Korban Tsunami Mentawai Belum Tersentuh Bantuan
Warga Pulau Sipora, Mentawai, yang terkena dampak langsung tsunami, 25 Oktober lalu, belum semua mendapatkan bantuan.
Editor:
Juang Naibaho
TRIBUNNEWS.COM, MENTAWAI - Warga Pulau Sipora, Mentawai, Sumatera Barat, yang terkena dampak langsung tsunami, 25 Oktober lalu, belum semua mendapatkan bantuan. Akses transportasi sangat terbatas, harus melintasi lautan luas dengan gelombang ombak tinggi, membuat lembaga donor tidak sampai ke pulau ini. Kalaupun relawan sampai ke Sipora, mereka akan cepat kembali.
"Pulau Sipora sama sekali jauh dan sepi dari hiruk pikuk bantuan. Padahal kondisi kerusakannya sama saja dengan Sikakap," ujar Dokter Irene, relawan dari Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan Jakarta yang menghabiskan waktunya dua pekan lebih di Mentawai hingga pertengahan Desember 2010.
Menurutnya, kondisi alam dan keterbatasan akses komunikasi dan informasi lokal telah memaksa banyak relawan meninggalkan Mentawai dalam keadaaan tidak terurus. Hanya ada beberapa lembaga yang masih eksis membantu masyarakat korban. "Sedangkan korban Pulau Sikakap karena akses transportasi darat dan komunikasi cukup baik, warga di sini sangat banyak dibanjiri relawan dari berbagai macam lembaga," ujarnya.
Tsunami Mentawai yang terjadi menyusul gempa berkekuatan 7,2 SR melanda Pulau Pagai Selatan di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Senin (25/10) pukul 21:42:25 WIB. Tsunami Mentawai ini memang tidak sedahsyat tsunami yang pernah terjadi di Aceh beberapa tahun yang lalu. Meski demikian akibat Tsunami ini dilaporkan 456 orang tewas dan masih banyak yang belum ditemukan.
Para korban tsunami silam masih tinggal di pengungsian. Ratusan keluarga kini tinggal di tenda-tenda darurat, dengan atap dinding dan tikar terpal plastik, dalam kondisi serba kekurangan. Menurut Irene, data pada 14 Desember lalu, di kampung Panairuk ada 39 kepala keluarga (KK) yang masih tinggal di tenda-tenda darurat. Kemudian di Desa Bosua ada 139 KK, Desa Masokut 64 KK, dan 143 KK pengungsi dari dua kampung, yakni Purourourogat dan Asahan.
Dr Irene juga memperlihatkan foto-foto situasi dan kondisi memprihatinkan di lapangan. Di kampung Panairuk misalnya, yang dijumpai pertama adalah bekas rumah ibadah yang dihantam gempa tahun 2007. Walau masih ada beberapa rumah yang berpenghuni, sebagian rumah yang lain sudah ditinggalkan dalam keadaan rusak. Kebanyakan rumah-rumah itu bergeser sekitar lima sampai 10 meter dari posisi awal akibat hantaman tsunami.
Akses menuju lokasi pengungsian malalui jalan setapak berlumpur hampir setinggi lutut. Lokasi pengungsian terletak di atas bukit dengan jarak kira-kira 1 km dari kampung lama. Waktu empuh pejalan kaki hampir 30 menit
"Di Panairuk ada 39 KK yang tinggal di tenda-tenda darurat. Mereka sibuk membenahi hunian baru, terutama penyedian material kayu dan pembersihan bakal lokasi rumah. Kebutuhan untuk tanggap darurat sebenarnya sudah tidak mereka butuhkan lagi, selain kebutuhan medis dan penyembuhan trauma," ujar Irene, yang bekerja sama dengan JPIC (Justice, Peace, and Integration of Creation) Ordo Fratum Minorum Indonesia.(*)