Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Wayang Nyleneh Bikin Pengungsi Tertawa

Pertunjukan wayang Tinglung Mardi Kenci, dalang asal Bantul itu, tampil menghibur di Stadion Maguwoharjo, Yogyakarta.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Kisdiantoro
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Wilem Jonata

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Pertunjukan wayang Tinglung Mardi Kenci, dalang asal Bantul itu, tampil menghibur di Stadion Maguwoharjo, Yogyakarta. Sejumlah pengungsi dengan ekspresi gundah gulana berubah menjadi ceria.

Mereka tertawa lepas. Seolah melupakan sejenak, bahwa mereka terpaksa meninggalkan rumah dan harta bendanya akibat letusan Gunung Merapi yang begitu dahsyat.

Malam itu, tidak banyak yang dapat dilakukan para pengungsi. Mereka hanya duduk-duduk di atas permukaan tikar sambil bercakap-capak satu sama lainnya untuk bertukar cerita kesedihan. Entah bicara tentang tetangga atau keluarganya yang tewas akibat sapuan awan panas, serta ternak-ternak yang kelaparan karena belum diberi makan. Ekspresinya serupa. Mereka gundah gulana menunggu tanpa kepastian: kapan amukan Gunung Merapi itu betul-betul reda? Sebab, Mereka ingin kembali pulang ke rumahnya.   

Namun, kehadiran Mardi Kenci di pengungsian itu memberi warna berbeda. Ia dan wayang-wayangnya datang dengan segudang lelucon segar. Lakonnya bukan seperti pewayangan pada umumnya, yang menceritakan kisah Mahabharata atau Ramayana, yang kadang malah membuat penontonnya tegang.

Lakon yang dimainkannya itu cukup dekat dengan keadaan para pengungsi sekarang. Misalnya, kisah Gunung Merapi, gempa di Bantul, sampai pejabat yang memiliki keinginan sangat besar menjadi koruptor dan tidak peduli dengan rakyatnya. Lakon-lakon itu, tentu saja disampaikan dengan guyon nyeleneh tanpa iringan musik gamelan dan suara merdu sinden. Semua bunyi-bunyian pengiring dilahirkan dari suara mulutnya sendiri. Tetapi, lakon tetap diceritakan dengan bahasa Jawa.

Oleh karenanya, di salah satu sisi, di lantai dasar Stadion Maguwoharjo itu, keceriaan para pengungsi tertumpah. Mereka tidak sanggup menyembunyikan gelak tawanya karena merasa lucu dengan pertunjukkan wayang persembahan dalang Mardi Kenci yang tampil tunggal. Inilah wayang Tinglung yang slengean itu.

"Itu sebabnya, wayang yang dimainkan Mardi Kencik disebut wayang Tinglung. Dia tampil sendirian. Sama sekali nggak ada iringan gamelan dan nyanyian sinden. Tokoh-tokoh wayangnya sama dengan wayang umumnya, tapi lakonnya spontan, lebih bebas, dan lucu. Inilah  wayang slengean," Ujar Ariyanto, pegawai Badan Administrasi Umum (BAU)Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, yang menjemput Mardi dari Bantul untuk menghibur para pengungsi di Stadion Magguwoharjo itu.

Rekomendasi Untuk Anda

Menurut Ariyanto, wayang berlakon bebas dan mengetengahkan persoalan terkini, yang disampaikan dengan gaya slengean akan lebih menghibur daripada lakon wayang konvensional yang acap kali bikin dahi berkerut. "Pengungsi sudah lelah, jadi harus disuguhkan dengan yang lucu-lucu," ujarnya.

Acara itu, tambah Ariyanto, terselenggara karena sebelumnya adanya permintaan dari para pengungsi untuk nanggep wayang. Kemudian, Radio Republik Indonesia (RRI) dan UII Yogyakarta bekerja sama untuk memenuhi permintaan tersebut.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas