Riset: Daerah Vulkanik di Indonesia Cenderung Memiliki Angka Stunting Lebih Rendah
Dalam penelitiannya, Jadrianna menelusuri hubungan antara kesuburan tanah akibat aktivitas vulkanik dan tingkat stunting di berbagai wilayah.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Penelitian siswi Jakarta Intercultural School (JIS), Jadrianna Sutrisno, menemukan korelasi antara kesuburan tanah vulkanik dan rendahnya angka stunting di Indonesia
- Abu vulkanik yang kaya unsur hara dinilai mendukung produktivitas pertanian dan ketersediaan pangan bergizi
- Temuan ini menunjukkan gunung berapi tidak hanya membawa risiko bencana, tetapi juga berpotensi mendukung upaya penurunan stunting
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Gunung berapi selama ini identik dengan bencana alam, erupsi, dan kerusakan lingkungan.
Namun di balik ancaman yang ditimbulkannya, aktivitas vulkanik ternyata menyimpan manfaat besar yang jarang disadari, termasuk potensi mendukung ketahanan pangan dan membantu menekan angka stunting di Indonesia.
Temuan menarik tersebut diangkat oleh Jadrianna Sutrisno, siswi kelas 11 Jakarta Intercultural School (JIS), melalui penelitian bertajuk From Soil to Supper: Agriculture and Child Health in Indonesia yang dipresentasikan dalam Jakarta Scholars Symposium (JSS) 2026 pada 27 Mei 2026 lalu.
Dalam penelitiannya, Jadrianna menelusuri hubungan antara kesuburan tanah akibat aktivitas vulkanik, produktivitas pertanian, dan tingkat stunting di berbagai wilayah Indonesia.
Baca juga: Dampak El Nino Godzilla, IDAI Ingatkan Risiko Gizi Buruk dan Stunting pada Anak
Hasilnya menunjukkan bahwa daerah dengan tanah vulkanik yang subur cenderung memiliki tingkat stunting yang lebih rendah dibandingkan wilayah yang menghadapi keterbatasan lahan produktif dan tantangan lingkungan lainnya.
"Stunting merupakan isu yang sangat relevan di Indonesia, dan saya ingin menggabungkannya dengan minat saya di bidang ilmu lingkungan," ujar Jadrianna dikutip, Selasa (9/6/2026).
Indonesia merupakan salah satu negara dengan aktivitas vulkanik tertinggi di dunia.
Berdasarkan data Smithsonian Institution, terdapat 141 gunung berapi di Indonesia dan sekitar 130 di antaranya masih aktif.
Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah gunung api aktif terbanyak di dunia.
Meski sering dikaitkan dengan bencana, aktivitas vulkanik juga menghasilkan abu yang kaya unsur hara.
Penelitian ahli vulkanologi Vincent Neall dari Massey University menunjukkan bahwa tanah vulkanik hanya mencakup sekitar satu persen permukaan daratan dunia, tetapi mampu menopang sekitar 10 persen populasi global karena tingkat kesuburannya yang tinggi.
Tanah vulkanik mengandung berbagai nutrisi penting seperti kalium, fosfor, magnesium, dan mineral lainnya yang sangat dibutuhkan tanaman untuk tumbuh optimal.
Kesuburan inilah yang kemudian berkontribusi pada tingginya produktivitas pertanian di banyak wilayah sekitar gunung berapi.
"Saya rasa penting untuk melihat bahwa meskipun gunung berapi terlihat berbahaya dan merusak, bukan berarti hanya itu sisi yang dimilikinya. Ada juga manfaat positif dari sesuatu yang tampak destruktif," kata Jadrianna.