I'tikaf dan Muhasabah di Akhir Ramadan
Sampai-sampai sahabat Nabi menggambarkan Rasulullah SAW pada masa-masa itu mengencangkan kain sarungnya di akhir ramadan.
Editor:
Hasiolan Eko P Gultom
Karena itu Sahabat Umar Ibn Al-Khattab berkata, "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kaliau untuk hari aradh akbar (yaumul hisab/hari hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab dirinya di dunia."
Alquran juga telah mengajarkan muhasabah melalui i'tiraf Nabi Adam as, setelah ia melanggar larangan Allah tidak boleh makan buah khuldi tetapi ia memakannya.
Beliau bersama istrinya berkata, "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." [QS al A'raf: 23.].
Ketika Nabi Musa as secara tidak sengaja membunuh seorang manusia, sebelum beliau mendapatkan kerasulannya, segera meminta ampunan kepada Tuhannya atas kesalahannya itu. Musa mendoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku." Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS al Qashash: 16]
Juga ada sebuah i'tiraf yang sangat terkenal berasal dari Abu Nawas seorang penyair pada zaman khalifah Harun Al-Rasyid, "Tuhanku... aku tidak layak memasuki surga firdaus.
Dan aku pun tak mampu menahan siksa api Neraka. Terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku Sesungguhnya Engkaulah Pengampun dosa-dosa besar. Dosa-dosaku amatlah banyak bagai butiran pasir. Terimalah taubatku, wahai Yang Maha Agung."