Tambang Timah Jadi Magnet Perantau Adu Nasib
Arus balik tetap lebih didominasi oleh kedatangan para pedatang baru.
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
TRIBUNNEWS.COM, MUNTOK - Kepala Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Informatika (Dishubparinform) Bangka Barat Chairul Amri Rani mengatakan, arus balik tetap lebih didominasi oleh kedatangan para pedatang baru.
Arus balik, lanjutnya, adalah kesempatan bagi mereka untuk merantau mengadu nasib diluar daerah asal. Khusus di Bangka, tambang timah menjadi pemicu mereka untuk datang. Peluang pekerjaan yang mudah dan hasilnya mengiurkan, jadi alasan pendukung para perantau menyerbu Bangka.
"Kalau di Bangka Barat inikan sektor tambang 'timah'. Dan hal inilah menjadi daya tarik warga pedatang untuk merantau ke pulau Bangka khususnya Bangka Barat," ucapnya.
Menurut Amri, awalnya ada pihak keluarga mereka atau teman berhasil dan sukses bekerja di Tambang Inkonvensional (TI). Selanjutnya keluarga berhasil mengajak lainnya untuk merantau ke pulau Bangka.
"Keluarga atau teman mereka berhasil bekerja di Tambang Inkonvensional (TI) di sini (Bangka), terus pulang kampung dan balik lagi ke daerah ini bawa keluarga, istri, anak-anak, teman," terang Amri.
Oleh karena itu, sebut Amri, perlu peran Kepala Desa, Ketua RT, Ketua RW, maupun Kepala Lingkungan untuk mengawasi setiap warga pedatang yang masuk ke lingkungan pemukiman dalam wilayah kerja masing-masing. Karena yang sangat dikhawatirkan sebagian diantara pedatang baru itu ada yang masuk dalam DPO atau pelarian dalam kasus tertentu.
"Pendatang baru itu didata, kalau memang diantara mereka ini ada orang pelarian dalam kasus tertentu atau DPO, kalau didata bisa terdeteksi. Bila pedatang tersebut mendapatkan pekerjaan tetap ya nggak masalah. Karena pedatang di wilayah Bangka Barat kemungkinan tiap tahun meningkat, karena ada sektor pertambangan itu memicu warga pedatang untuk mengadu nasib didaerah ini," katanya.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.