Said Wasit Muslim Pertama Pimpin Final Piala Dunia
Menjelang Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan ini banyak kenangan dunia terhadap pemain maupun wasit yang menonjol kearifan dan keuletan
Editor:
Iswidodo
Said Belqola selain ulet juga namanya menonjol karena satu-satunya wasit Muslim yang pernah memimpin final piala dunia tahun 1998, antara tuan rumah Prancis melawan Brasil tahun 1998.
Perancis unggul 3-0 berkat dua sundulan Zinedine Zidane yang juga seorang muslim. Mantan wapres Jusuf Kalla menyebutnya sebagai Zainuddin. Satu gol lainnya disumbangkan Emannuel Petit yang saat itu membuat mata dunia terbelalak karena keperkasaan Brazil tampak begitu lemah di Perancis.
Sukses Belqola menjadi wasit sepak bola dunia membuat Raja Hassan II dan rakyat Maroko pantas berbangga. Bahkan rasa bangga tersebut juga dirasakan bangsa Arab. Pasalnya Belqola juga tercatat sebagai wasit pertama asal Afrika yang memimpin final piala dunia. Harian Alwathon Saudi Arabia menobatkanya sebagai wasit terbaik Arab tahun 1999.
Sayang, wasit hebat tersebut justru tak bisa menikmati Piala Dunia 2010 yang diselenggarakan untuk pertama kalinya di benua Afrika. Karena Said telah meninggal tanggal 15 Juni 2002 karena serangan kanker.
Setelah berhasil meraih gelar sarjana, Belqola bekerja sebagai pengawas pada Dinas Perpajakkan di kota Meknes. Mulai tahun 1983 aktif sebagai wasit di daury sepakbola Maroko.
Tahun 1993 dia meraih sertifikat wasit FIFA, dan untuk pertama kali dia memimpin pertandinggan internasional pada Champion Afrika, antara Club dari Ghana dan Senegal, seperti dikutip nu.or.id.
Selain memimpin final piala dunia tahun 1998, dan pada tahun yang sama dia menjadi wasit utama dalam final piala Afrika di Burkina Faso, antara skuad Mesir dan Afrika Selatan. Saat itu, 'the Pharaohs' menang 2-0. Salah satu gol tercipta lewat Ahmad Hassan yang saat piala Afrika baru lalu dipercaya sebagai kapten tim.
Said Belqola telah memimpin 90 kali pertandingan internasional. Pengalaman paling berkesan sebagai wasit adalah pada saat memimpin final piala dunia tahun 1998 di stadiun de la Beaujoire. Bisa jadi terpilihnya Belqola menjadi wasit utama pada final piala dunia di Prancis tersebut setelah dirinya sukses memimpin dua pertandingan Jerman-AS dan Argentina-Kroasia.
Dalam memimpin dua pertandingan itu, kemampuan dan ketelatenan Belqola sangat tampak, di mana keputusan sulit dapat dia lakukan dengan hikmah dan tepat sebagaimana wasit sepak bola besar lainnya.
Usai piala dunia itu, Belqola langsung dikontrak Japan Football Association (JFA), untuk memimpin sebagian pertandingan liga sepakbola Jepang. Namun kondisi sulit di lapangan mengakibatkan dia sakit. Sejak tahun 2000 Belqola terserang penyakit kanker dan pada usia 45 tahun, Belqola yang memiliki tiga anak akhirnya meninggal dunia di Rabat tahun 2002.
Kesuksesan Belqola menjadi wasit sepak bola senantiasa dikenang indah di benua Afrika dan Timur Tengah, terutama setiap saat menjelang piala dunia.
Keberhasilan Belqola tersebut dijadikan pemacu bagi para wasit Maroko. Federation Royale Marocaine de Football (FRMF), dan para pegiat olah raga Maroko mendirikan sekolah khusus wasit di kota Tiflet dengan mengabadikan nama almarhum Said Belqola dan Raja Hassan II.
Sekolah tersebut dikelola oleh para wasit sepak bola internasional Maroko, antara lain Mohamed El Kazaz, Mostofha Mazouz, dan Driss El Zokari. Selain Said Belqola dalam sejarah piala dunia, terdapat juga asisten wasit Muslim asal Azerbaijan yang terkenal karena keputusan kontroversial dari gol di final Piala Dunia 1966 antara Inggris dan Jerman Barat. Dia adalah Tofik Bakhramov. (*)