Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Bayi Mati di Mulut Ayah Sendiri

Malang benar nasib Almira Safa Adinda. Bayi yang baru berusia 18 bulan itu tewas di tangan Mohamad Suryadi, ayahnya sendiri.

Bayi Mati di Mulut Ayah Sendiri
SURYA
KORBAN - Balita Almira Safa Adinda alias Rara yang tewas dianiaya ayahnya, Muhammad Suryadi (24), Kamis (14/4) malam. Foto: surya/adrianus adhi nugroho

Peristiwa ini terjadi di kamar kos pasangan suami istri (pasutri) Suryadi (24) dan Lusy Novita (29) di Jl Tubanan Lama No 20 Tandes, Surabaya, Kamis (14/4) malam. Hingga berita ini diturunkan, anggota Polsek Tandes masih memburu Suryadi yang memiliki rumah di kawasan Jetis Wetan I, Surabaya.

Penganiayaan yang mengakibatkan kematian Rara, dilakukan Suryadi sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu, Suryadi menyuruh Lusy yang dinikahinya secara siri dua tahun lalu, membeli nasi goreng.

Saat tak ada istri itulah, Suryadi yang sudah membenci anaknya itu melancarkan aksinya. “Saya tidak tahu pasti bagaimana dia membunuh Rara. Saya saat itu disuruh beli makanan,” ujar Lusy saat ditemui di Polsek Tandes, Jumat (15/4).

Sekitar 15 menit kemudian, Lusy kembali ke kamar kos. Dia mendapati pintu kamar diganjal Suryadi dengan kayu hingga dia tidak bisa masuk. Lusy berkali-kali menggedor pintu dan berteriak agar segera dibuka, namun Suryadi bergeming.

Pintu akhirnya dibuka. Lusy lantas menanyakan maksud Suryadi mengunci pintu. Belum sempat mendengar jawaban suami, Lusy akhirnya tahu alasan Suryadi mengunci pintu kos yang terbuat dari seng dan kayu itu. “Saya lihat Rara sudah dalam kondisi tak bergerak. Saya tanya ke suami kenapa Rara, dia malah menjawab tidak ada apa-apa,” katanya.

Lusy panik. Dia mengambil Rara dan menggendongnya. Beberapa kali Lusy menepuk tubuh Rara agar terbangun. “Ayo Rara, nangis nak. Ayo sayang,” katanya sambil memeragakan gerakan menggendong Rara.

Tepukan itu direspons Rara. Si bayi sempat menangis. Namun, tangisan itu hanya sebentar, Rara terdiam lagi. Bibir Rara juga terluka. Melihat anaknya sudah lemah, Lusy mengajak Suryadi ke rumah sakit (RS).

Bukannya ikut panik, Suryadi malah berujar agar Rara mati saja. “Wis gak usah nang rumah sakit, malah dadi rame. Ben anakmu iku mati wae. Arek manja wae dibelani (Sudah tak usah ke rumah sakit, nanti jadi ramai. Biar saja anakmu itu mati. Anak manja saja dibela),” hardik Suryadi ditirukan Lusy.

Setelah Lusy memohon, barulah Suryadi mau membawa anaknya ke RS Muji Rahayu di Manukan Kulon. Mereka diantar tetangga kos dengan mengendarai sepeda motor sekitar pukul 20.30 WIB.

Selama di perjalanan, Lusy tak henti menepuk tubuh Rara agar sadar. Namun, Rara tak merespon. Lusy curiga Rara sudah tidak bernyawa. Kecurigaan itu benar. Sesampai di RS, dokter menyatakan Rara sudah tak bernyawa.

Halaman
123
Editor: Gusti Sawabi
Sumber: Surya
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas