Massa Sudah Siapkan Bensin Bakar Kantor Bupati Bima
Suasana di sekitar kawasan Kantor Bupati Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) masih mencekam. Kepulan asap tebal masih membumbung tinggi ke angkasa
Penulis:
Anwar Sadat Guna
TRIBUNNEWS.COM, BIMA - Suasana di sekitar kawasan Kantor Bupati Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) masih mencekam. Kepulan asap tebal masih membumbung tinggi ke angkasa pascapembakaran Kantor Bupati Bima oleh massa, Kamis (26/1/2012).
Ratusan aparat kepolisian dari Polres Bima, Polda NTB, dan satu kompi Brimob Polda Jatim kini berada di lokasi kejadian.
Sementara itu, ribuan warga masih berada di sekitar lokasi kejadian pasca pembakaran kantor bupati. Sebagian massa lainnya berpencar dan menuju lokasia lain.
Aksi pembakaran Kantor Buati Bima berawal ketika puluhan ribu warga yang berasal dari tiga kecamatan di Bima, yakni Kecamatan Sampe, Lambu, dan Langkudu bersama mahasiswa menggelar unjuk rasa di depan Kantor Bupati Bima.
Massa kembali menuntut Bupati Bima Very Zulkarnaen mencabut izin operasi pertambangan di tiga kecamatan. Demo dimulai pukul 10.00 dan berakhir pukul 12.00 WIB.
Setelah bergantian berorasi, dan tak ada satu pun perwakilan bupati menerima pengunjuk rasa, tanpa dikomando ribuan massa langsung merangsek masuk ke kantor bupati dan membakar gedung berserta isinya.
Aparat kepolisian yang sebelumnya berada di lokasi kejadian tak mampu berbuat banyak karena tak mampu membendung ribuan massa yang masuk ke kantor bupati melakukan pembakaran.
"Jumlah massa yang turun aksi memang jumlah sangat banyak, mencapai puluhan ribu orang, sementara di lokasi saat itu jumlah hanya mencapai 100 atau 200 orang" ungkap Syamsuddin, ketua umum IMM Bima saat dihubungi melalui telepon, Kamis (26/1/2012).
Syamsuddin mengatakan, unjuk rasa kali ini memang merupakan puncak dari aksi-aksi demo sebelumnya untuk menuntut pencabutan SK Bupati Nomor 188 tentang izin operasi pertambangn di tiga kecamatan, Sampe, Lambu, dan Langkudu.
Setelah menggelar demo berjam-jam dan tak mendapat respon dari pejabat terkait, massa akhirnya menumpahkan kekecewaan dengan bertindak anarkis dengan membakar kantor bupati.
"Boleh dibilang ini adalah puncak kemarahan warga. Mereka kesal karena bupati tak kunjung mencabut SK tersebut," ujar Syamsuddin.
Saat berada di lokasi kejadian, Syamsuddin melihat massa sudah mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu terjadi benturan atau konflik dengan aparat.
Di tengah-tengah massa, pihaknya bahkan melihat warga ada yang menyiapkan bensin "Ada massa yang kami tak ketahui identitasnya juga membawa senjata tajam, jumlahnya cukup banyak," kata Syamsuddin.
Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Saat puluhan ribu massa berkumpul dan beruinjuk rasa depan kantor bupati, satu persatu seluruh pegawai di kantor tersebut meninggalkan kantor.
Hingga saat ini, belum diketahui apakah aparat kepolisian telah menagamankan pelaku pembakaran. Kapolres Bima yang coba dihubungi Tribun melalui telepon selulernya tak member jawaban.