Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Polri Periksa Makanan dan Obat Milik Syaifullah

Polri melakukan uji laboratorium terhadap makanan dan obat-obatan milik M Syaifullah, wartawan Kompas yang tewas di Balikpapan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Vanroy Pakpahan
Editor: Iwan Apriansyah
Laporan wartawan Tribunnews.com, Vanroy Pakpahan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Polri akan melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap beberapa makanan dan obat-obatan yang ditemukan di sekitar lokasi kematian M Syaifullah, Kepala Biro Kompas Kalimantan di Balikpapan.

Sebelumnya, Disdokkes Kepolisian Daerah Kalimantan Timur telah mengungkap penyebab kematian wartawan Ipul, panggilan akrab almarhum. Namun, untuk menguatkan hasil otopsi yang menyebutkan bahwa Ipul meninggal karena Hipertensi, akan dilakukan pendalaman lagi.

"Informasi dari teman saya yang tadi malam ada di sana, baik vitamin, obat-obatan, maupun makanan yang masih ada di sana (TKP) akan dibawa ke laboratorium," kata Kabid Penum Polri, Kombes Pol Marwoto Soeto di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (27/7).

"Dan mungkin organ-organnya juga yang akan diperiksa di laboratorium di Surabaya supaya bisa dipastikan penyebab kematiannya," tambahnya.

Organ-organ yang diperiksa seperti apa? "Yang bisa menyebabkan kematian, seperti limpa, jantung, dan sebagainya. Tapi yang jelas, kan sudah tahu dari Polda Kalimantan Timur bahwa ini akibat pecahnya pembuluh, akibat hipertensi," jelasnya.

Menurut Marwoto, Polri meminta seluruh lapisan masyarakat khususnya para awak media untuk tidak lagi menduga-duga penyebab kematian Syaifullah.

"Polri telah memeriksa saksi-saksi, termasuk saksi kunci yaitu teman dekat almarhum yang mantan wartawan, Wahyu serta keluarga guna mencari tahu penyebab kematian Ipul," ujarnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Terkait adanya indikasi penganiayaan terhadap Ipul, karena llebam di sekujur tubuh dan wajahnya, Marwoto mengatakan tekanan darah tinggi memungkinkan hal itu terjadi pada korban. "Itu biasa. Tapi nanti enam jam berikutnya sudah hilang," tutupnya. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas