Asih Tak Mau Ikuti Jejak Tragis Mbah Mardijan
Dipercaya Keraton Ngayogyakarta menjadi juru kunci Merapi, Asihono atau Asih (44) bertekad melaksanakan tugas sebaik-baiknya
Editor:
Yulis Sulistyawan
TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Dipercaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi juru kunci atau Kuncen Gunung Merapi, Asihono atau Asih (44) bertekad melaksanakan tugas sebaik-baiknya.
Asih siap mengayomi warga lereng Merapi. Termasuk mengajak mereka untuk dievakuasi, saat gunung api teraktif di dunia tersebut menunjukkan gejala erupsi, seperti yang terjadi akhir tahun 2010 lalu.
"Saya akan melakukan komunikasi persuasif kepada warga, agar mereka bersedia dievakuasi. Dengan demikian, efek peristiwa erupsi kemarin (tahun 2010) dan sebelumnya tidak terulang lagi," kata putra ketiga almarhum Mbah Maridjan ini lirih, sesaat setelah diwisuda sebagai Pengirit Abdi Dalem Juru Kunci Gunung Merapi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Senin (4/4/2011), di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Asih mengaku telah diberi mandat oleh Ngarso Dalem Sri Sultan HB X agar intens berkomunikasi dengan pihak BPPTK untuk memantau kondisi Merapi. Ia juga diminta untuk bisa mengajak warga agar bersedia dievakuasi jika Merapi aktif lagi.
Staf Administrasi FMIPA UII Yogyakarta ini menguraikan, dirinya diharapkan bisa menjadi panutan masyarakat dalam tindak tanduk. Terlebih, ia dinilai memiliki tidak semata kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga budaya.
Dengan kata lain, dipilihnya Asih sebagai juru kunci Gunung Merapi karena merupakan sosok yang mampu menggabungkan kemampuan budaya dan ilmu pengetahuan, sebagai bentuk tuntutan mengikuti perkembangan zaman.
"Gusti Joyo (GBPH Joyokusumo), selaku wakil Keraton Yogyakarta, berkata kepada saya bahwa ia memerlukan Kuncen Merapi yang komit mampu memahami situasi alam dan mengenal ilmu dan teknologi," terang Asih.
Ditambahkan, sikap tersebut sebagai evaluasi yang terjadi pada peristiwa Mbah Maridjan, yang meninggal terkena awan panas. Karenanya, dengan menggabungkan budaya dan ilmu pengetahuan, kejadian tersebut tak terulang lagi.
"Kalau BPPTK mengatakan warga di sekitar Merapi harus turun, ya warga harus turun. Demikian pula dengan sang juru kunci," katanya.