Dugaan Riset Palsu WNI di Konferensi Dunia, Epidemiolog: Pelanggaran Terhadap Integritas
Dugaan riset palsu WNI di konferensi ISPPD 2026 dengan AI dinilai ancam integritas ilmiah dan budaya akademik.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
- Dugaan pemalsuan riset oleh sejumlah WNI di konferensi ISPPD 2026 mencuat, diduga memakai AI untuk manipulasi data demi travel grant.
- Epidemiolog Dicky Budiman menilai praktik ini sebagai scientific misconduct yang merusak integritas akademik dan budaya ilmiah generasi muda.
- Ia mendorong sikap tegas institusi pendidikan
TRIBUNNEWS.COM - Ramai diperbincangkan dugaan pemalsuan riset yang dilakukan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) untuk mengikuti konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 yang digelar di Copenhagen, Denmark.
Para pelaku diduga menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk memalsukan data penelitian, gambar, hingga isi tulisan ilmiah. Dugaan tersebut mencuat setelah muncul indikasi bahwa karya ilmiah yang diajukan mengandung data dan temuan yang tidak valid.
Modus ini diduga dilakukan untuk memperoleh travel grant atau bantuan biaya perjalanan sehingga peserta dapat menghadiri konferensi internasional tanpa harus menanggung seluruh biaya secara mandiri.
Menanggapi polemik tersebut, Epidemiolog sekaligus peneliti dan pengajar Global Health Security, Dicky Budiman, menilai kasus dugaan penelitian palsu dan manipulasi akademik tidak bisa dianggap sebagai pelanggaran biasa.
Menurutnya, praktik semacam itu berpotensi merusak integritas ilmiah, budaya akademik, hingga kepercayaan internasional terhadap dunia pendidikan Indonesia.
Ia menegaskan bahwa persoalan tersebut menyangkut fondasi utama dunia akademik.
Baca juga: Setelah ITB dan UNY, Kini ITS Buka Suara soal WNI Diduga Palsukan Riset, Nama Institusi Dicatut
Bukan Sekadar Pelanggaran Akademik
Dicky menekankan pentingnya membedakan penggunaan AI secara etis dengan tindakan manipulatif dalam penelitian ilmiah.
"Jadi manipulasi data ataupun pemalsuan identitas akademik untuk memperoleh keuntungan pribadi seperti travel grant, reputasi atau akses konferensi internasional tentunya ini bukan sekedar nakal secara akademik. Tapi sudah masuk pelanggaran serius integritas ilmiah berat atau scientific misconduct," tegasnya kepada Tribunnews, Sabtu (30/5/2026).
Menurut Dicky, penggunaan AI pada dasarnya tidak menjadi masalah selama digunakan secara benar dan bertanggung jawab.
"AI sendiri sebetulnya netral yang bermasalah kan manusianya. Oknumnya karena AI ya secara etis boleh dipakai untuk membantu grammar coding statistik literatur mapping misalnya atau brainstorming atau visualisasi data," jelas Dicky.
Namun, ia menegaskan batas pelanggaran muncul ketika AI digunakan untuk menciptakan data yang tidak pernah ada.
"AI itu masuk scientific fraud kalau dia dibuat atau dipakai untuk membuat data palsu. Atau pun respondent fictive ataupun memalsukan analisis atau membuat penelitian yang tidak pernah dilakukan," katanya.
Tiga Faktor Pemicu
Dicky melihat fenomena penelitian palsu muncul akibat kombinasi sejumlah persoalan yang terjadi dalam dunia akademik.
Faktor pertama adalah komersialisasi prestise akademik yang membuat publikasi internasional dan konferensi ilmiah dipandang sebagai simbol status sosial.
"Publikasi konferensi internasional atau travel grant ataupun sertifikat speaker itu sebagai simbol status sosial bukan lagi proses ilmia," kata Dicky.
Menurutnya, kondisi tersebut memicu munculnya praktik tidak sehat seperti paper mill, ghost writing, konferensi palsu, hingga manipulasi sitasi.
Masalah kedua adalah rendahnya pemahaman terhadap metodologi penelitian.
"Banyak orang bisa membuat tulisan yang terlihat ilmiah tapi tidak memahami epistemologinya tidak memahami validitas, tidak memahami bias, tidak memahami etika penelitian," ucapnya.
Sementara faktor ketiga berasal dari kelemahan sistem akademik global yang dinilai masih memiliki banyak celah.
"Dunia akademik internasional juga sedang menghadapi krisis integritas dan banyak konferensi internasional terlalu longgar. Mengejar biaya registrasi, review juga sangat dangkal acceptance rate juga terlalu tinggi," imbuhnya.
Ancam Budaya Ilmiah Generasi Muda
Dicky mengingatkan bahwa dampak terbesar dari kasus semacam ini bukan hanya soal citra Indonesia di mata dunia internasional.
Menurutnya, ancaman yang lebih serius adalah rusaknya budaya ilmiah di kalangan generasi muda.
"Yang paling berbahaya sebenarnya bukan hanya malu tadi di mata dunia, tapi rusaknya budaya ilmiah generasi muda," tegasnya.
Ia menilai orientasi akademik berisiko bergeser dari pencarian ilmu pengetahuan menjadi sekadar pencitraan dan pengakuan sosial.
"Ini yang akhirnya dimanfaatkan oleh sebagian kecil dari kalangan usia muda ini untuk mengeksploitasi. Memanfaatkan celah-celah ini yang penting viral, bisa jalan-jalan keluar negeri, jadi ini yang akhirnya orientasi ilmunya berubah jadi pencitraan," pungkasnya.
Karena itu, Dicky mendorong institusi pendidikan dan lembaga penelitian untuk bersikap tegas terhadap plagiarisme, manipulasi data, serta penyalahgunaan AI agar integritas akademik tetap terjaga dan kepercayaan terhadap dunia ilmiah Indonesia tidak semakin tergerus.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.