Bayi Terlambat Ditangani karena Uang Jaminan Kurang
Ironis. Gara-gara uang jaminan tidak cukup, Rahmat Basri (33) harus bersedih karena bayi dalam kandungan istrinya terlambat ditangani
Editor:
Iswidodo
Semula, Rahmat mengantar Yuyun (27) istrinya memeriksakan kandungan di RSUD Sagulung, Jumat (29/30) siang. Setelah dilakukan pemeriksaan, pihak RSUD memberikan rujukan agar dibawa ke Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB) yang memiliki peralatan lengkap.
Ternyata sampai di RSOB, kondisi ruang ICU penuh sehingga tidak bisa melayani keluarga tersebut.
"Dalam pemeriksaan di RSUD, pihak rumah sakit menyatakan bahwa kondisi bayi dalam keadaan lemah," ungkap Rahmat.
Gagal berobat di RSOB, pihak RSUD Sagulung pun menawarkan tiga tumah sakit alternatif. Masing-masing Rumah Sakit Awal Bros (RSAB), Rumah Sakit Harapan Bunda (RSHB) dan terakhir RSBK.
Dari tiga RS alternatif tersebut, pihak keluarga pun memutuskan untuk membawa Yuyun ke RSBK. Tiba di rumah sakit tersebut, pihak keluarga pun harus menunggu beberapa waktu, karena tidak memiliki uang jaminan kontan sebesar Rp10 juta.
"Kita hanya membawa uang Rp 4 juta, namun ditolak oleh pihak rumah sakit. Begitupun saat kita tawarkan jaminan tambahan berupa sepeda motor, juga ditolak," ujar tetangga pasien, Zainal yang turut serta mengantarkan pasien ke RSBK bersama Ketua RW dan warga lainnya.
Penanganan baru dilakukan pihak RSBK terhadap Yuyun setelah anggota DPRD Batam, Irwansyah memberikan bantuan jaminan biaya operasi proses persalinan.
"Hati saya merasa tergerak begitu mendengar permasalahan yang dihadapi keluarga pasien tersebut, apalagi ini menyangkut nyawa manusia," ujar Irwansyah saat menjenguk Yuyun di RSBK.
Setelah mendapat jaminan dari politisi PPP tersebut, pihak rumah sakit melakukan proses pelaksanaan operasi terhadap Yuyun dengan lancar. Namun meski operasi kandungan berhasil dilakukan, nyawa bayi yang diketahui berjenis kelamin perempuan itu tidak dapat tertolong lagi.
Saat ditemui di ruang ICU RSBK, kondisi Yuyun terlihat masih sangat lemah pasca operasi.
"Terkadang kita juga merasa kasihan dengan penderitaan-penderitaan yang dialami masyarakat, terutama mereka dari kalangan yang kurang mampu," ungkapnya. Rahmat sendiri kini dalam kondisi belum bekerja setelah di-PHK dari perusahaan di Tanjung Uncang, Batam. (*)