Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Perbedaan Premium, Pertalite, dan Pertamax, Mana yang Lebih Bagus?

Premium, Pertalite, dan Pertamax memiliki perbedaan yang cukup mencolok dari harga, kualitas, hingga warna.

Perbedaan Premium, Pertalite, dan Pertamax, Mana yang Lebih Bagus?
Tribunnews/Irwan Rismawan
Petugas melayani pelanggan mengisi bahan bakar kendaraan bermotor di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (27/4/2021). PT Pertamina memastikan stok BBM, LPG, dan avtur dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat selama Ramadan. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata ketahanan stok per 6 April 2021 mencapai 25 hari untuk BBM, 18 hari untuk LPG, dan 66 hari untuk avtur. Tribunnews/Irwan Rismawan 

TRIBUNNEWS.COM – Memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, polusi udara menjadi salah satu persoalan serius yang harus diatasi sesegera mungkin, terutama di Indonesia.

Global Alliance on Health and Pollution menyebutkan, Indonesia menempati posisi keempat setelah India, Tiongkok, dan Nigeria sebagai negara dengan angka kematian tertinggi akibat polusi.

Salah satu biang kerok dari tingginya angka kematian akibat pencemaran udara adalah polusi yang disebabkan penggunaan kendaraan bermotor.

Menurut Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), hal itu terjadi karena masih banyaknya kendaraan yang menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) oktan rendah seperti Premium yang memiliki nilai 88.

Efeknya, pencemaran ini memunculkan berbagai permasalahan kesehatan yang serius, seperti penyakit pada paru-paru hingga kanker.

Dikutip dari Kontan, BBM oktan rendah tidak hanya berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan, namun juga memberikan efek negatif pada kendaraan.

Indonesia Energy Watch (IEW) membeberkan, BBM oktan rendah seperti premium akan membuat pembakaran di dalam mesin kendaraan menjadi tidak sempurna. Sebab, proses terbakarnya BBM di dalam ruang bakar kendaraan hanya terjadi karena tekanan mesin bukan karena percikan api dari busi. Sehingga menjadikan banyak BBM terbuang dan menghasilkan emisi hidrokarbon, karbon monoksida, dan nitrogen dioksida melalui knalpot.

Tidak hanya itu, beberapa pabrikan kendaraan bermotor mengakui, kendaraan yang menggunakan bahan bakar berkualitas rendah bisa memunculkan kerak. Jika dibiarkan, maka oli mesin akan cepat kotor dan bisa memicu kerusakan pada mesin kendaraan.

Lantas bagaimana dengan bahan bakar jenis Pertalite dan Pertamax?

Jika dilakukan perbandingan antara Premium, Pertalite, dan Pertamax tentu ketiganya memiliki perbedaan yang cukup mencolok dari harga, kualitas, hingga warna.

Dari sisi harga, Premium sedikit lebih murah jika dibandingkan dengan jenis lain. Namun bila dilihat dari kualitas, Pertalite dan Pertamax lebih unggul dibandingkan dengan Premium.

Pertalite misalnya, jenis BBM yang pertama kali dikenalkan oleh Pertamina pada 2015 ini memiliki nilai oktan 90 lebih tinggi dari Premium.

Dikutip dari website Pertamina, Pertalite merupakan bahan bakar berwarna hijau terang dan jernih yang tepat digunakan oleh kendaraan dengan kompresi 9:1 hingga 10:1. Dengan tambahan additive, Pertalite mampu menempuh jarak yang lebih jauh, dengan tetap memastikan kualitas dan harganya yang terjangkau.

Sementara itu, untuk jenis Pertamax secara kualitas jauh lebih unggul dibandingkan Premium dan Pertalite. Pertamax memiliki kadar oktan yang cukup tinggi yakni mencapai nilai 92. Pertamax juga dilengkapi dengan formula Pertatec yang memiliki kemampuan untuk membersihkan kotoran pada mesin sehingga lebih awet dan penggunaan bahan bakar lebih efisien.

Kadar oktan yang tinggi ini, menurut Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan pada Jumat (20/2/2021) lalu, bisa memberikan dampak positif bagi lingkungan dan kendaraan. Ia menilai, penggunaan Pertamax akan membuat biaya perawatan kendaraan menjadi lebih hemat.

Ia menjelaskan, BBM oktan 90 ke atas akan menghasilkan pembakaran mesin kendaraan jadi lebih sempurna. Efeknya, kerja dari mesin dapat berjalan optimal dan jarak tempuhnya pun bisa lebih jauh.

Meskipun dari segi harga sedikit lebih mahal, ia yakin Pertamax bisa membuat pengeluaran masyarakat jadi lebih hemat.

Mamit menjelaskan, jarak tempuh yang diberikan oleh Pertamax jauh lebih panjang daripada bahan bakar jenis lainnya seperti Premium atau Pertalite. Poin itulah yang membuat Pertamax bisa menjadi salah satu bahan bakar yang lebih irit.

"Ini saya bandingkan, saya punya dua motor. Satu pakai Premium, satu lagi pakai Pertamax. Setelah saya coba ke kantor, motor memakai Premium habis 2 liter pergi-pulang, tetapi yang Pertamax lebih lama mengisi BBM lagi," papar Mamit.

BBM oktan tinggi seperti Pertamax juga tergolong lebih ramah lingkungan. Pasalnya pembakaran yang sempurna menyebabkan knalpot pengguna tidak akan menggeluarkan asap hitam atau putih. Tidak hanya itu, Pertamax juga bisa membuat tarikan mesin kendaraan menjadi lebih halus dan bertenaga.

Oleh karena itu, para pemilik kendaraan sangat disarankan untuk menggunakan BBM oktan tinggi seperti Pertamax agar lingkungan, kesehatan, dan financial terjaga.

Admin: Sponsored Content
Ikuti kami di
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas