Dikunjungi Tiga Profesor Kondisi Ismi Masih Memprihatinkan
Keadaan Ismi sungguh memprihatinkan. Ia menjadi buta dan tuli. Badannya lumpuh dan kakinya selalu menyilang
Editor:
Rachmat Hidayat
TRIBUNNEWS.COM,BANDUNG--Keadaan Ismi sungguh memprihatinkan. Ia menjadi buta dan tuli. Badannya lumpuh dan kakinya selalu menyilang. Tidak itu saja, ia lunglai seolah tak ada tulang penyangganya. Di dalam kepalanya ditanam slang dari otak ke lambung. Tentu saja slang itu tak terlihat karena tertanam dalam tubuhnya. Namun jika kita pegang di ujung kepalanya ada sedikit benjolan, tempat ditanamnya slang itu.
Satu-satunya cara Ismi berkomunikasi adalah menangis, hanya menangis. Ismi saat ini dirawat di Ruang Irene kelas 3. Secara bergantian gadis kecil itu dijaga oleh ayahnya, ibunya, dan kakak lelakinya, Izabul Sidqi, yang berusia 12 tahun. Ismi memiliki kembaran bernama Isma Apriani Nuraini, yang lahir sekitar 5 menit sebelum Ismi empat tahun silam.
"Anak saya yang sulung kelas 6 SD. Dia begitu sayang kepada adiknya. Setiap pulang sekolah sekitar jam 2 siang dia menjaga adiknya hingga pukul 9 malam," kata Ade sambil menggendong putrinya yang kerap menangis itu saat berkeluh kesan kepada tribun.
Sang ayah biasa menjaga Ismi setiap pagi sejak pukul 06.00 hingga kakaknya, Izabul Sidqi, datang. Sang kakak yang akrab disapa Raja itu dengan penuh kasih sayang mengasuh adik tercintanya. Ia menggendong atau membelai adiknya jika menangis.
Menurut Ade, ia tidak mau pulang dari Borromeus karena tetap menuntut keadilan dan kesembuhan bagi anaknya. Ia yakin anaknya akan sembuh. "Masa kondisi seperti ini oleh dokter di sini dibilang sembuh," katanya.
Ade pun mengatakan pada 26 Januari lalu Ismi pernah dikunjungi tiga profesor. Salah satunya Profesor Cissy. Setelah melihat kondisi Isni, mereka menyatakan ada kemungkinan sembuh.
Tagihan Terus Membengkak
Diceritakan Ade, ia sebenarnya telah "diusir" dari Borromeus sejak lama. Pihak Borromeus sudah bersedia membebaskan seluruh biaya pengobatan Ismi yang mencapai Rp 300 juta lebih setelah ia menuntut pihak RS lewat jalur hukum dan diekspos media. Namun Ade terus bertahan karena setelah Ismi keluar dari RS, bagaimana dengan pengobatan selanjutnya?
"Pada 15 November 2011 melalui tim biro hukum dan humas memperbolehkan Ismi pulang, tapi itu sebetulnya saya diusir," tegas Ade.
Sejak Oktober 2011 pula Ismi sudah tidak lagi mendapat kunjungan dari dokter anak yang pertama kali menangani Ismi dan melakukan operasi terhadap Ismi pada 26 September 2009. Ismi datang ke Borromeus dalam keadaan panas dan kejang. Tiga hari setelah itu Ismi dioperasi kepala karena panas tak kunjung turun.
Saat ini Ismi menerima fasilitas di kelas 3 Ruang Irene berupa makan minum dan pada Selasa lalu giginya sempat ditambal oleh dokter gigi anak. Fasilitas di ruang kelas 3 ini cukup baik karena memiliki fasilitas AC, televisi, dan kamar mandi air panas dan dingin. Ismi tinggal bersama lima orang anak lainnya yang silih berganti masuk-keluar perawatan.
Saat masuk perawatan Ade telah membayar uang muka Rp 10.500.000. Tagihan per 4 Februari 2012 telah menjadi Rp 292.942.600. Jumlah tersebut adalah dari total honor dokter dan perawatan sebesar Rp 303.442.600 dikurangi uang muka Rp 10.500.000. Tentu saja jumlah tersebut pasti akan terus membengkak karena untuk biaya kamar saja di kelas 3 Ruang Irene itu Rp 150.000 per malam.
Ade mengaku hidup akan lebih berat apalagi seiring akan naiknya BBM nanti. Namun ia tetap tidak akan menyerah atas nasib yang menimpa putrinya itu.
Ismi, kini masih bertahan di Rumah Sakit Borromeus, Bandung Jawa Barat. Terhitung 1 April, anak pasangan Ade Zulherman (41) dan Ira Atmirawati (34), sudah dua tahun setengah masih menjalani perawatan sejak 26 Oktober 2009 lalu. Kasus ini sempat menghiasi sejumlah media di Jawa Barat tahun 2010 dan 2011, yang berujung pada gugatan perdata oleh Ade-Ira terhadap RS Borromeus sebesar Rp 10 miliar.