Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Pilpres 2019

Nur Latifah Beberkan Bentuk Intimidasi yang Diterimanya Saat Bersaksi di MK

Sejumlah relawan Prabowo-Sandiaga menjadi saksi fakta dalam sidang sengketa hasil Pilpres 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta Pusat

Nur Latifah Beberkan Bentuk Intimidasi yang Diterimanya Saat Bersaksi di MK
Tribunnews/Jeprima
Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Anwar Usman (tengah) memimpin sidang sengketa hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di Gedung MK, Jakarta Pusat, Selasa (18/6/2019). Sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum atau Sengketa Pilpres 2019 mengagendakan pembacaan tanggapan pihak termohon dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan pihak terkait dalam hal ini Tim Kampanye Nasional (TKN). Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rizal Bomantama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah relawan Prabowo-Sandiaga menjadi saksi fakta dalam sidang sengketa hasil Pilpres 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta Pusat, Rabu (19/6/2019).

Dalam kesaksiannya beberapa di antara mengakui adanya ancaman berkaitan dengan pilihan politik.

Salah satunya Nur Latifah yang berada di kampung halamannya di Dusun Wonosari, Desa Karangjati, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, Jawa Tengah saat hari pencoblosan 17 April 2019.

Dalam kesaksiannya Nur Latifah menjelaskan bahwa seorang anggota KPPS (Kelompok Panitia Pemungutan Suara) mencobloskan surat suara bagi sekitar 15 pemilih lanjut usia (manula).

Baca: Anak Minta Kuliah di Luar Negeri, Armand Maulana dan Istrinya Menabung

Baca: Danilo Petrucci Mengaku Beruntung Bisa Terhindar dari Insiden di Tingkungan 10 Sirkuit Catalunya

Baca: Kapal PT Pelni KM Bukit Siguntang Nyaris Tabrak Pulau Tukung, Begini Faktanya

Nur Latifah mengatakan kesaksiannya atas kejadian itu terekam dalam sebuah video yang viral.

“Saya mendapat intimidasi dari banyak orang dimana tanggal 19 April 2019 sekitar pukul 11 malam saya dipanggil ke salah satu rumah warga di mana sudah berkumpul ketua KPPS, anggota KPPS, tokoh masyarakat, tokoh agama, perangkat desa, kader partai, dan preman, saya perempuan sendiri. Di sana saya ditanya posisi sebagai apa di dalam sebuah video, saya dituduh menyebarkan video itu padahal bukan, saya dituduh menyebarkan dokumen negara dan dituduh sebagai penjahat politik, langsung disuruh pulang,” ungkap Nur Latifah yang berkuliah di Semarang.

Bahkan pada pagi harinya Nur Latifah mengaku mendapat kabar dari temannya bahwa dirinya mendapat ancaman pembunuhan.

Baca: Persatuan Olahraga Kempo Indonesia Ditunjuk Gelar Kejuaraan Internasional kata Timbul Thomas Lubis

Ia kemudian ditemui pihak yang sama dua hari berikutnya untuk tutup mulut sebelum kembali ke Semarang.

Nur Latifah pun mengaku tidak melaporkan kejadian itu ke kepolisian karena masih merasa aman.

“Kalau tidak ada ancaman pembunuhan langsung kepada saya, saya menganggap tidak masalah. Tapi saya beberapa kali mendapat teror ancaman telepon yang mengecam saya sebagai penjahat politik. Saya tahu merupakan kerabat anggota KPPS yang membantu mencobloskan tersebut,” katanya.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Rizal Bomantama
Editor: Adi Suhendi
  Loading comments...

Berita Terkait :#Pilpres 2019

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas