Motor dari Diler Langsung jadi Pretelan
Pemalsuan data kerap dilakukan antara petugas dan calon konsumen yang akan mengkredit motor dengan uang muka murah.
Editor:
Iwan Apriansyah
“Ada semacam jaringan. ‘Orang lapangan’ seperti saya, pasti tahu hal tersebut. Mereka mengkredit kemudian menunggak. Saat sepeda motor ditarik, sudah dalam kondisi tidak utuh. Bahkan, ada yang ‘menghilang’ karena datanya palsu,” ujar mantan petugas survei kredit sepeda motor, Era (bukan nama sebenarnya).
Berbekal pernyataan Era, Tribun langsung melakukan penelusuran. Seorang anggota jaringan berhasil ditemui. Sebut saja Bravo.
Setelah dilakukan pendekatan selama beberapa hari, Bravo mulai terbuka. Meski tidak secara detail, dia mengungkapkan modus penggelapan sepeda motor kredit yang dilakukan kelompoknya.
“Awalnya kami mengontrak rumah, kemudian membikin KTP (kartu tanda penduduk) beralamat di rumah itu. Rumah itu kita sebut rumah pribadi. Juga membikin dokumen lain yang menjadi syarat kredit. Semua bisa dipalsukan,” katanya.
Setelah sepeda motor datang --biasanya tidak cuma satu unit karena mengkredit dari berbagai tempat-- mereka menjalankan kewajiban mengangsur selama satu hingga dua bulan untuk menanamkan kepercayaan.
Biasanya di bulan ketiga, aksi penggelapan mulai dilakukan. Mereka kabur ke daerah lain sambil membawa sepeda motor itu. Agar tidak ketahuan, sepeda motor itu dipreteli dan diubah bentuk fisiknya termasuk nomor kendaraan.
“Hasil pretelan seperti spion, mesin dan kenalpot asli kami jual ke tempat khusus. Sepeda motor patahan (sudah dipreteli) juga kami jual. Kalau jeli, di Banjarmasin, banyak sepeda motor patahan. Yang sedang ramai sepeda motor patahan jenis matic,” katanya.
Bravo mengaku sepeda motor patahan dijualnya dengan harga Rp 2 juta-Rp 3 juta per unit. Selain itu, dia bisa mendapat Rp 6 juta-Rp 8 juta dari penjualan barang-barang hasil mempreteli sepeda motor kreditan. “Hasilnya lumayan,” ucapnya. (bersambung)
Baca tanpa iklan