Nekat...Warga Tengger Melarung Sesaji di Puncak Bromo
Ribuan warga Tengger dari Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, dan Malang, membanjiri puncak Gunung Bromo.
Editor:
Juang Naibaho
Secara bergiliran mereka mendaki puncak Bromo untuk melarung sesaji ke kawah sejak sekitar pukul 09.00 WIB. Sementara abu vulkanik gunung berapi itu terus menyembur. Abu gunung ini saat itu mengarah ke Probolinggo dan Lumajang. "Kami tak peduli. Kami yakin para leluhur melindungi jiwa kami," ungkap Sukardi, warga Tosari yang berada di kerumunan.
Mereka berangkat dari rumah secara perorangan dan rombongan. Di setiap pura di sepanjang perjalanan, mereka berhenti untuk bersembahyang. Tak pelak, terjadi kemacetan luar biasa di jalur dari arah Pasuruan, Tosari, hingga lautan pasir. Apalagi ada banyak bekas tanah longsor di Tosari. Upacara bersama di setiap desa atau kecamatan digelar berbarengan dengan di Pura Poten Leluhur di Lautan Pasir. Setelah selesai sembahyangan, semua jenis sesajen diarak dan dibawa ke kawah Bromo untuk dilarung.
Proses larung sesaji ini disertai dengan pembacaan doa sembari menyiramkan air suci yang diambil dari Sumber Air Gunung Widodaren (di dekat Gunung Bromo) dengan dibarengi bunyi klintingan menuju kawah.
"Sembahyangan Kuningan kali ini disertai larung sesaji untuk menjinakkan asap Bromo," ujar Sutrisno Sudigdi, tokoh masyarakat yang juga Ketua Koperasi Bromo Tengger Sejahtera. Saat upacara berlangsung, 160 unit Jeep Hardtop dan ratusan pikap dikerahkan untuk mengangkut penumpang dan perbekalan ke lautan pasir.(*)