Pengamat Nilai Debat Ketiga Datar, Performa Maruf Amin dan Sandiaga Uno Jadi Sorotan
Bahkan, kedua kandidat cawapres terlihat menahan diri dan cenderung bermain aman dalam debat putaran ketiga semalam
Penulis:
Imanuel Nicolas Manafe
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menilai debat putaran ketiga Pilpres yang mempertemukan Cawapres Nomor Urut 01 Maruf Amin dengan Cawapres Nomor Urut 02 Sandiaga Uno berjalan datar.
Baca: BPN Prabowo-Sandi Solo Sebut Penampilan Sandiaga di Debat Cawapres Hipnotis Emak-emak dan Milenial
Bahkan, menurut Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting ini, kedua kandidat cawapres terlihat menahan diri dan cenderung bermain aman.
"Situasi ini membuat debat berjalan sedikit membosankan dan jenuh, dipertontonkan pertunjukan adu peran antara "kiyai" dan "santri"," kata Pangi memberikan tanggapan, Senin (18/3/2019).
Kedua kandidat ini, menurut Pangi, sepertinya sukses memerankan perannya masing-masing, sehingga panggung debat seperti telah berubah manjadi paparan layaknya kiyai yang sedang mangajar muridnya dan presentasi ala santri di hadapan gurunya.
Meski demikian, Pangi menilai kedua kandidat layak mendapat apresiasi di mana keduanya tampil elegan dengan penguasaan atas materi dan berbagai masalah terkait dengan paparan yang cukup meyakinkan.
"Kiyai Maruf Amin seperti telah mematahkan argumen/asumsi selama ini yang sempat “meragukan” kemampuannya, bahkan dikalangan pendukungnya parpol koalisi Jokowi, tentu saja ini pukulan telak bagi siapa pun yang sebelumnya meremehkan kemampuan beliau," kata Pangi.
Di sisi lain, Pangi menilai Sandiaga Uno juga tampil memukau dengan penguasaan masalah penyampaian visi-misi dan program yang dibalut dengan kritik yang "pedas" dengan bungkus yang sangat halus.
"Sehingga dalam penyampaian terkesan santun, bijak dan penuh hormat pada lawan debatnya," katanya.
Menurut Pangi, penampilan kedua kandidat wakil presiden ini jika diramu dengan format debat yang lebih baik sepertinya akan lebih menarik.
Ia justru menilai KPU sepertinya tidak mau mendengar masukan dari publik.
"Kesalahan yang sama terus diulang, model debat semacam ini “tidak” akan mampu menggali secara lebih mendalam ide dan gagasan masing-masing kandidat, panggung debat akhirnya berubah menjadi panggung pertunjukan untuk menilai sikap (attitude) dan etika kandidat," tutur Pangi.
Baca: Bahas Isu Stunting, Maruf Amin Dinilai Kuasai Masalah dari Sandiaga
Debat kali ini, lanjut Pangi, sedikit terselamatkan pada bagian akhir. Kedua kandidat mengeluarkan jurus pamungkas dengan mengungkapkan visi dan program unggulannya serta kritik keras atas kandidat lain.
"Ini menjadi penutup yang cukup memuaskan dan menjadi inti perdebatan yang membedakan (distingsi) kadua kandidat baik dalam visi maupun program jika kelak mereka mendapatkan amanah untuk memimpin," tutur Pangi.