Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Dikira Kebal Bacok, Penjaga Malam Melawan 6 Perampok Bercelurit

Gara-gara memakai kaus merah, ia dianggap kebal oleh para rampok yang akhirnya batal menguras harta majikan Khodir, Ely Indahyani.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Gusti Sawabi

TRIBUNNEWS.COM -M Khodir mungkin bukan jawarayang punya ilmu kebal dari senjata tajam atau ledakan. Ia juga bukan seorang guru silat. Tapi, gara-gara memakai kaus merah, ia dianggap kebal oleh para rampok yang akhirnya batal menguras harta majikan Khodir, Ely Indahyani.

Ya,inilah kisah mendebarkan yang dialami Khodir (42), seorang penjaga malam atau biasa disebut waker yang berhasil menggagalkan aksi perampokan di rumah majikannya dan gudang mebel Indah Jaya, di Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Senin (18/7) dini hari.

Khodir berhasil menggagalkan aksi kejahatan tersebut lantaran dikira kebal oleh para perampok yang telah membacok tubuhnya sebanyak enam kali. Padahal, ia mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya.

Hanya saja darah yang keluar akibat luka itu tidak terlihat karena ia mengenakan kaus merah. Kini, Khodir dirawat intensif di RSU Kaliwates Jember.

Saat dikunjungi Surya kemarin, Khodir masih bisa menceritakan upaya perampokan yang dilakukan para pelaku yang terdiri dari enam orang tersebut.

“Saat itu saya sedang jaga di bagian depan rumah. Saya duduk di teras rumah. Rumah itu memang kosong karena juragan saya sedang menunggui anaknya yang opname di rumah sakit. Tiba-tiba saya melihat mereka,” ujar Khodir sembari menyebut saat itu jarum jam menunjukkan sekitar pukul 01.00 pagi.

Karena tidak mengenal keenam orang tersebut, apalagi sebagian memakai penutup wajah, Khodir langsung menghardik mereka. Para perampok yang tepergok tidak mau menyerah. Mereka langsung menyerang Khodir.

Rekomendasi Untuk Anda

“Saya memakai tangan kosong, sementara mereka membawa celurit,” tuturnya.

Dari sisi kekuatan fisik, Khodir jelas kalah. Meski begitu Khodir tidak menyerah. Ia nekat melawan enam orang itu.

Celurit para rampok itu akhirnya mendarat di kepala, siku, jari, juga bagian punggung, dan perut samping. “Saya terkena sabetan celurit mereka. Saya kemudian diinjak-injak. Ketika kewalahan, saya lepas sarung dan menyabet-nyabetkan sejadinya sarung itu ke arah mereka. Lha kok tiba-tiba saja mereka malah kabur,” ujarnya.

Khodir menduga para rampok itu mungkin mengiranya dirinya kebal senjata. Mungkin, karena mereka melihat dirinya tidak menyerah dan malah menyabetkan sarungnya.

Salah satu perampok malah berteriak ‘wurung..wurung… (batal, red)’ dan menyuruh teman-temannya kabur. “Mungkin mereka mengira saya kebal senjata, karena memang sekilas darah tidak terlihat mengucur karena saya pakai kaus warna merah. Belum lagi saya malah melepas sarung dan menyabetkan ke arah mereka, hingga akhirnya kabur. Padahal saya sudah berdarah-darah itu,” imbuhnya.

Duel antara waker dan perampok itu berlangsung selama 30 menit. Setelah perampok kabur, Khodir masih sempat meminta bantuan kepada teman-temannya yang bekerja di tempat itu.

Namun, di luar dugaan, ternyata empat orang pekerja lainnya telah disekap di bagian belakang rumah tersebut. Bahkan salah satunya, Mahmud, menderita luka cukup parah di bagian dagu dan bibir.

Karena tidak menemukan bantuan, Khodir pun berteriak sejadinya untuk mencari perhatian dari tetangga. Khodir dan Mahmud kemudian dilarikan ke RSU Kaliwates Jember.

Sejumlah luka di tubuh Khodir nampak diperban. Sementara jarum selang infus masih tertancap di tangannya. Kini kasus tersebut ditangani Polsek Jenggawah.

Sumber: Surya
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas