 Sekolah di NTT Dimulai, Mendikdasmen: Dorong Kualitas Pendidikan di Wilayah 3T
Ketua Umum Bepro, Luthfi Dipa, menilai tingginya antusiasme peserta menjadi bukti bahwa kepedulian publik terhadap pendidikan terus meningkat.
“Hari ini kita membuktikan bahwa keresahan publik terhadap pendidikan bisa menjadi energi perubahan. Anak muda bukan sekadar penonton, tapi penggerak,” kata Luthfi.
Melalui program sosial BeCare, Bepro juga berkomitmen menggerakkan relawan di 20 provinsi untuk mengawal program Gerakan Benerin 1000 Sekolah hingga tingkat akar rumput.
Pendidikan sebagai Gerakan Sosial dan Budaya
Selain forum diskusi, acara turut dimeriahkan penampilan budaya dari Traditional Dancer Club SMPN 253 Jakarta yang memperkuat pesan bahwa pendidikan harus tumbuh dari akar nilai dan identitas bangsa.
Hari Raya Pendidikan 2026 menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya isu kebijakan, melainkan gerakan sosial dan kebudayaan yang membutuhkan partisipasi bersama.
Keberhasilan forum ini diharapkan menjadi awal lahirnya kolaborasi lanjutan demi mendorong pendidikan Indonesia yang lebih inklusif, relevan, dan berkelanjutan.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.